Soal untuk kelas X


Tulis soal dan jawaban pada kertas HVS
A. Jawablah pertanyaan dibawah ini!

1. Peristiwa hijrahnya kaum muslimin dari Makkah ke Madinah terjadi karena ….
A. Agama Islam tidak berkembang di kota Makkah
B. Tindakan kekerasa musyrikin Quraiys terhadap kaum muslimin Makkah
C. Keinginan kaum muslimin Makkah
D. Keinginan kaum muslimin Madinah
E. Kota Yatsrin tempat yang aman bagi kaum muslimin
2. Setelah kaum muslimin hijrah ke Yatsrib baru kemudian Rasulullah SAW menyusul kemudian, untuk mengelabuhi musuh sebelum berangkat ke Madinah Rasul SAW bersembunyi di ….
A. Gua Hiro’
B. Gua Tsur
C. Rumah Ali bin Abi Thalib
D. Jabal Rahmah
E. Rumah Abu Bakar
3. Setelah menempuh perjalanan jauh dan amat panas akhirnya Rasulullah SAW singgah di Quba sebelum kota Yatsrib pada hari senin, tanggal …..
A. 8 Dzulhijjah tahun ke- 1 H
B. 9 Dzulhijjah tahun ke- 1 H
C. 10 Dzulhijjah tahun ke- 1 H
D. 8 Rabu’ul awal tahun ke- 1 H
E. 9 Rabu’ul awal tahun ke- 1 H
4. Masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah SAW pada waktu hijrah adalah ….
A. Masjid Nabawi
B. Masjidil Haram
C. Masjid Quba
D. Masjidil Aqsa
E. Masjid Madinah
5. Kedatangan Rasulullah SAW disambut dengan hangat penuh kerinduan oleh kaum muslimin di Yatsrib, dan sejak kedatangan beliau kota Yatsrib berubah namanya menjadi ….
A. Kota Madinah
B. Madinatur Rasul
C. Madinah Al-Munawaroh
D. Madinatun Nabi
E. Semua jawaban benar
6. Dalam membina masyarakat Islam di Madinah usaha pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah ….
A. Mendirikan Masjid
B. Mendirikan baitul maal
C. Membangun rumah
D. Menyusun strategi perang
E. Membuat dasar-dasar pemerintahan
7. Untuk mempererat hubungan kaum Muhajirin dan Ansor maka Rasulullah SAW melakukan strategi …..
A. memperluas wilayah
B. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansor
C. Mendirikan tempat usaha
D. Mendirikan Madrasah
E. Mendirikan monument persaudaraan
8. Guna menciptakan suasana tentram di kota Madinah, Rasulullah SAW membuat perjanjian persahabatan dan perdamaina dengan kaum Yahudi yang kemudian di kenal dengan nama ….
A. Haji Wada’
B. Perjanjian Hudaibiyah
C. Piagam Madinah
D. Piagam perdamaian
E. Asbabun Nuzul
9. Tersebut di bawah ini adalah merupakan cirri-ciri ayat Al-Qur’an yang turun di Madinah :
A. Berisi tentang Tauhid
B. Ayatnya pendek-pendek
C. Dimulai dengan Ya-ayyuhannas
D. Sebagian besar berisi tentang hubungan kemasyarakatan
E. Mengajarkan tentang ke Esaan Allah
10. Orang-orang Yahudi di Madinah di usir oleh kaum muslimin pada waktu itu, karena ….
A. mereka sedikit jumlahnya
B. mereka mengingkari perjanjian
C. mereka tidak mempercayai Rasul SAW
D. sebagian dari mereka orang-orang munafik
E. tidak mau menyembah kepada Allah SWT
11. Perang yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin terhadap kaum musyrikin quraiys adalah ….
A. perang Badar
B. perang Uhud
C. perang Ahzab
D. perang Khandaq
E. perang Mu’tah
12. Tersebut di bawah ini adalah sahabat Rasulullah SAW yang gugur sebagai syuhada’ dalam perang uhud:
A. Abu Bakar
B. Umar bin Khattab
C. Hamzah bin Abdul Muthalib
D. Ali bin Abi Thalib
E. Usman bin Affan
13. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 H, dalam Al-Qur’an peristiwa ini disebut dengan Yaumul Furqon yang artinya :
A. hari berkabung
B. hari kemenangan
C. hari turunnya rahmat
D. hari yang agung
E. hari pemisah antara yang hak dan yang bathil
14. Perang yang menggunakan parit untuk pertahanan kaum muslimin di Madinah dikenal dengan nama ….
A. perang Uhud
B. perang Khandaq
C. perang Ahzab
D. perang Mu’tah
E. perang parit
15. Para peristiwa khotbah A-Wada’i Rasulullah SAW menyampaikan khotbah, yang kemudian dikenal dengan haji Wada’. Hal ini terjadi pada tahun :
A. 8 H
B. 9 H
C. 10 H
D. 11 H
E. 12 H

B. Diskusikan dengan temanmu kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Baiah Al-Aqobah Ats-Tsaniyah?
2. Usaha-usaha apakah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam membina masyarakat Islam di Madinah? Jelaskan.
3. Mengapa Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansor dalam membina masyarakat Islam di Madinah? Berikan alasanmu.
4. Jelaskan salah satu isi Piagam Madinah dan dampak politisnya bagi umat Islam?
5. Orang-orang Yahudi di Madinah meyakini akan datangnya Rasul terakhir sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci mereka! Bagaimana tanggapan mereka setelah datangnya Rasulullah SAW?
6. Mengapa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa di usir dari Madinah oleh kaum muslimin? Jelaskan.
7. Jelaskan faktor-faktor yang menyebakan kaum muslimin memperoleh kemenangan dalam perang Badar tanggal 17 Ramadhan 2 H?
8. Sebutkan dampak politik bagi umat Islam setelah terjadinya perjanjian Hudaibiyah?
9. Apa yang menyebabkan terjadinya perang Khandak
10. Perubahan apakah yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW terhadap bangsa Arab dan kaum muslimin?

Tugas untuk kelas X SMAN 8 Kota Tangerang


1.Bacalah sejarah perjuangan Rasulullah SAW pada priode Madinah, setelah itu jawablah pertanyaan dibawah ini dalam kertas HVS
a. Buatkan rangkuman apa yang telah anda baca dari sejarah Rasulullah SAW !
b. Apa kunci sukses perjuangan Rasulullah di Madinah !
c. Tuliskan pendapat orientalis terhadap pribadi Rasulullah SAW !
d. Tuliskan pendapat kalian terhadap perjuangan Rasulullah di Madinah.
Referensi
Buku Paket
Internet
Buku lainnya yang relevan

ASPEK-ASPEK ETOS KERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


 

 

 

Isu tentang pentingnya meningkatkan etos (etika) kerja pada organisasi pemerintah dan swasta semakin mencuat akhir-akhir ini. Hal itu disebabkan semakin disadarinya pentingnya pemahaman etos kerja sebagai solusi untuk memecahkan masalah, terutama yang terkait dengan moral hazard di tempat kerja.

 

Artikel ini mencoba untuk menjawab apa yang dimaksud tentang etos kerja, aspek dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terwujudnya etos kerja di sebuah organisasi.

 

 

 

Pengertian Etos Kerja

 

 

 

Menurut K. Bertens (1994), secara etimologis istilah etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tempat hidup”. Mula-mula tempat hidup dimaknai sebagai adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos berevolusi dan berubah makna menjadi semakin kompleks. Dari kata yang sama muncul pula istilah ethikos yang berarti “teori kehidupan”, yang kemudian menjadi “etika”.

 

Dalam bahasa Inggris, etos dapat diterjemahkan menjadi beberapa pengertian antara lain starting point, to appear, disposition hingga disimpulkan sebagai character. Dalam bahasa Indonesia kita dapat menterjemahkannya sebagai “sifat dasar”, “pemunculan” atau “disposisi (watak)”.

 

Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Etos adalah keyakinan yang menuntun seseorang, kelompok atau suatu institusi.

 

Sedangkan dalam The American Heritage Dictionary of English Language, etos diartikan dalam dua pemaknaan, yaitu:

 

  1. The disposition, character, or attitude peculiar to a specific people, culture or a group that distinguishes it from other peoples or group, fundamental values or spirit, mores. Disposisi, karakter, atau sikap khusus orang, budaya atau kelompok yang membedakannya dari orang atau kelompok lain, nilai atau jiwa yang mendasari, adat-istiadat.
  2. The governing or central principles in a movement, work of art, mode of expression, or the like. Prinsip utama atau pengendali dalam suatu pergerakan, pekerjaan seni, bentuk ekspresi, atau sejenisnya.

 

Dari sini dapat kita peroleh pengertian bahwa etos merupakan seperangkat pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang secara mendasar mempengaruhi kehidupan, menjadi prinsip-prinsip pergerakan, dan cara berekspresi yang khas pada sekelompok orang dengan budaya serta keyakinan yang sama.

 

Menurut Anoraga (2009), etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. Bila individu-individu dalam komunitas memandang kerja sebagai suatu hal yang luhur bagi eksistensi manusia, maka etos kerjanya akan cenderung tinggi. Sebaliknya sikap dan pandangan terhadap kerja sebagai sesuatu yang bernilai rendah bagi kehidupan, maka etos kerja dengan sendirinya akan rendah.

 

Menurut Sinamo (2005), etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja, mempercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. Itulah yang akan menjadi budaya kerja.

 

Sinamo (2005) juga memandang bahwa etos kerja merupakan fondasi dari sukses yang sejati dan otentik. Pandangan ini dipengaruhi oleh kajiannya terhadap studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan penulisan-penulisan manajemen dua puluh tahun belakangan ini yang semuanya bermuara pada satu kesimpulan utama bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja. Sinamo lebih memilih menggunakan istilah etos karena menemukan bahwa kata etos mengandung pengertian tidak saja sebagai perilaku khas dari sebuah organisasi atau komunitas, tetapi juga mencakup motivasi yang menggerakkan mereka, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, dan standar-standar.

 

Melalui berbagai pengertian diatas baik secara etimologis maupun praktis dapat disimpulkan bahwa etos kerja merupakan seperangkat sikap atau pandangan mendasar yang dipegang sekelompok manusia untuk menilai bekerja sebagai suatu hal yang positif bagi peningkatan kualitas kehidupan, sehingga mempengaruhi perilaku kerjanya.

 

 

 

Aspek-Aspek Etos (Etika) Kerja

 

 

 

Menurut Sinamo (2005), setiap manusia memiliki spirit (roh) keberhasilan, yaitu motivasi murni untuk meraih dan menikmati keberhasilan. Roh inilah yang menjelma menjadi perilaku yang khas seperti kerja keras, disiplin, teliti, tekun, integritas, rasional, bertanggung jawab dan sebagainya. Lalu perilaku yang khas ini berproses menjadi kerja yang positif, kreatif dan produktif.

 

Dari ratusan teori sukses yang beredar di masyarakat sekarang ini, Sinamo (2005)  menyederhanakannya menjadi empat pilar teori utama. Keempat pilar inilah yang sesungguhnya bertanggung jawab menopang semua jenis dan sistem keberhasilan yang berkelanjutan (sustainable success system) pada semua tingkatan. Keempat elemen itu lalu dikonstruksikan dalam sebuah konsep besar yang disebutnya sebagai Catur Dharma Mahardika (bahasa Sansekerta) yang berarti Empat Darma Keberhasilan Utama, yaitu:

 

  1. Mencetak prestasi dengan motivasi superior.
  2. Membangun masa depan dengan kepemimpinan visioner.
  3. Menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif.
  4. Meningkatkan mutu dengan keunggulan insani.

 

Keempat darma ini kemudian dirumuskan menjadi delapan aspek etos kerja sebagai berikut:

 

  1. Kerja adalah rahmat. Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.
  2. Kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
  3. Kerja adalah panggilan. Kerja merupakan suatu darma yang sesuai dengan panggilan jiwa sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. Jadi, jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!”. Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.
  4. Kerja adalah aktualisasi. Pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat. Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung tanpa pekerjaan.
  5. Kerja adalah ibadah. Bekerja merupakan bentuk bakti dan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga melalui pekerjaan manusia mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
  6. Kerja adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan perasaan senang seperti halnya melakukan hobi. Sinamo mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.
  7. Kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Sinamo mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
  8. Kerja adalah pelayanan. Manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercusuar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

 

Anoraga (2009) juga memaparkan secara eksplisit beberapa sikap yang seharusnya mendasari seseorang dalam memberi nilai pada kerja, yang disimpulkan sebagai berikut:

 

1.   Bekerja adalah hakikat kehidupan manusia.

 

2.   Bekerja adalah suatu berkat Tuhan.

 

3.   Bekerja merupakan sumber penghasilan yang halal dan tidak amoral.

 

4.   Bekerja merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan berbakti.

 

5.   Bekerja merupakan sarana pelayanan dan perwujudan kasih

 

Dalam tulisannya, Kusnan (2004) menyimpulkan pemahaman bahwa etos kerja mencerminkan suatu sikap yang memiliki dua alternatif, positif dan negatif. Suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan memiliki etos kerja yang tinggi apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

 

1.   Mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia,

 

2.   Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat luhur bagi eksistensi manusia,

 

3.   Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia,

 

4.   Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita,

 

5.   Kerja dilakukan sebagai bentuk ibadah.

 

Bagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki etos kerja yang rendah, maka akan ditunjukkan ciri-ciri yang sebaliknya (Kusnan, 2004), yaitu :

 

1.   Kerja dirasakan sebagai suatu hal yang membebani diri,

 

2.   Kurang dan bahkan tidak menghargai hasil kerja manusia,

 

3.   Kerja dipandang sebagai suatu penghambat dalam memperoleh kesenangan,

 

4.   Kerja dilakukan sebagai bentuk keterpaksaan,

 

5.   Kerja dihayati hanya sebagai bentuk rutinitas hidup.

 

Dari berbagai aspek yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki etos kerja tinggi akan terus berusaha untuk memperbaiki dirinya, sehingga nilai pekerjaannya bukan hanya bersifat produktif materialistik tapi juga melibatkan kepuasaan spiritualitas dan emosional.

 

 

 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Etos Kerja

 

 

 

Etos (etika) kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

 

  1. Agama

 

Dasar pengkajian kembali makna etos kerja di Eropa diawali oleh buah pikiran Max Weber.Salah satu unsur dasar dari kebudayaan modern, yaitu rasionalitas (rationality) menurut Weber (1958) lahir dari etika Protestan. Pada dasarnya agama merupakan suatu sistem nilai. Sistem nilai ini tentunya akan mempengaruhi atau menentukan pola hidup para penganutnya. Cara berpikir, bersikap dan bertindak seseorang pastilah diwarnai oleh ajaran agama yang dianutnya jika ia sungguh-sungguh dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, kalau ajaran agama itu mengandung nilai-nilai yang dapat memacu pembangunan, jelaslah bahwa agama akan turut menentukan jalannya pembangunan atau modernisasi.

 

Weber memperlihatkan bahwa doktrin predestinasi dalam protestanisme mampu melahirkan etos berpikir rasional, berdisiplin tinggi, bekerja tekun sistematik, berorientasi sukses (material), tidak mengumbar kesenangan –namun hemat dan bersahaja (asketik), dan suka menabung serta berinvestasi, yang akhirnya menjadi titik tolak berkembangnya kapitalisme di dunia modern.

 

Sejak Weber menelurkan karya tulis The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958), berbagai studi tentang etos kerja berbasis agama sudah banyak dilakukan dengan hasil yang secara umum mengkonfirmasikan adanya korelasi positif antara sebuah sistem kepercayaan tertentu dengan kemajuan ekonomi, kemakmuran, dan modernitas (Sinamo, 2005).

 

  1. Budaya

 

Luthans (2006) mengatakan bahwa sikap mental, tekad, disiplin dan semangat kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya. Kemudian etos budaya ini secara operasional juga disebut sebagai etos kerja. Kualitas etos kerja ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah, bahkan bisa sama sekali tidak memiliki etos kerja.

 

  1. Sosial politik

 

Menurut Siagian (1995), tinggi atau rendahnya etos kerja suatu masyarakat dipengaruhi juga oleh ada atau tidaknya struktur politik yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan penuh.

 

  1. Kondisi lingkungan (geografis)

 

Siagian(1995)  juga menemukan adanya indikasi bahwa etos kerja dapat muncul dikarenakan faktor kondisi geografis. Lingkungan alam yang mendukung mempengaruhi manusia yang berada di dalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat, dan bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut.

 

  1. Pendidikan

 

Etos kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja keras. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian dan keterampilan, sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi (Bertens, 1994).

 

  1. Motivasi intrinsik individu

 

Anoraga (2009) mengatakan bahwa individu memiliki etos kerja yang tinggi adalah individu yang bermotivasi tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap, yang tentunya didasari oleh nilai-nilai yang diyakini seseorang. Keyakinan ini menjadi suatu motivasi kerja, yang mempengaruhi juga etos kerja seseorang.

 

Menurut Herzberg (dalam Siagian, 1995), motivasi yang sesungguhnya bukan bersumber dari luar diri, tetapi yang tertanam (terinternalisasi) dalam diri sendiri, yang sering disebut dengan motivasi intrinsik. Ia membagi faktor pendorong manusia untuk melakukan kerja ke dalam dua faktor yaitu faktor hygiene dan faktor motivator. Faktor hygiene merupakan faktor dalam kerja yang hanya akan berpengaruh bila ia tidak ada, yang akan menyebabkan ketidakpuasan. Ketidakhadiran faktor ini dapat mencegah timbulnya motivasi, tetapi ia tidak menyebabkan munculnya motivasi. Faktor ini disebut juga faktor ekstrinsik, yang termasuk diantaranya yaitu gaji, status, keamanan kerja, kondisi kerja, kebijaksanaan organisasi, hubungan dengan rekan kerja, dan supervisi. Ketika sebuah organisasi menargetkan kinerja yang lebih tinggi, tentunya organisasi tersebut perlu memastikan terlebih dahulu bahwa faktor hygiene tidak menjadi penghalang dalam upaya menghadirkan motivasi ekstrinsik.

 

Faktor yang kedua adalah faktor motivator sesungguhnya, yang mana ketiadaannya bukan berarti ketidakpuasan, tetapi kehadirannya menimbulkan rasa puas sebagai manusia. Faktor ini disebut juga faktor intrinsik dalam pekerjaan yang meliputi pencapaian sukses (achievement), pengakuan (recognition), kemungkinan untuk meningkat dalam karier (advancement), tanggungjawab (responsibility), kemungkinan berkembang (growth possibilities), dan pekerjaan itu sendiri (the work itself). Hal-hal ini sangat diperlukan dalam meningkatkan performa kerja dan menggerakkan pegawai hingga mencapai performa yang tertinggi.

 

Dengan memahami apa itu etos kerja, serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan etos kerja serta faktor-faktor yang mempengaruhinya diharapkan sebuah organisasi (termasuk organisasi Kementerian Keuangan) akan meningkat produktifitas dan profesionalitas kerjanya.

 

Indonesia sangat membutuhkan peningkatan etos kerja di semua lini organisasi pemerintahan dan swasta, sehingga di masa depan dapat terwujud bangsa Indonesia yang maju dan disegani masyarakat internasional.

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Bacaan :

 

 

 

Lubis, Satria Hadi. 2011. Bahan Ajar Etika Profesi PNS. STAN, Tangsel.

 

 

 

Bertens, K. 1994. Etika.Gramedia, Jakarta.

 

 

 

Sinamo, Jansen. 2005. Delapan Etos Kerja Profesional: Navigator Anda Menuju Sukses. Grafika Mardi Yuana, Bogor.

 

 

 

Anoraga, Pandji. 2009. Manajemen Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta.

 

 

 

Kusnan, Ahmad. 2004. Analisis Sikap, Iklim Organisasi, Etos Kerja dan Disiplin Kerja dalam menentukan Efektifitas Kinerja Organisasi di Garnisun Tetap III Surabaya. Tesis. Universitas Airlangga, Surabaya.

 

 

 

Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi. Andi, Yogyakarta.

 

 

 

Siagian, Prof. Dr. Sondang P.1995. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta.

 

 

 

http://www.stan.ac.id/kategori/index/9/page/aspek-aspek-etos-kerja-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhinya 

Makanan yang halal


Dalam hadits arbain imam Nawawi menukil sebuah hadits yang layak kita renungkan. Rasulullah telah bersabda bahwa yang ada seseorang yang berdo’a kepada Allah dalam keadaan yang sangat memelas, pakaiannya kusut, rambutnya kusut, begitu khusunya ia berdo’a kepada Allah. Tapi jangan pernah berharap do’anya diterima kalau dalam dirinya ada daging yang tumbuh dari barang haram.
Rasulullah juga telah bersabda bahwa harta yang kita dapatkan pada saat ini, Allah akan tanyakan darimana harta itu kita dapatkan, dengan cara apa kita dapatkan harta itu, dan dipergunakan untuk apa harta itu.
ketiga-tiga harus halal atau baik, jangan sampai salah satunya haram, maka akan haramlah semuanya. Oleh sebab itu, tidak kita tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengambil harta dengan cara yang tidak baik. Karena pada akhirnya harta itu akan menjadi beban kita.

KI dan KD PAI


Rumusan KI dan KD

PAI SMAN 8 KOTA TANGERANG

 

Kelas X

 

Kompetensi Inti

Kompetensi Dasar Penyempurnaan 03 Mei 2013 (Hotel Allson)

1.      Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

 

1.1  Menghayati nilai-nilai keimanan kepada Malaikat-malaikat Allah SWT

1.2  Berpegang teguh kepada Al-Quran, Hadits dan Ijtihad sebagai pedoman hidup

1.3  Meyakini kebenaran hukum Islam

1.4  Berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari

2.      Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

 

2.1  Menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Maidah (5): 8, dan Q.S. At-Taubah (9): 119 dan hadits terkait

2.2  Menunjukkan perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Isra (17): 23 dan hadits terkait

2.3  Menunjukkan perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan), dan persaudaraan (ukhuwah) sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Anfal (8): 72; Q.S. Al-Hujurat (49): 12 dan 10 serta hadits yang terkait

2.4  Menunjukkan perilaku menghindarkan diri dari pergaulan bebas dan perbuatan zina sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Isra’ (17): 32, dan Q.S. An-Nur (24):  2, serta hadits yang terkait

2.5  Menunjukkan sikap semangat menuntut ilmu dan menyampaikannya kepada sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. At-Taubah (9): 122 dan hadits terkait

2.6  Menunjukkan sikap keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakkal dan perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

2.7  Menunjukkan sikap tangguh dan semangat menegakkan kebenaran sebagai implementasi dari pemahaman strategi dakwah Nabi di Mekah

2.8  Menunjukkan sikap semangat ukhuwah sebagai implementasi dari pemahaman strategi dakwah Nabi di Madinah

3.      Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

3.1         Menganalisis  Q.S. Al-Anfal (8) : 72); Q.S. Al-Hujurat (49) : 12; dan QS Al-Hujurat (49) : 10; serta hadits tentang kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan), dan persaudaraan (ukhuwah)

3.2         Memahami manfaat dan hikmah kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan (ukhuwah), dan menerapkannya dalam kehidupan

3.3         Menganalisis  Q.S. Al-Isra’ (17) : 32, dan Q.S. An-Nur (24) : 2, serta hadits tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.

3.4         Memahami manfaat dan hikmah larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.

3.5         Memahami makna Asmaul Husna: al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir;

3.6         Memahami makna beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT

3.7         Memahami Q.S. At-Taubah (9): 122 dan hadits terkait tentang semangat menuntut ilmu, menerapkan dan menyampaikannya kepada sesama;

3.8         Memahami kedudukan Alquran, Hadits, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam

3.9         Memahami pengelolaan wakaf

3.10.1.  Memahami substansi dan strategi dakwah Rasullullah saw. di Mekah

3.10.2.  Memahami substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah

4        Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

4.1.1   Membaca Q.S. Al-Anfal (8): 72); Q.S. Al-Hujurat (49): 12; dan Q.S. Al-Hujurat (49) : 10, sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.

4.1.2   Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Al-Anfal (8) : 72); Q.S. Al-Hujurat (49) : 12; QS Al-Hujurat (49) : 10 dengan lancar.

4.2.1   Membaca Q.S. Al-Isra’ (17): 32, dan Q.S. An-Nur (24): 2 sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.

4.2.2   Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Al-Isra’ (17) : 32, dan Q.S. An-Nur (24): 2 dengan lancar.

4.3         Berperilaku yang mencontohkan keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakal dan perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman makna Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

4.4         Berperilaku yang mencerminkan kesadaran beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT

4.5         Menceritakan tokoh-tokoh teladan dalam semangat mencari ilmu

4.6         Menyajikan macam-macam sumber hukum Islam

4.7.1   Menyajikan dalil tentang ketentuan wakaf

4.7.2   Menyajikan pengelolaan wakaf

4.8.1   Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasullullah SAW di Mekah

4.8.2   Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW di Madinah

 


Pembinaan Keluarga

Badrudin[1]

A.    Surat Lukman ayat 18 dan 19

Ÿ  

18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

 

B.     Pembinaan Keluarga

Keluarga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Keluarga dalam arti sempit disebut keluarga batih yang menurut (KBBI) yakni keluarga yang hanya terdiri dari suami, isteri dan anak.[2] Adapun dalam kamus berbahasa arab kata keluarga berasal dari kata                             artinya keluarga.[3]

Selanjutnya pada kata pembinaan yang dalam (KBBI) yakni usaha, tindakan dan kegiatan yang dialakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.[4]

Keluarga, atau katakanlah unit terkecil dari keluarga adalah suami dan isteri, atau ayah, ibu dan anak, yang bernaung dibawah satu rumah tangga. Unit ini memerlukan pimpinan, dan dalam pandangan Al-Qur’an yang wajar meminpin adalah bapak.[5]

  1. Asbabun Nuzul Surat Luqman

Asbabun nuzul surat ini adalah bahwa orang- orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, tentang kisah luqman beserta anaknya, dan ketaatannya kepada kedua ibu bapaknya, maka turunlah surat ini.[6]

Kaitan surat Luqman dengan surat sebelumnya :

  1. Sesungguhnya di dalam surat yang lalu Allah SWT, telah berfirman :


 

58. dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.”( Arum : 58 )

            Kemudian di dalam surat Luqman ini Allah SWT, mengisyaratkan pula hal tersebut melalui pembukaannya. Dan di dalam surat ini Allah telah berfirman :


 

7. dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami Dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah Dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih.( Luqman : 7 )

            2. Dalam surat Arum Allah berfirman  :


 

27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( Arum : 27)

            Sedangkan di dalam surat Luqman Allah SWT telah berfirman :


 

28. tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.(Luqman : 28

            Pengertian yang terkandung di dalam kedua ayat tersebut, menunjukkan bahwa pembangkitan itu amatlah mudah bagi-Nya.

            4. Sesungguhnya di dalam surat yang telah lalu Allah SWT, menyebutkan kisah kedua kerajaan besar yang saling menyerang dia antara keduanya karena demi memperebutkan masalah duniawi. Maka dalam surat luqman ini Allah menyebutkan tentang kisah seorang hamba sahaya yang menjauhi keduniaan  dan tentang wsiatnya kepada anaknya supaya bersabar dan cinta damai, yang hal ini jelas mempunyai pengertian yang bertentangan dengan peperangan.[7]

            D. Kandungan Ayat

            Nasihat Luqman kali ini berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesame manusia. Materi pelajaran akidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga umtuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak adapat dipisahkan.[8]

            Dan sesudah Luqman mewasiati anaknya dengan berbagai hal, kemudian ia mengingatkan anaknya akan hal-hal lainya, yaitu sebagaimana disebutkan oleh firman-Nya :

            Janganlah kamu memalingkan mukamu terhadap orang-orang yang kamu berbicara dengannya, karena sombong dan meremehkannya. Akan tetapi hadapilah dia dengan muka yang berseri-seri dan gembira, tanpa rasa sombong dan tinggi diri.

            Ini sesuai dengan hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Malik melalui Ibnu Syihab bersumberkan dari Anas Ibnu Malik “ Janganlah kalian saling membenci, jangan pula saling bermusuhan, dan janganlah kalian saling mendengki, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim mengsingkan saudaranya lebih dari tiga hari”.[9]

            Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh dan menyombongkan diri, karena se3sungguhnya hal itu adalah cara jalan orang-orang yang angkara murka dan sombong, yaitu mereka yang gemar melakukan kekejaman di muka bumi dan suka berbuat zalim terhadap orang lain.  Akan tetapi berjalanlah dengan sikap sederhana karena sesungguhnya cara jalan yang demikian mencerminkan rasa rendah diri, sehingga pelakunya akan sampai kepada semua kebaikan.

            Yahya ibnu Jabir At-Tai,y telah meriwayatkan sebuah asar melalui Gudaif ibnul Harits yang telah menceritakan,” pada suatu hari aku duduk di majlis Abdullah ibnu Amr ibnu Ash, kemudian aku mendengar ia mengatakan,”sesungguhnya kuburan itu berkata kepada seorang hamba apabila ia dikubur didalamnya, “ hai anak Adam, apakah gerangan yang membuatmu lalai kepadaku?. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku adalah rumah tewrasing? Dan tidakkah kau tahu bahwa aku rumah haq? Hai anak Adam apakah gerangan yang membuat kamu lalai kepadaku? Sesungguhnya kamu dahulu berjalan di sekitarku dengan sikap yamg angkuh dan sombong!.

            Dan berjalanlah dengan sikap sederhana, yakni tidak terlalu lambat dan juga tidak terlalu cepat, akan tetapi berjalanlah dengan wajar tanpa dibuat-buat dan juga tanpa pamer menonjolkan sikap rendah diri atau sikap tawadhu.

            Siti Aisyah ra. Telah meriwayatkan, bahwa ia melihat seorang laki-laki yang hamper mati karena terlalu merendahkan diri. Lalu ia berkata apakah gerangan yang telah terjadi pada dirinya?. Maka ia menjawab, bahwa ia adalah termsuk ahli qurra (ahli fiqih yang alim tentang kitabullah). Maka siti Aisyah menjawab, umar adalah pemimpin ahli qurra, dan adalah ia apabila berjalan langkahnya cepat, dan apabila berkata suaranya keras dan berpengaruh, dan apabila memukul, maka sakitnya bukan main.

            Kurangilah tingkat kekerasan suaramu, dan perpendek cara bicaramu, janganlah kamu mengangkat suaramu bilamana tidak diperlukan sekali. Karena sesungguhnya sikap demikian itu lebih berwibawa bagi yang melakukanya, dan lebih mudah diterima oleh jiwa pendengarnya serta lebih gampang untuk dimengerti.

E.Pentingnya Pendidikan Akhlak

1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dengan kata lain pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan hidup.[10]

Berdasarkan pengertian di atas menunjukkan bahwa pendidikan itu mempunyai beberapa karakteristik khusus, menurut Mudyahardjo membaginya kepada empat hal yaitu:

              a.       Masa pendidikan. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan.

       b.       Lingkungan pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan hidup, baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya.

       c.       Bentuk kegiatan. Terentang dari bentuk-bentuk yang misterius atau tak disengaja sampai dengan terprogram. Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup. Pendidikan berlangsung dalam beranaka ragam bentuk, pola, dan lembaga. Pendidikan dapat terjadi sembarang,kapan, dan di mana pun dalam hidup. Pendidikan lebih berorientasi pada peserta didik.

       d.       Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas, dan sama dengan tujuan hidup.[11]

       2.Pengertian Akhlak

     Kata pokok (dasar) akhlak adalah khalaqo, khaliqun dan makhluqun, kata sifatnya adalah akhlakun. Menurut Imam Hamid al-Ghazali yang dikutip oleh DR. Ali Abdul Halim Mahmud mengatakan bahwa kata al-khalq adalah bentuk lahirnya, sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya. Hal itu karena manusia tersusun dari fisik yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan ruh / jiwa yang ditangkap oleh mata batin. Ruh / jiwa yang ditangkap oleh mata batin itu lebih tinggi nilainya dari fisik yang ditangkap dengan penglihatan mata.[12]

Jadi akhlak (al-khuluq) pengertiannya adalah suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu. Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan syariat, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk.[13]

Demikian juga sama pengertian akhlak menurut Muhammad bin Ali asy-Syariif al-Jurjani yang juga dikutip oleh DR. Ali Abdul Halim Mahmud, beliau mendifinisikan:

“Akhlak adalah istilah bagi semua sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berpikir dan merenung. Jika dari sifat tersebut terlahir perbuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan syariat, dengan mudah, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang baik. Sedangkan jika terlahir perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang buruk.”[14]

 

Menurut difinisi di atas, akhlak mencakup sifat baik maupun buruk, namun kita dapati kebanyakan ulama’ akhlak menggunakan kata akhlak untuk sifat yang baik saja. Menurut mereka, akhlak adalah sifat-sifat baik yang tertanam pada jiwa dan memancar perilaku yang baik dalam kehidupan.[15]

Jadi akhlak bukanlah sekedar perilaku manusia yang bersifat bawaan lahir, tapi merupakan salah satu dari dimensi kehidupan seorang muslim yang mencakup aqidah, Ibadah, akhlak dan syari’ah. Karena itu, akhlak Islami cakupannya sangat luas, yakni ethos, ethis, moral dan estetika. Keterangan lebih jelas tentang hal itu akan dijabarkan sebagai berikut:

a.     Ethos, yang mengatur hubungan seseorang dengan khaliqnya, al-Ma’bud, bil haq serta kelengkapan uluhiyah dan rububiyah, seperti terhadap Rasul-Rasul Allah, kitab-kitab Nya, dan sebagainya.

b.    Ethis, yang mengatur sikap seseorang terhadap dirinya dan terhadap sesamanya dalam kegiatan kehidupan sehari-harinya.

c.     Moral, yang mengatur hubungannya dengan sesamanya, tapi berlainan jenis dan atau yang menyangkut kehormatan tiap pribadi.

d.    Estetika, rasa keindahan yang mendorong seseorang untuk meningkatkan keadaan dirinya serta lingkungannya, agar lebih indah dan menuju kesempurnaan.[16]

 

Namun seringkali kata “akhlak” dalam bahasa arab diartikan dengan “moral”. Maka dalam pembahasan ini peneliti sering menggunakan istilah akhlak untuk memudahkan istilah dalam tulisan ini. Contoh dalam buku aslinya Abdullah Nasih Ulwan mengartikan “akhlak” dalam bahasa Indonesia dengan “moral”.

3.Pengertian Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak (Moral) adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa hingga ia menjadi mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan. Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan- keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar.

Jika sejak masa kanak-kanaknya, anak tumbuh berkembang dengan berpijak pada iman kepada Allah dan terdidik untuk takut, ingat, bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri padaNya, ia akan memiliki potensi dan respons secara instingtif di dalam menerima setiap keutamaaan dan kemuliaan, di samping terbiasa melakuakan akhlak mulia. Sebab benteng pertahanan religius yang berakar pada hati sanubarinya, kebiasaan mengingat Allah yang telah dihayati dalam dirinya dan instropeksi diri yang telah menguasai seluruh pikiran dan perasaannya, telah memisahkan anak dari sifat- sifat negatif, kebiasaan-kebiasaan dosa dan tradisi-tradisi jahiliyah yang rusak. Bahkan penerimaannya terhadap setiap kebaikan akan menjadi salah satu kebiasaan dan kesenangannya terhadap keutamaan, dan kemuliaan akan menjadi akhlak dan sifat yang paling menonjol.[17]

4.Pentingnya Pendidikan Akhlak

Islam sebagai agama samawi sangat memperhatikan akhlak, oleh karena itu Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4

 

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti (berakhlak) yang agung.”

 

Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia sebagaimana sabda beliau:

 

Artinya: “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad).

 

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

 

Dalam hadits lain Anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam:“Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi dan Ahmad).

 

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi mereka gambaran-gambaran yang diidentifikasi adalah orang-orang dewasa yang simpatik, orang-orang terkenal dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri. Syamsu Yusuf menyatakan bahwa “Perkembangan moral (akhlak) seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya”.[18]

Dari pernyataan di atas dapat dimengerti bahwa perkembangan akhlak anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitarnya, terutama keluarganya yang setiap hari berinteraksi dengan anak. Boleh jadi baik dan buruknya perkembangan akhlak anak tergantung pada baik dan buruk akhlak keluarganya.

5. Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Akhlak

Karena itu Rasulullah berpesan kepada para orangtua untuk memberikan perhatian dan pendidikan yang intensif sebagaimana sabda beliau yang berbunyi:

 

Artinya: “Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat apabila mereka telah berusia tujuh tahun, dan apabila mereka telah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka (apabila tidak mau melakukan shalat) dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim).

Dalam perkembangan sosialnya, ia mula-mula hanya menaruh perhatian kepada kepentingan dan perasaannya saja. Pada usia sekolah, ia berangsur-angsur menaruh perhatian kepada orang lain. Ia dapat mengikat tali persahabatan dengan teman lain, ia mulai dapat mempengaruhi kelakuan orang lain dan senantiasa memperluas lingkaran persahabatananya. Perhatiannya masih banyak terhadap orang-orang yang dekat padanya dalam keluarga.[19]

Tidak aneh jika Islam sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dari aspek akhlak ini dan mengeluarkan petunjuk yang sangat berharga di dalam melahirkan anak dengan kebiasaan-kebiasaan yang mulia. Berikut ini sebagian wasiat dan petunjuk Rasul dalam upaya mendidik anak dari aspek akhlak[20] adalah sabda Rasulullah SAW:

Artinya: Namun barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1376 dan Muslim no. 1745)

 

Begitu juga dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW. bersabda yang artinya:

 

“Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik” (HR. Ibnu Majah)

 

Demikian juga hadits dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah SAW. bahwa beliau bersabda yang artinya: “Di antara hak orang tua terhadap anaknya adalah mendidiknya dengan akhlak yang baik dan memberinya nama yang baik” (HR. Baihaqi)

Berdasarkan hadits-hadits pedagogis ini dapat disimpulkan bahwa para pendidik, terutama ayah dan ibu, mempunyai tanggung-jawab sangat besar dalam mendidik anak-anak dengan kebaikan dan dasar-dasar moral (akhlak).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Mahasiswa Pasca Sarjana PTIQ jurusan Manajemen Pendidikan Islam 2012 – 2013

[2] Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988) Cet. 1, h. 413.

[3] Munawir AF, Kamus Al-Bisri: Indonesia-Arab-Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), Cet. 1, h. 140.

[4] Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,…h. 117.

[5] Shihab, Qurais. Wawasan Al-Qur’an. Bandung : Penerbit Mizan tahun 1996 cet 1 hal 210

[6] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 130

[7] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 132

 

[8] Shihab, Qurais . Tafsir Al-misbah : Jakarta: Penerbit, Lentera Hati. Tahun 2011. Vol 10 hal 311

[9] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 160

 

 

[10] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 3

[11] Ibid.

 

[12] Ali Abdul Halim Mahmud , Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004), h. 28

[13] Ibid.

[14] Ibid., h. 32

 

[15] Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, Menyelami Samudera 20 Prinsip Hasan Al-Banna, tarj., Kamal Fauzi. Ahmad Zubaidi dan Jasiman, (Solo: Era Intermedia, 2005), h. 55

[16] Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat), (Jakarta: Media Da’wah, 1986), h. 11

[17] Abdullah Nasih Ulwan, Loc. Cit.

 

[19] Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: PT Bumi Aksara ,2008), h. 114

[20] Abdullah Nasih Ulwan, Op.Cit., h. 177