ASPEK-ASPEK ETOS KERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


 

 

 

Isu tentang pentingnya meningkatkan etos (etika) kerja pada organisasi pemerintah dan swasta semakin mencuat akhir-akhir ini. Hal itu disebabkan semakin disadarinya pentingnya pemahaman etos kerja sebagai solusi untuk memecahkan masalah, terutama yang terkait dengan moral hazard di tempat kerja.

 

Artikel ini mencoba untuk menjawab apa yang dimaksud tentang etos kerja, aspek dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terwujudnya etos kerja di sebuah organisasi.

 

 

 

Pengertian Etos Kerja

 

 

 

Menurut K. Bertens (1994), secara etimologis istilah etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tempat hidup”. Mula-mula tempat hidup dimaknai sebagai adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos berevolusi dan berubah makna menjadi semakin kompleks. Dari kata yang sama muncul pula istilah ethikos yang berarti “teori kehidupan”, yang kemudian menjadi “etika”.

 

Dalam bahasa Inggris, etos dapat diterjemahkan menjadi beberapa pengertian antara lain starting point, to appear, disposition hingga disimpulkan sebagai character. Dalam bahasa Indonesia kita dapat menterjemahkannya sebagai “sifat dasar”, “pemunculan” atau “disposisi (watak)”.

 

Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Etos adalah keyakinan yang menuntun seseorang, kelompok atau suatu institusi.

 

Sedangkan dalam The American Heritage Dictionary of English Language, etos diartikan dalam dua pemaknaan, yaitu:

 

  1. The disposition, character, or attitude peculiar to a specific people, culture or a group that distinguishes it from other peoples or group, fundamental values or spirit, mores. Disposisi, karakter, atau sikap khusus orang, budaya atau kelompok yang membedakannya dari orang atau kelompok lain, nilai atau jiwa yang mendasari, adat-istiadat.
  2. The governing or central principles in a movement, work of art, mode of expression, or the like. Prinsip utama atau pengendali dalam suatu pergerakan, pekerjaan seni, bentuk ekspresi, atau sejenisnya.

 

Dari sini dapat kita peroleh pengertian bahwa etos merupakan seperangkat pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang secara mendasar mempengaruhi kehidupan, menjadi prinsip-prinsip pergerakan, dan cara berekspresi yang khas pada sekelompok orang dengan budaya serta keyakinan yang sama.

 

Menurut Anoraga (2009), etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. Bila individu-individu dalam komunitas memandang kerja sebagai suatu hal yang luhur bagi eksistensi manusia, maka etos kerjanya akan cenderung tinggi. Sebaliknya sikap dan pandangan terhadap kerja sebagai sesuatu yang bernilai rendah bagi kehidupan, maka etos kerja dengan sendirinya akan rendah.

 

Menurut Sinamo (2005), etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja, mempercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. Itulah yang akan menjadi budaya kerja.

 

Sinamo (2005) juga memandang bahwa etos kerja merupakan fondasi dari sukses yang sejati dan otentik. Pandangan ini dipengaruhi oleh kajiannya terhadap studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan penulisan-penulisan manajemen dua puluh tahun belakangan ini yang semuanya bermuara pada satu kesimpulan utama bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja. Sinamo lebih memilih menggunakan istilah etos karena menemukan bahwa kata etos mengandung pengertian tidak saja sebagai perilaku khas dari sebuah organisasi atau komunitas, tetapi juga mencakup motivasi yang menggerakkan mereka, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, dan standar-standar.

 

Melalui berbagai pengertian diatas baik secara etimologis maupun praktis dapat disimpulkan bahwa etos kerja merupakan seperangkat sikap atau pandangan mendasar yang dipegang sekelompok manusia untuk menilai bekerja sebagai suatu hal yang positif bagi peningkatan kualitas kehidupan, sehingga mempengaruhi perilaku kerjanya.

 

 

 

Aspek-Aspek Etos (Etika) Kerja

 

 

 

Menurut Sinamo (2005), setiap manusia memiliki spirit (roh) keberhasilan, yaitu motivasi murni untuk meraih dan menikmati keberhasilan. Roh inilah yang menjelma menjadi perilaku yang khas seperti kerja keras, disiplin, teliti, tekun, integritas, rasional, bertanggung jawab dan sebagainya. Lalu perilaku yang khas ini berproses menjadi kerja yang positif, kreatif dan produktif.

 

Dari ratusan teori sukses yang beredar di masyarakat sekarang ini, Sinamo (2005)  menyederhanakannya menjadi empat pilar teori utama. Keempat pilar inilah yang sesungguhnya bertanggung jawab menopang semua jenis dan sistem keberhasilan yang berkelanjutan (sustainable success system) pada semua tingkatan. Keempat elemen itu lalu dikonstruksikan dalam sebuah konsep besar yang disebutnya sebagai Catur Dharma Mahardika (bahasa Sansekerta) yang berarti Empat Darma Keberhasilan Utama, yaitu:

 

  1. Mencetak prestasi dengan motivasi superior.
  2. Membangun masa depan dengan kepemimpinan visioner.
  3. Menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif.
  4. Meningkatkan mutu dengan keunggulan insani.

 

Keempat darma ini kemudian dirumuskan menjadi delapan aspek etos kerja sebagai berikut:

 

  1. Kerja adalah rahmat. Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.
  2. Kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
  3. Kerja adalah panggilan. Kerja merupakan suatu darma yang sesuai dengan panggilan jiwa sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. Jadi, jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!”. Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.
  4. Kerja adalah aktualisasi. Pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat. Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung tanpa pekerjaan.
  5. Kerja adalah ibadah. Bekerja merupakan bentuk bakti dan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga melalui pekerjaan manusia mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
  6. Kerja adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan perasaan senang seperti halnya melakukan hobi. Sinamo mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.
  7. Kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Sinamo mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
  8. Kerja adalah pelayanan. Manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercusuar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

 

Anoraga (2009) juga memaparkan secara eksplisit beberapa sikap yang seharusnya mendasari seseorang dalam memberi nilai pada kerja, yang disimpulkan sebagai berikut:

 

1.   Bekerja adalah hakikat kehidupan manusia.

 

2.   Bekerja adalah suatu berkat Tuhan.

 

3.   Bekerja merupakan sumber penghasilan yang halal dan tidak amoral.

 

4.   Bekerja merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan berbakti.

 

5.   Bekerja merupakan sarana pelayanan dan perwujudan kasih

 

Dalam tulisannya, Kusnan (2004) menyimpulkan pemahaman bahwa etos kerja mencerminkan suatu sikap yang memiliki dua alternatif, positif dan negatif. Suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan memiliki etos kerja yang tinggi apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

 

1.   Mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia,

 

2.   Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat luhur bagi eksistensi manusia,

 

3.   Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia,

 

4.   Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita,

 

5.   Kerja dilakukan sebagai bentuk ibadah.

 

Bagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki etos kerja yang rendah, maka akan ditunjukkan ciri-ciri yang sebaliknya (Kusnan, 2004), yaitu :

 

1.   Kerja dirasakan sebagai suatu hal yang membebani diri,

 

2.   Kurang dan bahkan tidak menghargai hasil kerja manusia,

 

3.   Kerja dipandang sebagai suatu penghambat dalam memperoleh kesenangan,

 

4.   Kerja dilakukan sebagai bentuk keterpaksaan,

 

5.   Kerja dihayati hanya sebagai bentuk rutinitas hidup.

 

Dari berbagai aspek yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki etos kerja tinggi akan terus berusaha untuk memperbaiki dirinya, sehingga nilai pekerjaannya bukan hanya bersifat produktif materialistik tapi juga melibatkan kepuasaan spiritualitas dan emosional.

 

 

 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Etos Kerja

 

 

 

Etos (etika) kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

 

  1. Agama

 

Dasar pengkajian kembali makna etos kerja di Eropa diawali oleh buah pikiran Max Weber.Salah satu unsur dasar dari kebudayaan modern, yaitu rasionalitas (rationality) menurut Weber (1958) lahir dari etika Protestan. Pada dasarnya agama merupakan suatu sistem nilai. Sistem nilai ini tentunya akan mempengaruhi atau menentukan pola hidup para penganutnya. Cara berpikir, bersikap dan bertindak seseorang pastilah diwarnai oleh ajaran agama yang dianutnya jika ia sungguh-sungguh dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, kalau ajaran agama itu mengandung nilai-nilai yang dapat memacu pembangunan, jelaslah bahwa agama akan turut menentukan jalannya pembangunan atau modernisasi.

 

Weber memperlihatkan bahwa doktrin predestinasi dalam protestanisme mampu melahirkan etos berpikir rasional, berdisiplin tinggi, bekerja tekun sistematik, berorientasi sukses (material), tidak mengumbar kesenangan –namun hemat dan bersahaja (asketik), dan suka menabung serta berinvestasi, yang akhirnya menjadi titik tolak berkembangnya kapitalisme di dunia modern.

 

Sejak Weber menelurkan karya tulis The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958), berbagai studi tentang etos kerja berbasis agama sudah banyak dilakukan dengan hasil yang secara umum mengkonfirmasikan adanya korelasi positif antara sebuah sistem kepercayaan tertentu dengan kemajuan ekonomi, kemakmuran, dan modernitas (Sinamo, 2005).

 

  1. Budaya

 

Luthans (2006) mengatakan bahwa sikap mental, tekad, disiplin dan semangat kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya. Kemudian etos budaya ini secara operasional juga disebut sebagai etos kerja. Kualitas etos kerja ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah, bahkan bisa sama sekali tidak memiliki etos kerja.

 

  1. Sosial politik

 

Menurut Siagian (1995), tinggi atau rendahnya etos kerja suatu masyarakat dipengaruhi juga oleh ada atau tidaknya struktur politik yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan penuh.

 

  1. Kondisi lingkungan (geografis)

 

Siagian(1995)  juga menemukan adanya indikasi bahwa etos kerja dapat muncul dikarenakan faktor kondisi geografis. Lingkungan alam yang mendukung mempengaruhi manusia yang berada di dalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat, dan bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut.

 

  1. Pendidikan

 

Etos kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja keras. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian dan keterampilan, sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi (Bertens, 1994).

 

  1. Motivasi intrinsik individu

 

Anoraga (2009) mengatakan bahwa individu memiliki etos kerja yang tinggi adalah individu yang bermotivasi tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap, yang tentunya didasari oleh nilai-nilai yang diyakini seseorang. Keyakinan ini menjadi suatu motivasi kerja, yang mempengaruhi juga etos kerja seseorang.

 

Menurut Herzberg (dalam Siagian, 1995), motivasi yang sesungguhnya bukan bersumber dari luar diri, tetapi yang tertanam (terinternalisasi) dalam diri sendiri, yang sering disebut dengan motivasi intrinsik. Ia membagi faktor pendorong manusia untuk melakukan kerja ke dalam dua faktor yaitu faktor hygiene dan faktor motivator. Faktor hygiene merupakan faktor dalam kerja yang hanya akan berpengaruh bila ia tidak ada, yang akan menyebabkan ketidakpuasan. Ketidakhadiran faktor ini dapat mencegah timbulnya motivasi, tetapi ia tidak menyebabkan munculnya motivasi. Faktor ini disebut juga faktor ekstrinsik, yang termasuk diantaranya yaitu gaji, status, keamanan kerja, kondisi kerja, kebijaksanaan organisasi, hubungan dengan rekan kerja, dan supervisi. Ketika sebuah organisasi menargetkan kinerja yang lebih tinggi, tentunya organisasi tersebut perlu memastikan terlebih dahulu bahwa faktor hygiene tidak menjadi penghalang dalam upaya menghadirkan motivasi ekstrinsik.

 

Faktor yang kedua adalah faktor motivator sesungguhnya, yang mana ketiadaannya bukan berarti ketidakpuasan, tetapi kehadirannya menimbulkan rasa puas sebagai manusia. Faktor ini disebut juga faktor intrinsik dalam pekerjaan yang meliputi pencapaian sukses (achievement), pengakuan (recognition), kemungkinan untuk meningkat dalam karier (advancement), tanggungjawab (responsibility), kemungkinan berkembang (growth possibilities), dan pekerjaan itu sendiri (the work itself). Hal-hal ini sangat diperlukan dalam meningkatkan performa kerja dan menggerakkan pegawai hingga mencapai performa yang tertinggi.

 

Dengan memahami apa itu etos kerja, serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan etos kerja serta faktor-faktor yang mempengaruhinya diharapkan sebuah organisasi (termasuk organisasi Kementerian Keuangan) akan meningkat produktifitas dan profesionalitas kerjanya.

 

Indonesia sangat membutuhkan peningkatan etos kerja di semua lini organisasi pemerintahan dan swasta, sehingga di masa depan dapat terwujud bangsa Indonesia yang maju dan disegani masyarakat internasional.

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Bacaan :

 

 

 

Lubis, Satria Hadi. 2011. Bahan Ajar Etika Profesi PNS. STAN, Tangsel.

 

 

 

Bertens, K. 1994. Etika.Gramedia, Jakarta.

 

 

 

Sinamo, Jansen. 2005. Delapan Etos Kerja Profesional: Navigator Anda Menuju Sukses. Grafika Mardi Yuana, Bogor.

 

 

 

Anoraga, Pandji. 2009. Manajemen Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta.

 

 

 

Kusnan, Ahmad. 2004. Analisis Sikap, Iklim Organisasi, Etos Kerja dan Disiplin Kerja dalam menentukan Efektifitas Kinerja Organisasi di Garnisun Tetap III Surabaya. Tesis. Universitas Airlangga, Surabaya.

 

 

 

Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi. Andi, Yogyakarta.

 

 

 

Siagian, Prof. Dr. Sondang P.1995. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta.

 

 

 

http://www.stan.ac.id/kategori/index/9/page/aspek-aspek-etos-kerja-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhinya 

Makanan yang halal


Dalam hadits arbain imam Nawawi menukil sebuah hadits yang layak kita renungkan. Rasulullah telah bersabda bahwa yang ada seseorang yang berdo’a kepada Allah dalam keadaan yang sangat memelas, pakaiannya kusut, rambutnya kusut, begitu khusunya ia berdo’a kepada Allah. Tapi jangan pernah berharap do’anya diterima kalau dalam dirinya ada daging yang tumbuh dari barang haram.
Rasulullah juga telah bersabda bahwa harta yang kita dapatkan pada saat ini, Allah akan tanyakan darimana harta itu kita dapatkan, dengan cara apa kita dapatkan harta itu, dan dipergunakan untuk apa harta itu.
ketiga-tiga harus halal atau baik, jangan sampai salah satunya haram, maka akan haramlah semuanya. Oleh sebab itu, tidak kita tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengambil harta dengan cara yang tidak baik. Karena pada akhirnya harta itu akan menjadi beban kita.

KI dan KD PAI


Rumusan KI dan KD

PAI SMAN 8 KOTA TANGERANG

 

Kelas X

 

Kompetensi Inti

Kompetensi Dasar Penyempurnaan 03 Mei 2013 (Hotel Allson)

1.      Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

 

1.1  Menghayati nilai-nilai keimanan kepada Malaikat-malaikat Allah SWT

1.2  Berpegang teguh kepada Al-Quran, Hadits dan Ijtihad sebagai pedoman hidup

1.3  Meyakini kebenaran hukum Islam

1.4  Berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari

2.      Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

 

2.1  Menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Maidah (5): 8, dan Q.S. At-Taubah (9): 119 dan hadits terkait

2.2  Menunjukkan perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Isra (17): 23 dan hadits terkait

2.3  Menunjukkan perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan), dan persaudaraan (ukhuwah) sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Anfal (8): 72; Q.S. Al-Hujurat (49): 12 dan 10 serta hadits yang terkait

2.4  Menunjukkan perilaku menghindarkan diri dari pergaulan bebas dan perbuatan zina sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Isra’ (17): 32, dan Q.S. An-Nur (24):  2, serta hadits yang terkait

2.5  Menunjukkan sikap semangat menuntut ilmu dan menyampaikannya kepada sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. At-Taubah (9): 122 dan hadits terkait

2.6  Menunjukkan sikap keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakkal dan perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

2.7  Menunjukkan sikap tangguh dan semangat menegakkan kebenaran sebagai implementasi dari pemahaman strategi dakwah Nabi di Mekah

2.8  Menunjukkan sikap semangat ukhuwah sebagai implementasi dari pemahaman strategi dakwah Nabi di Madinah

3.      Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

3.1         Menganalisis  Q.S. Al-Anfal (8) : 72); Q.S. Al-Hujurat (49) : 12; dan QS Al-Hujurat (49) : 10; serta hadits tentang kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan), dan persaudaraan (ukhuwah)

3.2         Memahami manfaat dan hikmah kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan (ukhuwah), dan menerapkannya dalam kehidupan

3.3         Menganalisis  Q.S. Al-Isra’ (17) : 32, dan Q.S. An-Nur (24) : 2, serta hadits tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.

3.4         Memahami manfaat dan hikmah larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.

3.5         Memahami makna Asmaul Husna: al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir;

3.6         Memahami makna beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT

3.7         Memahami Q.S. At-Taubah (9): 122 dan hadits terkait tentang semangat menuntut ilmu, menerapkan dan menyampaikannya kepada sesama;

3.8         Memahami kedudukan Alquran, Hadits, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam

3.9         Memahami pengelolaan wakaf

3.10.1.  Memahami substansi dan strategi dakwah Rasullullah saw. di Mekah

3.10.2.  Memahami substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah

4        Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

4.1.1   Membaca Q.S. Al-Anfal (8): 72); Q.S. Al-Hujurat (49): 12; dan Q.S. Al-Hujurat (49) : 10, sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.

4.1.2   Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Al-Anfal (8) : 72); Q.S. Al-Hujurat (49) : 12; QS Al-Hujurat (49) : 10 dengan lancar.

4.2.1   Membaca Q.S. Al-Isra’ (17): 32, dan Q.S. An-Nur (24): 2 sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.

4.2.2   Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Al-Isra’ (17) : 32, dan Q.S. An-Nur (24): 2 dengan lancar.

4.3         Berperilaku yang mencontohkan keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakal dan perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman makna Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

4.4         Berperilaku yang mencerminkan kesadaran beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT

4.5         Menceritakan tokoh-tokoh teladan dalam semangat mencari ilmu

4.6         Menyajikan macam-macam sumber hukum Islam

4.7.1   Menyajikan dalil tentang ketentuan wakaf

4.7.2   Menyajikan pengelolaan wakaf

4.8.1   Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasullullah SAW di Mekah

4.8.2   Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW di Madinah

 


Pembinaan Keluarga

Badrudin[1]

A.    Surat Lukman ayat 18 dan 19

Ÿ  

18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

 

B.     Pembinaan Keluarga

Keluarga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Keluarga dalam arti sempit disebut keluarga batih yang menurut (KBBI) yakni keluarga yang hanya terdiri dari suami, isteri dan anak.[2] Adapun dalam kamus berbahasa arab kata keluarga berasal dari kata                             artinya keluarga.[3]

Selanjutnya pada kata pembinaan yang dalam (KBBI) yakni usaha, tindakan dan kegiatan yang dialakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.[4]

Keluarga, atau katakanlah unit terkecil dari keluarga adalah suami dan isteri, atau ayah, ibu dan anak, yang bernaung dibawah satu rumah tangga. Unit ini memerlukan pimpinan, dan dalam pandangan Al-Qur’an yang wajar meminpin adalah bapak.[5]

  1. Asbabun Nuzul Surat Luqman

Asbabun nuzul surat ini adalah bahwa orang- orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, tentang kisah luqman beserta anaknya, dan ketaatannya kepada kedua ibu bapaknya, maka turunlah surat ini.[6]

Kaitan surat Luqman dengan surat sebelumnya :

  1. Sesungguhnya di dalam surat yang lalu Allah SWT, telah berfirman :


 

58. dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.”( Arum : 58 )

            Kemudian di dalam surat Luqman ini Allah SWT, mengisyaratkan pula hal tersebut melalui pembukaannya. Dan di dalam surat ini Allah telah berfirman :


 

7. dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami Dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah Dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih.( Luqman : 7 )

            2. Dalam surat Arum Allah berfirman  :


 

27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( Arum : 27)

            Sedangkan di dalam surat Luqman Allah SWT telah berfirman :


 

28. tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.(Luqman : 28

            Pengertian yang terkandung di dalam kedua ayat tersebut, menunjukkan bahwa pembangkitan itu amatlah mudah bagi-Nya.

            4. Sesungguhnya di dalam surat yang telah lalu Allah SWT, menyebutkan kisah kedua kerajaan besar yang saling menyerang dia antara keduanya karena demi memperebutkan masalah duniawi. Maka dalam surat luqman ini Allah menyebutkan tentang kisah seorang hamba sahaya yang menjauhi keduniaan  dan tentang wsiatnya kepada anaknya supaya bersabar dan cinta damai, yang hal ini jelas mempunyai pengertian yang bertentangan dengan peperangan.[7]

            D. Kandungan Ayat

            Nasihat Luqman kali ini berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesame manusia. Materi pelajaran akidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga umtuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak adapat dipisahkan.[8]

            Dan sesudah Luqman mewasiati anaknya dengan berbagai hal, kemudian ia mengingatkan anaknya akan hal-hal lainya, yaitu sebagaimana disebutkan oleh firman-Nya :

            Janganlah kamu memalingkan mukamu terhadap orang-orang yang kamu berbicara dengannya, karena sombong dan meremehkannya. Akan tetapi hadapilah dia dengan muka yang berseri-seri dan gembira, tanpa rasa sombong dan tinggi diri.

            Ini sesuai dengan hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Malik melalui Ibnu Syihab bersumberkan dari Anas Ibnu Malik “ Janganlah kalian saling membenci, jangan pula saling bermusuhan, dan janganlah kalian saling mendengki, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim mengsingkan saudaranya lebih dari tiga hari”.[9]

            Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh dan menyombongkan diri, karena se3sungguhnya hal itu adalah cara jalan orang-orang yang angkara murka dan sombong, yaitu mereka yang gemar melakukan kekejaman di muka bumi dan suka berbuat zalim terhadap orang lain.  Akan tetapi berjalanlah dengan sikap sederhana karena sesungguhnya cara jalan yang demikian mencerminkan rasa rendah diri, sehingga pelakunya akan sampai kepada semua kebaikan.

            Yahya ibnu Jabir At-Tai,y telah meriwayatkan sebuah asar melalui Gudaif ibnul Harits yang telah menceritakan,” pada suatu hari aku duduk di majlis Abdullah ibnu Amr ibnu Ash, kemudian aku mendengar ia mengatakan,”sesungguhnya kuburan itu berkata kepada seorang hamba apabila ia dikubur didalamnya, “ hai anak Adam, apakah gerangan yang membuatmu lalai kepadaku?. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku adalah rumah tewrasing? Dan tidakkah kau tahu bahwa aku rumah haq? Hai anak Adam apakah gerangan yang membuat kamu lalai kepadaku? Sesungguhnya kamu dahulu berjalan di sekitarku dengan sikap yamg angkuh dan sombong!.

            Dan berjalanlah dengan sikap sederhana, yakni tidak terlalu lambat dan juga tidak terlalu cepat, akan tetapi berjalanlah dengan wajar tanpa dibuat-buat dan juga tanpa pamer menonjolkan sikap rendah diri atau sikap tawadhu.

            Siti Aisyah ra. Telah meriwayatkan, bahwa ia melihat seorang laki-laki yang hamper mati karena terlalu merendahkan diri. Lalu ia berkata apakah gerangan yang telah terjadi pada dirinya?. Maka ia menjawab, bahwa ia adalah termsuk ahli qurra (ahli fiqih yang alim tentang kitabullah). Maka siti Aisyah menjawab, umar adalah pemimpin ahli qurra, dan adalah ia apabila berjalan langkahnya cepat, dan apabila berkata suaranya keras dan berpengaruh, dan apabila memukul, maka sakitnya bukan main.

            Kurangilah tingkat kekerasan suaramu, dan perpendek cara bicaramu, janganlah kamu mengangkat suaramu bilamana tidak diperlukan sekali. Karena sesungguhnya sikap demikian itu lebih berwibawa bagi yang melakukanya, dan lebih mudah diterima oleh jiwa pendengarnya serta lebih gampang untuk dimengerti.

E.Pentingnya Pendidikan Akhlak

1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dengan kata lain pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan hidup.[10]

Berdasarkan pengertian di atas menunjukkan bahwa pendidikan itu mempunyai beberapa karakteristik khusus, menurut Mudyahardjo membaginya kepada empat hal yaitu:

              a.       Masa pendidikan. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan.

       b.       Lingkungan pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan hidup, baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya.

       c.       Bentuk kegiatan. Terentang dari bentuk-bentuk yang misterius atau tak disengaja sampai dengan terprogram. Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup. Pendidikan berlangsung dalam beranaka ragam bentuk, pola, dan lembaga. Pendidikan dapat terjadi sembarang,kapan, dan di mana pun dalam hidup. Pendidikan lebih berorientasi pada peserta didik.

       d.       Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas, dan sama dengan tujuan hidup.[11]

       2.Pengertian Akhlak

     Kata pokok (dasar) akhlak adalah khalaqo, khaliqun dan makhluqun, kata sifatnya adalah akhlakun. Menurut Imam Hamid al-Ghazali yang dikutip oleh DR. Ali Abdul Halim Mahmud mengatakan bahwa kata al-khalq adalah bentuk lahirnya, sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya. Hal itu karena manusia tersusun dari fisik yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan ruh / jiwa yang ditangkap oleh mata batin. Ruh / jiwa yang ditangkap oleh mata batin itu lebih tinggi nilainya dari fisik yang ditangkap dengan penglihatan mata.[12]

Jadi akhlak (al-khuluq) pengertiannya adalah suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu. Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan syariat, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk.[13]

Demikian juga sama pengertian akhlak menurut Muhammad bin Ali asy-Syariif al-Jurjani yang juga dikutip oleh DR. Ali Abdul Halim Mahmud, beliau mendifinisikan:

“Akhlak adalah istilah bagi semua sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berpikir dan merenung. Jika dari sifat tersebut terlahir perbuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan syariat, dengan mudah, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang baik. Sedangkan jika terlahir perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang buruk.”[14]

 

Menurut difinisi di atas, akhlak mencakup sifat baik maupun buruk, namun kita dapati kebanyakan ulama’ akhlak menggunakan kata akhlak untuk sifat yang baik saja. Menurut mereka, akhlak adalah sifat-sifat baik yang tertanam pada jiwa dan memancar perilaku yang baik dalam kehidupan.[15]

Jadi akhlak bukanlah sekedar perilaku manusia yang bersifat bawaan lahir, tapi merupakan salah satu dari dimensi kehidupan seorang muslim yang mencakup aqidah, Ibadah, akhlak dan syari’ah. Karena itu, akhlak Islami cakupannya sangat luas, yakni ethos, ethis, moral dan estetika. Keterangan lebih jelas tentang hal itu akan dijabarkan sebagai berikut:

a.     Ethos, yang mengatur hubungan seseorang dengan khaliqnya, al-Ma’bud, bil haq serta kelengkapan uluhiyah dan rububiyah, seperti terhadap Rasul-Rasul Allah, kitab-kitab Nya, dan sebagainya.

b.    Ethis, yang mengatur sikap seseorang terhadap dirinya dan terhadap sesamanya dalam kegiatan kehidupan sehari-harinya.

c.     Moral, yang mengatur hubungannya dengan sesamanya, tapi berlainan jenis dan atau yang menyangkut kehormatan tiap pribadi.

d.    Estetika, rasa keindahan yang mendorong seseorang untuk meningkatkan keadaan dirinya serta lingkungannya, agar lebih indah dan menuju kesempurnaan.[16]

 

Namun seringkali kata “akhlak” dalam bahasa arab diartikan dengan “moral”. Maka dalam pembahasan ini peneliti sering menggunakan istilah akhlak untuk memudahkan istilah dalam tulisan ini. Contoh dalam buku aslinya Abdullah Nasih Ulwan mengartikan “akhlak” dalam bahasa Indonesia dengan “moral”.

3.Pengertian Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak (Moral) adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa hingga ia menjadi mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan. Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan- keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar.

Jika sejak masa kanak-kanaknya, anak tumbuh berkembang dengan berpijak pada iman kepada Allah dan terdidik untuk takut, ingat, bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri padaNya, ia akan memiliki potensi dan respons secara instingtif di dalam menerima setiap keutamaaan dan kemuliaan, di samping terbiasa melakuakan akhlak mulia. Sebab benteng pertahanan religius yang berakar pada hati sanubarinya, kebiasaan mengingat Allah yang telah dihayati dalam dirinya dan instropeksi diri yang telah menguasai seluruh pikiran dan perasaannya, telah memisahkan anak dari sifat- sifat negatif, kebiasaan-kebiasaan dosa dan tradisi-tradisi jahiliyah yang rusak. Bahkan penerimaannya terhadap setiap kebaikan akan menjadi salah satu kebiasaan dan kesenangannya terhadap keutamaan, dan kemuliaan akan menjadi akhlak dan sifat yang paling menonjol.[17]

4.Pentingnya Pendidikan Akhlak

Islam sebagai agama samawi sangat memperhatikan akhlak, oleh karena itu Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4

 

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti (berakhlak) yang agung.”

 

Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia sebagaimana sabda beliau:

 

Artinya: “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad).

 

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

 

Dalam hadits lain Anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam:“Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi dan Ahmad).

 

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi mereka gambaran-gambaran yang diidentifikasi adalah orang-orang dewasa yang simpatik, orang-orang terkenal dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri. Syamsu Yusuf menyatakan bahwa “Perkembangan moral (akhlak) seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya”.[18]

Dari pernyataan di atas dapat dimengerti bahwa perkembangan akhlak anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitarnya, terutama keluarganya yang setiap hari berinteraksi dengan anak. Boleh jadi baik dan buruknya perkembangan akhlak anak tergantung pada baik dan buruk akhlak keluarganya.

5. Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Akhlak

Karena itu Rasulullah berpesan kepada para orangtua untuk memberikan perhatian dan pendidikan yang intensif sebagaimana sabda beliau yang berbunyi:

 

Artinya: “Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat apabila mereka telah berusia tujuh tahun, dan apabila mereka telah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka (apabila tidak mau melakukan shalat) dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim).

Dalam perkembangan sosialnya, ia mula-mula hanya menaruh perhatian kepada kepentingan dan perasaannya saja. Pada usia sekolah, ia berangsur-angsur menaruh perhatian kepada orang lain. Ia dapat mengikat tali persahabatan dengan teman lain, ia mulai dapat mempengaruhi kelakuan orang lain dan senantiasa memperluas lingkaran persahabatananya. Perhatiannya masih banyak terhadap orang-orang yang dekat padanya dalam keluarga.[19]

Tidak aneh jika Islam sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dari aspek akhlak ini dan mengeluarkan petunjuk yang sangat berharga di dalam melahirkan anak dengan kebiasaan-kebiasaan yang mulia. Berikut ini sebagian wasiat dan petunjuk Rasul dalam upaya mendidik anak dari aspek akhlak[20] adalah sabda Rasulullah SAW:

Artinya: Namun barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1376 dan Muslim no. 1745)

 

Begitu juga dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW. bersabda yang artinya:

 

“Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik” (HR. Ibnu Majah)

 

Demikian juga hadits dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah SAW. bahwa beliau bersabda yang artinya: “Di antara hak orang tua terhadap anaknya adalah mendidiknya dengan akhlak yang baik dan memberinya nama yang baik” (HR. Baihaqi)

Berdasarkan hadits-hadits pedagogis ini dapat disimpulkan bahwa para pendidik, terutama ayah dan ibu, mempunyai tanggung-jawab sangat besar dalam mendidik anak-anak dengan kebaikan dan dasar-dasar moral (akhlak).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Mahasiswa Pasca Sarjana PTIQ jurusan Manajemen Pendidikan Islam 2012 – 2013

[2] Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988) Cet. 1, h. 413.

[3] Munawir AF, Kamus Al-Bisri: Indonesia-Arab-Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), Cet. 1, h. 140.

[4] Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,…h. 117.

[5] Shihab, Qurais. Wawasan Al-Qur’an. Bandung : Penerbit Mizan tahun 1996 cet 1 hal 210

[6] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 130

[7] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 132

 

[8] Shihab, Qurais . Tafsir Al-misbah : Jakarta: Penerbit, Lentera Hati. Tahun 2011. Vol 10 hal 311

[9] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 160

 

 

[10] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 3

[11] Ibid.

 

[12] Ali Abdul Halim Mahmud , Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004), h. 28

[13] Ibid.

[14] Ibid., h. 32

 

[15] Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, Menyelami Samudera 20 Prinsip Hasan Al-Banna, tarj., Kamal Fauzi. Ahmad Zubaidi dan Jasiman, (Solo: Era Intermedia, 2005), h. 55

[16] Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat), (Jakarta: Media Da’wah, 1986), h. 11

[17] Abdullah Nasih Ulwan, Loc. Cit.

 

[19] Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: PT Bumi Aksara ,2008), h. 114

[20] Abdullah Nasih Ulwan, Op.Cit., h. 177

 

 

Manajemen Keuangan Lembaga Pendidikan Islam


Manajemen Keuangan Dalam Pendidikan Islam

Badrudin[1]

A.    Pendahuluan

Ada ungkapan bahwa manusia adalah makhluk social. Sebagai makhluk

Social, manusia membutuhkan proses interaksi dengan manusia lain sebab manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam proses interaksi dengan manusia lain itu perlu adanya mnajemen yang mengatur semua pola dan perilaku kehipunnya. Dari srgi bahasa, manajemen berasal dari bahasa inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti penegelolan. Dengan demikian istilah manajemen maknanya sama dengan pengelolaan.[2]

            Dalam organisasi salah satu yang harus dikelola dengan baik adalah masalah keuangan. Karena berjalannya sebuah organisasi tidak terlepas dari masalah dana atau keuangan. Sekolah atau pesantren yang berada dibawah lembaga pendidikan Islam, terkadang kurang memperhatikan masalah ini. Dampak dari kurangnya pengelolan uang secara baik adalah produktifitas kerja yang menurun, dan akan berimbas kepada pelayan yang kurang baik, sehingga mutu sekolah atau pesantrenpun akan tidak maksimal.

            Makalah ini akan membahas beberapa hal sebagai berikut:

1.      Pengertian manajemen

2.      Pengertian pengelolaan keuangan

3.      Sumber-sumber keuangan dalam lembaga pendidikan Islam

4.      Pentingnya pengelolaan keuangan dalam pendidikan Islam

5.      Azas-azas pengelolaan keuangan

 

  1. Pengertian Manajemen

Manajemen  / pengelolaan sebagai sebuah istilah yang sering dipakai dalam dunia bisnis pada dasarnya juga dipakai untuk tipe organisasi, termasuk organisasi pemdidikan secara umum dan organisasi pendidikan islam khususnya. Manajemen berasalah dari bahasa latin “manus” dari bahasa perancis “mono” dan dari bahasa itali “manage, menege dan meneggiare yang berarti melatih kuda dalam melangkah-langkahkan kakinya.[3]

Menurut istilah, Nanang Fattah (2004) memberikan pengertian manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasitercapai secara effektif dan efisien. Hersey dan Blanchard (dalam reksohadiprojo,1992) memberi batasan manjemen sebagai suatu usaha yang dilakukan dengan dan bersama individu atau kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.[4]

Fayol mendefinisikan manajemen dalam 5 fungsi yaitu; 1) perencanaan (planning), 2) pengorganisasian (organising), 3) penggerakkan (commanding), 4) pengkoordinasian (coordinating), 5) pengendalian (controlling). Fungsi manajemen ini dilaksanakan oleh seluruh manajer pada semua tingkatan, namun dengan komposisi yang berbeda-beda.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa manajemen adalah serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, memotivasi, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana untuk mencapai tujuan organisasi.

 

 

  1. Pengeloaan Keuangan

Menurut kamus besar Indonesia, Pengelolaan artinya penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. Pengelolaan keuangan adalah sumber daya   yang diterima yang akan dipergunakan untuk penyelenggaraan pendidikan. Pengelolaan keuangan dimaksudkan sebagai suatu pengelolaan terhadap fungsi-fungsi keuangan.

Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian pengelolaan pendidikan. Setiap lembaga pendidikan selalu berhubungan dengan masalah keuangan, yang berkisar pada: uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), uang kesejahteraan personel dan gaji serta keuangan yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan lembaga pendidikan seperti perbaikan sarana prasarana dan sebagainya.

            E. Mulyasa (2002) menjelaskan bahwa tugas pengelolaan keuangan dapat dibagi kedalam tiga fase, yaitu:

1. Financial Planning

Financial planning merupakan kegiatan mengkoordinir semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematis tanpa menyebabkan efek samping yang merugikan.

2. Implementation

 Ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadi penyesuaian jika diperlukan.[5]

3. Evaluation

Merupakan proses evaluasi terhadap pencapaian sasaran.

Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan menganut asas pemisahan tugas antara fungsi Otorisator, Ordonator, dan Bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan.

Bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban. Kepala sekolah sebagai manajer, berfungsi sebagai otorisator dan dilimpahi fungsi ordonator untuk memerintahkan pembayaran. Namun, tidak dibenarkan melaksanakan fungsi bendaharawan karena berkewajiban melakukan pengawasan ke dalam. Sedangkan bendaharawan, di samping mempunyai fungsi-fungsi bendaharawan, juga dilimpahi fungsi ordonator untuk menguji hak atas pembayaran.

Pengelola keuangan sekolah berkewajiban untuk menentukan keuangan sekolah, cara mendapatkan dana untuk infrastruktur sekolah serta penggunaan dana tersebut untuk membiayai kebutuhan sekolah.

Tugas pengelola keuangan antara lain:

1.    Manajemen untuk perencanaan perkiraan

2.    Manajemen memusatkan perhatian pada keputusan investasi dan            pembiayaannya

3.    Manajemen kerjasama dengan pihak lain

4.    Penggunaan keuangan dan mencari sumber dananya

Seorang manajer keuangan harus mempunyai pikiran yang kreatif dan dinamis. Hal ini penting karena pengelolaan yang dilakukan oleh seorang manajer keuangan berhubungan dengan masalah keuangan yang sangat penting dalam penyelenggaraan kegiatan sekolah.

  1. Sumber – sumber Keuangan Dalam Pendidikan Islam

Pembiayaan pendidikan telah diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia 1945 (Amandemen IV) yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan; setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang; negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional lebih lanjut telah mengatur beberapa pasal yang menjelaskan pendanaan pendidikan yaitu  pada Pasal 11 Ayat 2 Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun. Lebih lanjut pada Pasal 12, Ayat (1) disebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya dan mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Di samping itu disebutkan pula bahwa setiap peserta didik berkewajiban ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada Bab VIII Wajib Belajar Pasal 34 menyatakan bahwa setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun dapat mengikuti program wajib belajar; Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat. Ketentuan mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), Ayat (2) dan Ayat (3) diatur lebih lanjut dengan PP. Pendanaan Pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan masyarakat. Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan. Pengelolaan dana pendidikan dilakukan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

 

Sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan atas tiga sumber, yaitu (1) pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah maupun kedua-duanya, yang bersifat umum atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan; (2) orang tua atau peserta didik; (3) masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat. Berkaitan dengan peneriman keuangan dari orang tua dan masyarakat ditegaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional1989 bahwa karena keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana pendidikan, tanggung jawab atas pemenuhan dana pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,masyarakat dan orang tua.

Adapun dimensi pengeluaran meliputin biaya rutin dan biaya pembangunan. Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun, seperti gaji pegawai (guru dan non guru), serta biaya operasional, biaya pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat-alat pengajaran (barang-barang habis pakai). Sementara biaya pembangunan, misalnya, biaya pembelian atau pengembangan tanah, pembangunan gedung, perbaikan atau rehab gedung, penambahan furnitur, serta biaya atau pengeluaran lain unutk barangbarang yang tidak habis pakai.

Dalam implementasi MBS, manajemen komponen keuangan harus dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai dari tahap penyusunan anggaran, penggunaan, sampai pengawasan dan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efektif, efisien, tidak ada kebocoran-kebocoran, serta bebas dari penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.

 

E.     Pentingnya Pengeloaan Keuangan Dalam Pendidikan Islam

Lembaga pendidikan dianggap suatu proses produksi yang menghasilkan lulusan berkualitas. Raymond C.Gibson mengungkapkan tentang produk pendidikan sebagai berikut “bahwa produksi dan distribusi ilmu pengetahuan di Amaerika telah berkembang menjadi perusahaan terbesar dan unsur kekuasaan utama dewasa ini berupa pendidikan dan pendidikan adalah investasi manusia (investasi investment). Ia merinci ilmu pengetahuan menjadi lima sector, yaitu:

1.      Pendidikan

2.      Penelitian dan pengembangan

3.      Media komunikasi

4.      Mesin informasi

5.      Pelayanan informasi[6]

            Pendidikan merupakan perusahaan, yaitu yang menghasilkan orang – orang yang dapat berusaha. Oleh sebab itu, pengelolaan pendidikan harus memperhatikan manajemen bisnis. Didalam penyelenggaraan pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat membutuhkan pembiayaan yang besar dan pengelolaan yang efektif.

            Menurut Mujamil Qomar (2007), berkaitan dengan penggunaan keuangan, bagi lembaga pendidikan Islam harus menjaga dan kepercayaan para pemberi dana dan juga pihak lain. Untuk itu perlu dilakukan hal-hal berikut ini :

1.      Penggunaan dana harus benar-benar sesuai dengan program yang direncanakan.

2.      Anggaran harus dipergunakan seefisien mungkin dan menghindari terjadinya kecurangan mark up pembelian atau pengadaan barang

3.      Hindari kesan bahwa kegiatan dalam sekolah sekedar untuk menghabiskan dana, sehingga harus dilakukan penghematan.

4.      Pengeluaran dana hanya dapat dilakukan oleh petugas yang berwenang sesuai dengan aturan yang berlaku.[7]

Setiap unit kerja berhubungan dengan masalah keuangan, demikian pula di lembaga Pendidikan Islam. Soal-soal yang menyangkut keuangan di madrasah pada garis besarnya berkisar pada : uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), uang kesejahteraan personel dan gaji serta keuangan yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan madrasah seperti perbaikan sarana dan sebagainya.

Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang berkaitan dengan perencanaan, pendanaan, maupun efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sistem persekolahan, peningkatan kualitas pendidikan juga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Balitbang Dikbud (1991) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan.

Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, perlu adanya pengelolaan secara menyeluruh dan professional terhadap sumber daya yang ada dalam lembaga pendidikan Islam. Salah satu sumber daya yang perlu dikelola dengan baik dalam lembaga pendidikan adalah masalah keuangan.

Dalam konteks ini, keuangan merupakan sumber dana yang sangat diperlukan madrasah sebagai alat untuk melengkapi berbagai sarana dan prasarana pembelajaran di madrasah, meningkatkan kesejahteraan guru, layanan, dan pelaksanaan program supervisi. Kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran akan berimplikasi pada semangat siswa untuk belajar, dan memudahkan guru dalam mengajar. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di sekolah harus mengetahui dan mampu mengelola keuangan sekolah / madrasah dengan baik, bertanggung jawab dan transparan kepada masyarakat dan pemerintah.

 

 

F.Prinsip – prinsip pengelolaan keuangan di Madrasah

Penggunaan keuangan didasarkan pada prinsip sebagai berikut :

a.       Hemat tidak mewah, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan tekhnis yang disyaratkan.

b.       Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program atau kegiatan.

c.       Keharusan penggunaan kemampuan.

Dalam mengelola keuangan ini, kepala sekolah berfungsi sebagai “otorisator” dan “ordonator”. Sebagai otorisator kepala sekolah diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang berkaitan dengan penerimaan atau pengeluaran anggaran. Sedangkan fungsi sebagai ordonator, kepala sekolah sebagai pejabat yang berwewenang melakukan pengujian dan memerintahan pembayaran atas segala tindakan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan.[8]

Kepala sekolah diharuskan mampu menyusun Rencana Anggaran dan Pendapatan Belanja Sekolah (RAPBS). Untuk itu kepala sekolah mengetahui sumber-sumber dana yang merupakan sumber daya sekolah. Sumber dana tersebut antara lain meliputi anggaran rutin, Dana Penunjang Pendidikan (DPD), Subsidi Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan (SBPP), Bantuan Operasional dan Perawatan (BOP), Bantuan Operasional Sekolah (BOS),(BP3), donatur, badan usaha, serta sumbangan lain-lain. Untuk sekolah-sekolah swasta sumber dana berasal dari SPP, subsidi pemerintah, donatur, yayasan, dan masyarakat secara luas.

Selain itu, biasanya madrasah juga mengembangkan penggalian dana dalam bentuk :

1.       Amal Jariyah. Amal jariyah diwujudkan berupa sumbangan orang tua siswa baru. Formula sumbangan ini diberikan setelah siswa dinyatakan diterima menjadai siswa pada suatu sekolah. Sifat amal jariyah ini tidak mengikat, sukarela dan pembayarannya bisa diangsur.

2.       Zakat Mal. Dalam hal ini, BP3 bisa mengedarkan formulir jakaat mal kepada orang tua siswa pada setiap bulan Ramadhan.[9]

3.       Uang syukuran. Orang tua diharapkan bisa mengisi khas madrasah secara sukarela sebagai rasa syukur tatkala anaknya naik kelas.

4.       Amal Jum’atau. Sebagai salah satu sarana untuk ikhlas beramal bagi setiap siswa, maka BP3 bisa mengedarkan kotak amal kepada siswa secara sukarela.

Setelah mengetahui sumber dana yang ada, selanjutnya sekolah/madrasah membuat RAPBS. Dalam menyusun RAPBS kepala sekolah sebaiknya membentuk tim dewan guru. Setelah itu tim dan kepala sekolah menyelesaikan tugas, memerinci semua anggaran pendapatan dan belanja sekolah. Dengan pelibatan para guru ini akan siperoleh rencana yang mantap, dan secara moral semua guru dan kepala sekolah merasa bertanggunng jawab terhadap keberhasilan rencana tersebut[10].

 

  1. Azas-azas Pengelolaan Keuangan

            Prosedur pengalokasian anggaran belanja pendidikan sebagai realisasi anggaran berpedoman pada :

·         Azas Plafond, yaitu anggaran belanja yang telah ditetapkan tidak dapat melebihi jumlah tertinggi dari ketentuan

·         Azas Pengeluaran Berdasarkan Mata Anggaran, yaitu setiap pengeluaran harus berpedoman pada mata anggaran yang telah ditetapkan.

·         Azas Pengeluaran Terbatas, yaitu semua pendapatan Negara baik dipusat maupun di daerah pada setiap depatemen tidak boleh langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai anggaran belanja yang telah disetujui.[11]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Koswara dan Nuryantini.2002. Manajemen Lembag Pendidikan.Bandung.Penerbit Patragading.

Sulistyorini.Manajemen Pendidikan Islam Yogyakarta.teras 2009.

Diknas.Pendekatan Tekstual (contekstual teaching learning/ctl).Jakarta Dikdasmen,2002. Hal 23Sutikno,M Sobri 2012.Manajemen Pendidikan. Lombok, Penerbit Holistika. 

Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah.2007 Bandung.Penerbit Rosda karya

 

 

 

 

 


[1] Badrudin.Mahasiswa semester 2 Pasca Sarjana Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an,Jakarta Program Manajemen Pendidikan Islam

[2] Sutikno,M Sobri 2012.Manajemen Pendidikan. Lombok, Penerbit Holistika. Cet I Hal 3

[3] Koswara dan Nuryantini.2002. Manajemen Lembaga Pendidikan.Bandung.Penerbit Patragading.hal 1

[4] Sutikno,M Sobri 2012.Manajemen Pendidikan. Lombok, Penerbit Holistika. Cet I Hal 4

[5] Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah.2007 Bandung.Penerbit Rosda karya

[6] Koswara dan Nuryantini.2002. Manajemen Lembaga Pendidikan.Bandung.Penerbit Patragading.hal 135

 

[7]Sutikno,M Sobri 2012.Manajemen Pendidikan. Lombok, Penerbit Holistika. Cet I Hal 90

 

 

[8] Diknas.Pendekatan Tekstual (contekstual teaching learning/ctl).Jakarta Dikdasmen,2002. Hal 23

[9] Sulistyorini.Manajemen Pendidikan Islam Yogyakarta.teras 2009.hal 129

[10] Sulistyorini.Manajemen Pendidikan Islam Yogyakarta.teras 2009.hal 133 Sulistyorini.Manajemen Pendidikan Islam Yogyakarta.teras 2009.hal 129

 

 

[11] Koswara dan Nuryantini.2002. Manajemen Lembaga Pendidikan.Bandung.Penerbit Patragading.hal 141

filsafat, Ilmu, dan Agama


Filsafat, Ilmu Dan Agama
Badrudin
Istilah filsafat dan agama mengandung pengertian yang dipahami secara berlawanan oleh banyak orang. Filsafat dalam cara kerjanya bertolak dari akal, sedangkan agama bertolak dari wahyu. Oleh sebab itu, banyak kaitan dengan berfikir sementara agama banyak terkait dengan pengalaman. Filsafat mebahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah sesuatu itu logis atau bukan. Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang-kadang tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya.
Perbedaan tersebut menimbulkan konflik berkepan-jangan antara orang yang cenderung berfikir filosofis dengan orang yang berfikir agamis, pada hal filsafat dan agama mempunyai fungsi yang sama kuat untuk kemajuan, keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Untuk menelusuri seluk-beluk filsafat dan agama secara mendalam perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama dan filsafat itu.

A. Pengertian Filsafat
Salah satu kebiasaan dunia penelitian dan keilmuan, berfungsi bahwa penemuan konsep tentang sesuatu berawal dari pengetahuan tentang satuan-satuan. Setiap satuan yang ditemukan itu dipilah-pilah, dikelompokkan berdasarkan persamaan, perbedaan, ciri-ciri ter-tentu dan sebagainya. Berdasarkan penemuan yang telah diverivikasi itulah orang merumuskan definisi tentang sesuatu itu.
Dalam sejarah perkembangan pemikirian manusia, filsafat juga bukan diawali dari definisi, tetapi diawali dengan kegiatan berfikir tentang segala sesuatu secara mendalam. Orang yang berfikir tentang segala sesuatu itu tidak semuanya merumuskan definisi dari sesuatu yang dia teliti, termasuk juga pengkajian tentang filsafat.
Jadi ada benarnya Muhammad Hatta dan Langeveld mengatakan “lebih baik pengertian filsafat itu tidak dibica-rakan lebih dahulu. Jika orang telah banyak membaca filsafat ia akan mengerti sendiri apa filsafat itu. Namun demikian definisi filsafat bukan berarti tidak diperlukan. Bagi orang yang belajar filsafat definisi itu juga diperlu-kan, terutama untuk memahami pemikiran orang lain.
Dengan demikian, timbul pertanyaan siapa yang pertama sekali memakai istilah filsafat dan siapa yang merumuskan definisinya. Yang merumuskan definisinya adalah orang yang datang belakangan. Penggunaan kata filsafat pertama sekali adalah Pytagoras sebagai reaksi terhadap para cendekiawan pada masa itu yang menama-kan dirinya orang bijaksana, orang arif atau orang yang ahli ilmu pengetahuan. Dalam membantah pendapat orang-orang tersebut Pytagoras mengatakan pengetahuan yang lengkap tidak akan tercapai oleh manusia.
Semenjak semula telah terjadi perbedaan pendapat tentang asal kata filsafat. Ahmad Tafsir umpamanya me-ngatakan filsafat adalah gabungan dari kata philein dan sophia. Menurut Harun Nasution kedua kata tersebut setelah digabungkan menjadi philosophia dan diterjemah-kan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti cinta hikmah atau kebijaksanaan.
Orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa mereka dan menyesuaikannya dengan su-sunan kata bahasa Arab, yaitu falsafa dengan pola fa`lala. Dengan demikian kata benda dari falsafa itu adalah falsafah atau filsaf.
Dalam al-Quran kata filsafat tidak ada, yang ada hanya adalah kata hikmah. Pada umumnya orang mema-hami antara hikmah dan kebijaksanaan itu sama, pada hal sesungguhnya maksudnya berbeda. Harun Hadiwijono mengartikan kata philosophia dengan mencintai kebijaksa-naan, sedangkan Harun Nasution mengartikan dengan hikmah. Kebijaksanaan biasanya diartikan dengan peng-ambilan keputusan berdasarkan suatu pertimbangan tertentu yang kadang-kadang berbeda dengan peraturan yang telah ditentukan. Adapun hikmah sebenarnya diungkapkan pada sesuatu yang agung atau suatu peristiwa yang dahsyat atau berat. Namun dalam konteks filsafat kata philosophia itu merupakan terjemahan dari love of wisdom.
Dari pengertian kebahasaan itu dapat dipahami bahwa filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan. Tetapi pengertian itu belum memberikan pemahaman yang cu-kup, karena maksudnya belum dipahami dengan baik. Pemahaman yang mendasar tentang filsafat diperoleh melalui pengertian. Karena berbagai pandangan dalam melihat sesuatu menyebabkan pandangan pemikir tentang filsafat juga berbeda. Oleh sebab itu, banyak orang mem-berikan pengertian yang berbeda pula tentang filsafat.
Herodotus mengatakan filsafat adalah perasaan cinta kepada ilmu kebijaksanaan dengan memperoleh keahalian tentang kebijaksanaan itu. Plato mengatakan filsafat ada-lah kegemaran dan kemauan untuk mendapatkan penge-tahuan yang luhur. Aristoteles (384-322 sm) mengatakan filsafat adalah ilmu tentang kebenaran. Cicero (106-3 sm.) mengatakan filsafat adalah pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.
Thomas Hobes (1588-1679 M) salah seorang filosof Inggris mengemukakan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan hubungan hasil dan sebab, atau sebab dan hasilnya dan oleh karena itu terjadi perubahan. R. Berling mengatakan filsafat adalah pemikiran-pemikiran yang bebas diilhami oleh rasio mengenai segala sesuatu yang timbul dari pengalaman-pengalaman.
Alfred Ayer mengatakan filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah semen-jak zaman Yunani dalam hal-hal pokok. Pertanyaan-perta-nyaan mengenai apa yang dapat diketahui dan bagaimana mengetahuinya, hal-hal apa yang ada dan bagaimana hu-bungannya satu sama lain. Selanjutnya mempermasalah-kan apa-apa yang dapat diterima, mencari ukuran-ukuran dan menguji nilai-nilainya apakah asumsi dari pemikiran itu dan selanjutnya memeriksa apakah hal itu berlaku.
Immanuel Kant (1724-1804 M) salah seorang filosof Jerman mengatakan filsafat adalah pengetahuan yang men-jadi pokok pangkal pengetahuan yang tercakup di dalam-nya empat persoalan : yaitu Apa yang dapat diketahui, Jawabnya : Metafisika. Apa yang seharusnya diketahui ? Jawabnya : etika. Sampai di mana harapan kita ? Jawabnya :Agama. Apa manusia itu ? Jawabnya Antropologi. Jujun S Suriasumantri mengatakan bahwa filsafat menelaah segala persoalan yang mungkin dapat dipikirkan manu-sia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir, filsafat mempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab suatu per-soalan, filsafat mulai merambah pertanyaan lain.
Ir. Poedjawijatna mengatakan filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka. Titus mem-berikan difinisi bahwa filsafat itu adalah sikap kritis, terbuka, toleran, mau melihat persoalan tanpa prasangka. Selanjutnya dia mengatakan bahwa dalam mendefinisikan filsafat sekurang-kurangnya bertolak dari empat sudut pandang yang saling melengkapi.
Pertama filsafat adalah suatu sikap terhadap hidup dan alam semesta. Dari sudut ini dapat dijelaskan bahwa suatu sikap filosofis adalah sikap berfikir yang melibatkan usaha untuk memikirkan masalah hidup dan alam semesta dari semua sisi yang meliputi kesiapan menerima hidup dalam alam semesta sebagaimana adanya dan mencoba melihat dalam keseluruhan hubungan. Sikap filosofik dapat ditandai misalnya dengan sikap kritis, berfikir terbuka, toleran dan mau melihat dari sisi lain.
Kedua adalah suatu metode berfikir reflektif dan metode pencarian yang beralasan. Ini bukalah metode fil-safat yang eksklusif, tetapi merupakan metode berfikir yang akurat dan sangat berhati-hati terhadap seluruh pengalaman.
Ketiga filsafat adalah kumpulan masalah. Semenjak dahulu sampai sekarang banyak masalah yang sangat men-dasar yang masih tetap tidak terpecahkan, meskipun para filosof telah benyak mencoba memberikan jawabannya. Contohnya apakah kebenaran itu ? apakah keindahan itu, apakah perebedaan antara benar dan salah. ?
Keempat filsafat merupakan kumpulan teori atau sistem-sistem pemikiran. Dalam hal ini filsafat berarti teori-teori filosofis yang beraneka ragam atau sistem-sistem pemikiran yang telah muncul dalam sejarah yang biasanya dikaitkan dengan nama-nama filosof ; seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, Agustinus. Mereka sangat berpengaruh bagi pemikiran di masa sekarang. Dari mereka lahir istilah-istilah seperti idealisme, realisme, pragmatisme dan sebagainya.
B.Pengertian Ilmu
Ilmu merupakan suatu perwujudan kebudayaan manusia yang mengacu pada aktivitas pemikiran atau riset, metode ilmiah dan pengetahuan. Ilmu adalah kumpulan pengetahuan yang disusun secara konsisten dan kebenarannya telah teruji secara empiris.
Perlu disadari bahwa pembuktian dalam ilmu tidak bersifat absolut. Ilmu membatasi diri pada pengkajian objek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia. T.S. Kuhn dalam bukunya “the structure of scientific revolution” memberikan ciri sebuah ilmu dalam 9 pokok pikiran sebagai berikut :
1. Realism. Ilmu adalah suatu percobaan untuk mendapatkan satu realitas dunia, berupa kebenaran tentang dunia.
2. Demarcation. Ada perbedaan yang jelas antara teori ilmu dan kepercayaan, antara ilmu dan bukan ilmu.
3. Science is cumulative. Ilmu yang baru merupakan menyempurnakan dari ilmu-ilmu sebelumnya. Teori Einstein adalah generalisasi teori Newton.
4. Observation-Theory distinction. Ada perbedaan yang cukup kontras antara hasil observasi dan pernyataan teori. Teori Copernicus tentang tata surya menjelaskan bahwa matahari mengitari bumi, sedangkan galileo menyatakan bahwa bumi yang mengitari matahari.
5. Foundation. Observasi dan eksperimen meletakan dasar untuk justifikasi dari hepotesis dan teori.
6. Theories have a deductive structure. Teori memiliki dan dapat berkembang melalui deductive observation dan dari postulat yang ada.
7. Konsep-konsep ilmiah agak tepat (rather precise) dan term yang digunakan dalam ilmu memilki arti yang fix.
8. A context of justification and context of discovery. Ada suatu cara untuk melakukan jastifikasi dan penemuan baru.
9. The unity of science. Seharusnya ada stu ilmu untuk satu dunia nyata. Ilmu sosuologi dapat diturunkan dari ilmu psikologi, ilmu psikologi dari ilmu biolgi, ilmu biologi dari ilmu kimia, dan ilmu kimia dari ilmu fisika.
Ilmu dapat ditelusuri secara utuh dari tiga aspek atau pendekatan yaitu : pertama ilmu sebagai aktifitas, kedua ilmu sebagai metode ilmiah, dan ketiga ilmu sebagai pengetahuan sistematik. Ilmu sebagai aktifitas merujuk pada proses riset dan logika berfikir, ilmu sebagai prosedur merujuk pada metode ilmiah, dan ilmu dipandang sebagai produk(hasil) merujuk pada sekumpulan pengetahuan ilmiah.

B. Pengertian Agama
Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskrit “a” yang berarti tidak dan “gam” yang berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalam kehidupan manusia. Ter-nyata agama memang mempunyai sifat seperti itu. Agama, selain bagi orang-orang tertentu, selalu menjadi pola hidup manusia. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaitu ilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan “Yang Kudus” dan hubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat. Kata religi berasal dari bahasa Latin rele-gere yang berarti mengumpulkan, membaca. Agama me-mang merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan dan semua cara itu terkumpul dalam kitab suci yang harus dibaca. Di sisi lain kata religi berasal dari religare yang berarti mengikat. Ajaran-ajaan agama memang mem-punyai sifat mengikat bagi manusia. Seorang yang beragama tetap terikat dengan hukum-hukum dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama.
Sidi Gazalba mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata relegere asal kata relgi mengandung makna berhati-hati hati-hati. Sikap berhati-hati ini disebabkan dalam religi terdapat norma-norma dan aturan yang ketat. Dalam religi ini orang Roma mempunyai anggapan bahwa manusia harus hati-hati terhadap Yang kudus dan Yang suci tetapi juga sekalian tabu. Yang kudus dipercayai mempunyai sifat baik dan sekaligus mempunyai sifat jahat.
Religi juga merupakan kecenderungan asli rohani manusia yang berhubungan dengan alam semseta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir hakikat dari semua itu. Religi mencari makna dan nilai yang berbeda-beda sama sekali dari segala sesuatu yang dikenal. Karena itulah religi tidak berhubungan dengan yang kudus. Yang kudus itu belum tentu Tuhan atau dewa-dewa. Dengan demikian banyak sekali kepercayaan yang biasanya disebut religi, pada hal sebenarnya belum pantas disebut religi karena hubungan antara manusia dan yang kudus itu belum jelas. Religi-religi yang bersahaja dan Budhisma dalam bentuk awalnya misalnya menganggap Yang kudus itu bukan Tuhan atau dewa-dewa. Dalam religi betapa pun bentuk dan sifatnya selalu ada penghayatan yang berhu-bungan dengan Yang Kudus.
Manusia mengakui adanya ketergantungan kepada Yang Mutlak atau Yang Kudus yang dihayati sebagai kontrol bagi manusia. Untuk mendapatkan pertolongan dari Yang Mutlak itu manusia secara bersama-sama men-jalankan ajaran tertentu.
Jadi religi adalah hubungan antara manusia dengan Yang Kudus. Dalam hal ini yang kudus itu terdiri atas ber-bagai kemungkinan, yaitu bisa berbentuk benda, tenaga, dan bisa pula berbentuk pribadi manusia.
Selain itu dalam al-Quran terdapat kata din yang menunjukkan pengertian agama. Kata din dengan akar katanya dal, ya dan nun diungkapkan dalam dua bentuk yaitu din dan dain. Al-Quran menyebut kata din ada me-nunjukkan arti agama dan ada menunjukkan hari kiamat, sedangkan kata dain diartikan dengan utang.
Dalam tiga makna tersebut terdapat dua sisi yang berlainan dalam tingkatan, martabat atau kedudukan. Yang pertama mempunyai kedudukan, lebih tinggi, ditakuti dan disegani oleh yang kedua. Dalam agama, Tuhan adalah pihak pertama yang mempunyai kekuasaan, kekuatan yang lebih tinggi, ditakuti, juga diharapkan untuk memberikan bantuan dan bagi manusia. Kata din dengan arti hari kiamat juga milik Tuhan dan manusia tunduk kepada ketentuan Tuhan. Manusia merasa takut terhadap hari kiamat sebagai milik Tuhan karena pada waktu itu dijanji-kan azab yang pedih bagi orang yang berdosa. Adapun orang beriman merasa segan dan juga menaruh harapan mendapat rahmat dan ampunan Allah pada hari kiamat itu. Kata dain yang berarti utang juga terdapat pihak pertama sebagai yang berpiutang yang jelas lebih kaya dan yang kedua sebagai yang berutang, bertaraf rendah, dan merasa segan terhadap yang berpiutang. Dalam diri orang yang berutang pada dasarnya terdapat harapan supaya utangnya dimaafkan dengan arti tidak perlu dibayar, walaupun harapan itu jarang sekali terjadi. Dalam Islam manusia berutang kepada Tuhan berupa kewajiban melaksanakan ajaran agama.
Dalam bahasa Semit istilah di atas berarti undang-undang atau hukum. Kata itu juga berarti menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan dan semua itu memang terdapat dalam agama. Di balik semua aktifitas dalam agama itu terdapat balasan yang akan diterimanya nanti. Balasan itu diperoleh setelah manusia berada di akhirat.
Semua ungkapan di atas menunjuk kepada pengerti-an agama secara etimologi. Namun banyak pula di antara pemikir yang mencoba memberikan definisi agama. Dengan demikian agama juga diberi definisi oleh berbagai pemikir dalam bentuk yang berbagai macam. Dengan kata lain agama itu mempunyai berbagai pengertian. Dengan istilah yang sangat umum ada orang yang mengatakan bahwa agama adalah peraturan tentang cara hidup di dunia ini.
Sidi Gazalba memberikan definisi bahwa agama ialah kepercayaan kepada Yang Kudus, menyatakan diri berhubungan dengan Dia dalam bentuk ritus, kultus dan permohonan dan membentuk sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu. Karena dalam definisi yang dikemuka-kan di atas terlihat kepercayaan yang diungkapkan dalam agama itu masih bersifat umum, Gazalba mengemukakan definisi agama Islam, yaitu: kepercayaan kepada Allah yang direalisasikan dalam bentuk peribadatan, sehingga membentuk taqwa berdasarkan al-Quran dan Sunnah.
Muhammad Abdul Qadir Ahmad mengatakan agama yang diambil dari pengertian din al-haq ialah sistem hidup yang diterima dan diredai Allah ialah sistem yang hanya diciptakan Allah sendiri dan atas dasar itu manusia tunduk dan patuh kepada-Nya. Sistem hidup itu mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan yang disyari`atkan Allah untuk manusia.
Selanjutnya dijelaskan bahwa agama itu dapat dike-lompokkan menjadi dua bentuk, yaitu agama yang menekankan kepada iman dan kepercayaan dan yang ke dua menekankan kepada aturan tentang cara hidup. Namun demikian kombinasi antara keduanya akan menjadi definisi agama yang lebih memadai, yaitu sistem keperca-yaan dan praktek yang sesuai dengan kepercayaan tersebut, atau cara hidup lahir dan batin.
Bila dilihat dengan seksama istilah-istilah itu ber-muara kepada satu fokus yang disebut ikatan. Dalam agama terkandung ikatan-ikatan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap manusia, dan ikatan itu mem-punyai pengaruh yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Ikatan itu bukan muncul dari sesuatu yang umum, tetapi berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari manusia.
Harun Nasution mengemukakan delapan definisi untuk agama, yaitu:
1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang me-nguasai manusia.
3. Mengikatkan diri kepada suatu bentuk hidup yang me-ngandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbu-atan-perbuatan manusia.
4. Kepercayaan kepada sesuatu ikatan gaib yang menim-bulkan cara hidup tertentu.
5. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.
6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini berasal dari suatu kekuatan gaib.
7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia.
8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
Definisi yang dikemukakan Harun Nasution dapat disederhanakan menjadi dua definisi saja. Dari nomor 1 sampai 7 dapat diketahui bahwa agama berkaitan dengan keterikatan manusia dengan kekuatan gaib yang lebih ting-gi dari manusia yang mendorong manusia untuk berbuat baik, bisa yang berkekuatan gaib itu dewa-dewa, atau roh-roh yang dipercayai mempunyai kekuasaan luar biasa melebihi dari dirinya, sekalipun pada hakikatnya yang dipercayai itu adalah benda mati seperti berhala dalam zaman Jahiliah. Adapun definisi nomor 8 terfokus kepada agama wahyu yang diturunkan melalui nabi-nabi. Jika disimpulkan, definisi-definisi agama itu menunjuk kepada kuatan gaib yang ditakuti, disegani oleh manusia, baik oleh kekuasaan maupun karena sikap pemarah dari yang gaib itu.
Dari delapan difinisi di atas dapat diklasifikasikan bahwa terdapat empat hal penting dalam setiap agama, yaitu :
Pertama, kekuatan gaib, manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong. Oleh sebab itu, manusia merasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. Hubungan baik itu dapat diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangan kekuatan gaib itu.
Kedua keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidup akhirat tergantung pada adanya hu-bungan baik dengan kekuatan gaib itu. Dengan hilangnya hubungan baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan, yang dicari akan hilang pula.
Ketiga respon yang bersifat emosionil dari manusia. Res-pon itu bisa berupa rasa takut seperti yang terdapat dalam agama-agama primitif, atau perasaan cinta seperti yang terdapat dalam agama-agama monoteisme. Selanjutnya respon mengambil bentuk penyembahan yang terdapat di dalam agama primitif, atau pemujkaan yang terdapat dalam agama menoteisme. Lebih lanjut lagi respon itu mengambil bentuk cara hidup tertentu bagi masyarakat yang bersangkutan.
Keempat paham adanya yang kudus (sacred) dan suci dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama itu dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.
Hubungan Filsafat dan Ilmu
Interaksi antara ilmu dan filsafat mengandung arti bahwa filsafat dewasa ini tidak dapat berkembang dengan baik jika terpisah dari ilmu. Ilmu tidak dapat tumbuh dengan baik tanpa kritik dari filsafat. Dengan mengutip ungkapan dari Michael Whiteman (dalam Koento Wibisono dkk.1997), bahwa ilmu kealaman persoalannya dianggap bersifat ilmiah karena terlibat dengan persoalan-persoalan filsafati sehingga memisahkan satu dari yang lain tidak mungkin. Sebaliknya, banyak persoalan filsafati sekarang sangat memerlukan landasan pengetahuan ilmiah supaya argumentasinya tidak salah. Lebih jauh, Jujun S. Suriasumantri (1982:22), dengan meminjam pemikiran Will Durant menjelaskan hubungan antara ilmu dengan filsafat dengan mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang berhasil merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.
Untuk melihat hubungan antara filsafat dan ilmu, ada baiknya kita lihat pada perbandingan antara ilmu dengan filsafat dalam bagan di bawah ini, (disarikan dari Drs. Agraha Suhandi, 1992)
Ilmu Filsafat
Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti
Obyek penelitian yang terbatas
Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai tertentu.
Bertugas memberikan jawaban Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan
Keseluruhan yang ada
Menilai obyek renungan dengan suatu makna, misalkan , religi, kesusilaan, keadilan dsb.
Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu

Hubungan Filsafat dan Agama
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa filsafat dan agama adalah dua pokok persoalan yang berbeda, namun memiliki hubungan. Agama banyak berbicara tentang hubungan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, sedangkan filsafat seperti yang dikemukakan di atas bertujuan menemukan kebenaran. Jika kebenaran yang sebenarnya itu mempunyai ciri sistematis, jadilah ia kebenaran filsafat.
Jika agama membincangkan tentang eksistensi-eksistensi di alam dan tujuan akhir perjalanan segala maujud, lantas bagaimana mungkin agama bertentangan dengan filsafat. Bahkan agama dapat menyodorkan asumsi-asumsi penting sebagai subyek penelitian dan pengkajian filsafat. Pertimbangan-pertimbangan filsafat berkaitan dengan keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi agama hanya akan sesuai dan sejalan apabila seorang penganut agama senantiasa menuntut dirinya untuk berusaha memahami dan menghayati secara rasional seluruh ajaran, doktrin, keimanan dan kepercayaan agamanya.
Dengan demikian, filsafat tidak lagi dipandang sebagai musuh agama dan salah satu faktor perusak keimanan, bahkan sebagai alat dan perantara yang bermanfaat untuk meluaskan pengetahuan dan makrifat tentang makna terdalam dan rahasia-rahasia doktrin suci agama, dengan ini niscaya menambah kualitas pengahayatan dan apresiasi kita terhadap kebenaran ajaran agama.
Isi filsafat itu ditentukan oleh objek apa yang dipikir-kan. Karena filsafat mempunyai pengertian yang berbeda sesuai dengan pandangan orang yang meninjaunya, akan besar kemungkinan objek dan lapangan pembicaraan filsafat itu akan berbeda pula. Objek yang dipikirkan filosof adalah segala yang ada dan yang mungkin ada, baik ada dalam kenyataan, maupun yang ada dalam fikiran dan bisa pula yang ada itu dalam kemungkinan. Sehingga dalam hal ini hubungan filsafat dengan agama adalah agama sebagai objek kajian filsafat.
Agama adalah salah satu materi yang menjadi sasaran pembahasan filsafat. Dengan demikian, agama menjadi objek materia filsafat. Ilmu pengeta-huan juga mempunyai objek materia yaitu materi yang empiris, tetapi objek materia filsafat adalah bagian yang abstraknya. Dalam agama terdapat dua aspek yang berbeda yaitu aspek pisik dan aspek metefisik. Aspek metafisik adalah hal-hal yang berkaitan dengan yang gaib, seperti Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan hubungan manusia dengan-Nya, sedangkan aspek pisik adalah manusia sebagai pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat.
Kedua aspek ini (pisik dan metafisik) menjadi objek materia filsafat. Namun demikian objek filsafat agama banyak ditujukan kepada aspek metafisik daripada aspek fisik. Aspek fisik itu sebenarnya sudah menjadi pembahasan ilmu seperti ilmu sosiologi, psikologi, ilmu biologi dan sebagainya. Ilmu dalam hal ini sudah memi-sahkan diri dari filsafat. Dengan demikian, agama ternyata termasuk objek materia filsafat yang tidak dapat diteliti oleh sain. Objek materia filsafat jelas lebih luas dari objek materi sain. Perbedaan itu sebenarnya disebabkan oleh sifat penyelidikan. Penyelidikan filsafat yang dimaksud di sini adalah penyelidikan yang mendalam, atau keingintahuan filsafat adalah bagian yang terdalam. Yang menjadi penyelidikan filsafat agama adalah aspek yang terdalam dari agama itu sendiri.
Sedangkan para tokoh Islam juga berpendapat adanya hubungan antara filsafat dan agama. Abu Hayyan Tauhidi, dalam kitab al-Imtâ’ wa al-Muânasah, berkata, “Filsafat dan syariat (agama) senantiasa bersama, sebagaimana syariat dan filsafat terus sejalan, sesuai, dan harmonis”. Abul Hasan ‘Amiri, dalam pasal kelima kitab al-Amad ‘ala al-Abad, juga menyatakan, “Akal mempunyai kapabilitas mengatur segala sesuatu yang berada dalam cakupannya, tetapi perlu diperhatikan bahwa kemampuan akal ini tidak lain adalah pemberian dan kodrat Tuhan. Sebagaimana hukum alam meliputi dan mengatur alam ini, akal juga mencakup alam jiwa dan berwenang mengarahkannya. Tuhan merupakan sumber kebenaran yang meliputi secara kodrat segala sesuatu.
Cakupan kodrat adalah satu cakupan dimana Tuhan memberikan kepada suatu makhluk apa-apa yang layak untuknya. Dengan ini, dapat kesimpulan bahwa alam natural secara esensial berada dalam ruang lingkup hukum materi dan hukum materi juga secara substansial mengikuti jiwa, dan jiwa berada di bawah urusan akal yang membawa pesan-pesan Tuhan. Hal itu menunjukkan jika filsafat dan agama terdapat hubungan yang saling terkait satu dengan yang lainnya.
Tidaklah terlalu asing orang mengatakan bahwa pembahasan filsafat terhadap agama tidak menambah keyakinan atau tidak meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan. Ini bisa berarti bahwa pembahasan agama secara filosofis tidak perlu dan usaha itu adalah sia-sia. Tetapi perlu diingat bahwa pembahasan agama dengan kacamata filsafat bertujuan untuk menggali kebenaran ajaran-ajaran agama tertentu atau paling tidak untuk mengemukakan bahwa hal-hal yang diajarkan dalam agama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip logika. Sehingga dari sanalah diketahui bahwa terdapat hubungan erat antara filsafat dan agama.