Lima Kriteria Pemimpin Hebat


Tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Anda harus siap melawan arus dan mengambil langkah berani melawan oposisi. Satu hal yang pasti, diperlukan keberanian untuk melakukan hal-hal yang tidak berani dilakukan oleh orang lain.
Tipe keberanian seperti ini datang dari karakter tegas seseorang. Bersikap tegar dan berani menyambar kesempatan yang lewat, merupakan cara untuk mengukir nama Anda di dalam sejarah.
Nah, berikut ini adalah lima karakter yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yang dapat membantu Anda naik ke posisi puncak:
1. Hormati orang jika Anda ingin dihormati
Aturan pertama seorang pemimpin berhubungan dengan rasa hormat. Meraih kekuasaan melalui cara yang pantas lebih layak dibandingkan melakukannya dengan cara-cara licik dan serba sikut-menyikut. Dengan demikian, atasan yang telah menjabat lebih lama akan lebih mendukung dan menghargai Anda. Sementara itu, orang-orang yang lebih muda akan sangat senang jika mendapatkan kesempatan belajar dari pengalaman Anda.
Ingat, menunjukkan rasa hormat bukan berarti Anda harus menjadi seorang ‘penjilat’. Artinya, Anda harus bersikap tegas dan memperhatikan kebutuhan organisasi. Yang terpenting, jangan pernah membiarkan bawahan menyalahartikan kebaikan Anda sebagai kelemahan.
2. Sebuah keputusan keliru lebih baik daripada keraguan
Upaya merebut kekuasaan sekaligus bisa menciptakan hasil yang terpolarisasi. Dalam beberapa kasus, sebuah keputusan besar dalam hidup membawa pengakuan, bahkan mungkin kemulian
Jika Anda berjuang terlalu lama untuk mengambil sebuah keputusan, orang lain mungkin akan mengambil alih tugas tersebut dari Anda. Sebagai atasan, Anda harus menciptakan cukup rasa segan dari bawahan sehingga tidak akan berani mengkhianati Anda. Menggunakan kekuasaan dan kendali tidak harus berarti otoriter. Tetapi, harus ada kejelasan siapa yang berhak dan bertanggung jawab untuk mengambil sebuah keputusan.
3. Jangan menyerang kecuali terpaksa
Seorang pemimpin yang efektif mampu menyingkirkan berbagai penghambat kemajuan organisasinya. Selama perjalanan karier Anda, barangkali akan ada saja halangan yang muncul di tengah jalan dan menghambat langkah Anda. Sebagai seorang pemimpin, Anda harus bisa menjaga agar kehidupan berorganisasi tetap berjalan lancar. Salah satu caranya yakni memberikan perlakuan sama terhadap setiap orang, mulai dari CEO sampai petugas kebersihan malam.
Bertindaklah selaku seorang pengawas yang menyenangkan. Jika seseorang menghambat kinerja perusahaan, berikan dia semangat dan dukungan. Jika dia masih tetap menjadi hambatan, berikan sedikit tekanan. Jika masih belum berhasil, Anda mungkin harus mempertimbangkan cara lain yang lebih efektif.
4. Ambil kesempatan dan berusaha
Dalam hidup, ada berbagai momen persimpangan ketika seseorang harus memutuskan, apakah ia akan mengambil kesempatan yang lewat atau cukup puas menjadi ‘catatan kaki’ dalam sejarah orang lain.
Sejarah adalah kompilasi persimpangan antara orang-orang yang membuat pilihan yang benar, dan orang-orang yang membuat pilihan yang salah. Untuk bisa dikenal, Anda harus menjadi orang yang berani mengambil kesempatan dan mencoba.
5. Bekerja lebih keras dari orang lain
Tanpa kerja keras, Anda tidak akan pernah menjadi seorang pemimpin. Jika Anda selalu ingin berbuat lebih banyak, selalu bekerja demi mencapai tujuan, maka waktu yang Anda investasikan akan menciptakan kesempatan bagi Anda.
Ketika Anda berhasil menjadi seorang pemimpin, semua orang akan ingin menjadi seperti Anda. Mereka akan menjadikan Anda sebagai panutan. Ketika momen tersebut datang, jaga kepala agar tetap tegak dan lanjutkan pekerjaan. Sebab, rasa hormat bisa menguap dengan cepat.

https://www.facebook.com/notes/motivasi-dan-inspirasi-sukses-/lima-kriteria-pemimpin-hebat/231323393550572

Soal untuk kelas X


Tulis soal dan jawaban pada kertas HVS
A. Jawablah pertanyaan dibawah ini!

1. Peristiwa hijrahnya kaum muslimin dari Makkah ke Madinah terjadi karena ….
A. Agama Islam tidak berkembang di kota Makkah
B. Tindakan kekerasa musyrikin Quraiys terhadap kaum muslimin Makkah
C. Keinginan kaum muslimin Makkah
D. Keinginan kaum muslimin Madinah
E. Kota Yatsrin tempat yang aman bagi kaum muslimin
2. Setelah kaum muslimin hijrah ke Yatsrib baru kemudian Rasulullah SAW menyusul kemudian, untuk mengelabuhi musuh sebelum berangkat ke Madinah Rasul SAW bersembunyi di ….
A. Gua Hiro’
B. Gua Tsur
C. Rumah Ali bin Abi Thalib
D. Jabal Rahmah
E. Rumah Abu Bakar
3. Setelah menempuh perjalanan jauh dan amat panas akhirnya Rasulullah SAW singgah di Quba sebelum kota Yatsrib pada hari senin, tanggal …..
A. 8 Dzulhijjah tahun ke- 1 H
B. 9 Dzulhijjah tahun ke- 1 H
C. 10 Dzulhijjah tahun ke- 1 H
D. 8 Rabu’ul awal tahun ke- 1 H
E. 9 Rabu’ul awal tahun ke- 1 H
4. Masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah SAW pada waktu hijrah adalah ….
A. Masjid Nabawi
B. Masjidil Haram
C. Masjid Quba
D. Masjidil Aqsa
E. Masjid Madinah
5. Kedatangan Rasulullah SAW disambut dengan hangat penuh kerinduan oleh kaum muslimin di Yatsrib, dan sejak kedatangan beliau kota Yatsrib berubah namanya menjadi ….
A. Kota Madinah
B. Madinatur Rasul
C. Madinah Al-Munawaroh
D. Madinatun Nabi
E. Semua jawaban benar
6. Dalam membina masyarakat Islam di Madinah usaha pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah ….
A. Mendirikan Masjid
B. Mendirikan baitul maal
C. Membangun rumah
D. Menyusun strategi perang
E. Membuat dasar-dasar pemerintahan
7. Untuk mempererat hubungan kaum Muhajirin dan Ansor maka Rasulullah SAW melakukan strategi …..
A. memperluas wilayah
B. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansor
C. Mendirikan tempat usaha
D. Mendirikan Madrasah
E. Mendirikan monument persaudaraan
8. Guna menciptakan suasana tentram di kota Madinah, Rasulullah SAW membuat perjanjian persahabatan dan perdamaina dengan kaum Yahudi yang kemudian di kenal dengan nama ….
A. Haji Wada’
B. Perjanjian Hudaibiyah
C. Piagam Madinah
D. Piagam perdamaian
E. Asbabun Nuzul
9. Tersebut di bawah ini adalah merupakan cirri-ciri ayat Al-Qur’an yang turun di Madinah :
A. Berisi tentang Tauhid
B. Ayatnya pendek-pendek
C. Dimulai dengan Ya-ayyuhannas
D. Sebagian besar berisi tentang hubungan kemasyarakatan
E. Mengajarkan tentang ke Esaan Allah
10. Orang-orang Yahudi di Madinah di usir oleh kaum muslimin pada waktu itu, karena ….
A. mereka sedikit jumlahnya
B. mereka mengingkari perjanjian
C. mereka tidak mempercayai Rasul SAW
D. sebagian dari mereka orang-orang munafik
E. tidak mau menyembah kepada Allah SWT
11. Perang yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin terhadap kaum musyrikin quraiys adalah ….
A. perang Badar
B. perang Uhud
C. perang Ahzab
D. perang Khandaq
E. perang Mu’tah
12. Tersebut di bawah ini adalah sahabat Rasulullah SAW yang gugur sebagai syuhada’ dalam perang uhud:
A. Abu Bakar
B. Umar bin Khattab
C. Hamzah bin Abdul Muthalib
D. Ali bin Abi Thalib
E. Usman bin Affan
13. Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 H, dalam Al-Qur’an peristiwa ini disebut dengan Yaumul Furqon yang artinya :
A. hari berkabung
B. hari kemenangan
C. hari turunnya rahmat
D. hari yang agung
E. hari pemisah antara yang hak dan yang bathil
14. Perang yang menggunakan parit untuk pertahanan kaum muslimin di Madinah dikenal dengan nama ….
A. perang Uhud
B. perang Khandaq
C. perang Ahzab
D. perang Mu’tah
E. perang parit
15. Para peristiwa khotbah A-Wada’i Rasulullah SAW menyampaikan khotbah, yang kemudian dikenal dengan haji Wada’. Hal ini terjadi pada tahun :
A. 8 H
B. 9 H
C. 10 H
D. 11 H
E. 12 H

B. Diskusikan dengan temanmu kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Baiah Al-Aqobah Ats-Tsaniyah?
2. Usaha-usaha apakah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam membina masyarakat Islam di Madinah? Jelaskan.
3. Mengapa Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansor dalam membina masyarakat Islam di Madinah? Berikan alasanmu.
4. Jelaskan salah satu isi Piagam Madinah dan dampak politisnya bagi umat Islam?
5. Orang-orang Yahudi di Madinah meyakini akan datangnya Rasul terakhir sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci mereka! Bagaimana tanggapan mereka setelah datangnya Rasulullah SAW?
6. Mengapa orang-orang Yahudi Bani Qainuqa di usir dari Madinah oleh kaum muslimin? Jelaskan.
7. Jelaskan faktor-faktor yang menyebakan kaum muslimin memperoleh kemenangan dalam perang Badar tanggal 17 Ramadhan 2 H?
8. Sebutkan dampak politik bagi umat Islam setelah terjadinya perjanjian Hudaibiyah?
9. Apa yang menyebabkan terjadinya perang Khandak
10. Perubahan apakah yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW terhadap bangsa Arab dan kaum muslimin?

Tugas untuk kelas X SMAN 8 Kota Tangerang


1.Bacalah sejarah perjuangan Rasulullah SAW pada priode Madinah, setelah itu jawablah pertanyaan dibawah ini dalam kertas HVS
a. Buatkan rangkuman apa yang telah anda baca dari sejarah Rasulullah SAW !
b. Apa kunci sukses perjuangan Rasulullah di Madinah !
c. Tuliskan pendapat orientalis terhadap pribadi Rasulullah SAW !
d. Tuliskan pendapat kalian terhadap perjuangan Rasulullah di Madinah.
Referensi
Buku Paket
Internet
Buku lainnya yang relevan

ASPEK-ASPEK ETOS KERJA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA


 

 

 

Isu tentang pentingnya meningkatkan etos (etika) kerja pada organisasi pemerintah dan swasta semakin mencuat akhir-akhir ini. Hal itu disebabkan semakin disadarinya pentingnya pemahaman etos kerja sebagai solusi untuk memecahkan masalah, terutama yang terkait dengan moral hazard di tempat kerja.

 

Artikel ini mencoba untuk menjawab apa yang dimaksud tentang etos kerja, aspek dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terwujudnya etos kerja di sebuah organisasi.

 

 

 

Pengertian Etos Kerja

 

 

 

Menurut K. Bertens (1994), secara etimologis istilah etos berasal dari bahasa Yunani yang berarti “tempat hidup”. Mula-mula tempat hidup dimaknai sebagai adat istiadat atau kebiasaan. Sejalan dengan waktu, kata etos berevolusi dan berubah makna menjadi semakin kompleks. Dari kata yang sama muncul pula istilah ethikos yang berarti “teori kehidupan”, yang kemudian menjadi “etika”.

 

Dalam bahasa Inggris, etos dapat diterjemahkan menjadi beberapa pengertian antara lain starting point, to appear, disposition hingga disimpulkan sebagai character. Dalam bahasa Indonesia kita dapat menterjemahkannya sebagai “sifat dasar”, “pemunculan” atau “disposisi (watak)”.

 

Webster Dictionary mendefinisikan etos sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Etos adalah keyakinan yang menuntun seseorang, kelompok atau suatu institusi.

 

Sedangkan dalam The American Heritage Dictionary of English Language, etos diartikan dalam dua pemaknaan, yaitu:

 

  1. The disposition, character, or attitude peculiar to a specific people, culture or a group that distinguishes it from other peoples or group, fundamental values or spirit, mores. Disposisi, karakter, atau sikap khusus orang, budaya atau kelompok yang membedakannya dari orang atau kelompok lain, nilai atau jiwa yang mendasari, adat-istiadat.
  2. The governing or central principles in a movement, work of art, mode of expression, or the like. Prinsip utama atau pengendali dalam suatu pergerakan, pekerjaan seni, bentuk ekspresi, atau sejenisnya.

 

Dari sini dapat kita peroleh pengertian bahwa etos merupakan seperangkat pemahaman dan keyakinan terhadap nilai-nilai yang secara mendasar mempengaruhi kehidupan, menjadi prinsip-prinsip pergerakan, dan cara berekspresi yang khas pada sekelompok orang dengan budaya serta keyakinan yang sama.

 

Menurut Anoraga (2009), etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap suatu bangsa atau umat terhadap kerja. Bila individu-individu dalam komunitas memandang kerja sebagai suatu hal yang luhur bagi eksistensi manusia, maka etos kerjanya akan cenderung tinggi. Sebaliknya sikap dan pandangan terhadap kerja sebagai sesuatu yang bernilai rendah bagi kehidupan, maka etos kerja dengan sendirinya akan rendah.

 

Menurut Sinamo (2005), etos kerja adalah seperangkat perilaku positif yang berakar pada keyakinan fundamental yang disertai komitmen total pada paradigma kerja yang integral. Menurutnya, jika seseorang, suatu organisasi, atau suatu komunitas menganut paradigma kerja, mempercayai, dan berkomitmen pada paradigma kerja tersebut, semua itu akan melahirkan sikap dan perilaku kerja mereka yang khas. Itulah yang akan menjadi budaya kerja.

 

Sinamo (2005) juga memandang bahwa etos kerja merupakan fondasi dari sukses yang sejati dan otentik. Pandangan ini dipengaruhi oleh kajiannya terhadap studi-studi sosiologi sejak zaman Max Weber di awal abad ke-20 dan penulisan-penulisan manajemen dua puluh tahun belakangan ini yang semuanya bermuara pada satu kesimpulan utama bahwa keberhasilan di berbagai wilayah kehidupan ditentukan oleh perilaku manusia, terutama perilaku kerja. Sebagian orang menyebut perilaku kerja ini sebagai motivasi, kebiasaan (habit) dan budaya kerja. Sinamo lebih memilih menggunakan istilah etos karena menemukan bahwa kata etos mengandung pengertian tidak saja sebagai perilaku khas dari sebuah organisasi atau komunitas, tetapi juga mencakup motivasi yang menggerakkan mereka, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku, sikap-sikap, aspirasi-aspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, dan standar-standar.

 

Melalui berbagai pengertian diatas baik secara etimologis maupun praktis dapat disimpulkan bahwa etos kerja merupakan seperangkat sikap atau pandangan mendasar yang dipegang sekelompok manusia untuk menilai bekerja sebagai suatu hal yang positif bagi peningkatan kualitas kehidupan, sehingga mempengaruhi perilaku kerjanya.

 

 

 

Aspek-Aspek Etos (Etika) Kerja

 

 

 

Menurut Sinamo (2005), setiap manusia memiliki spirit (roh) keberhasilan, yaitu motivasi murni untuk meraih dan menikmati keberhasilan. Roh inilah yang menjelma menjadi perilaku yang khas seperti kerja keras, disiplin, teliti, tekun, integritas, rasional, bertanggung jawab dan sebagainya. Lalu perilaku yang khas ini berproses menjadi kerja yang positif, kreatif dan produktif.

 

Dari ratusan teori sukses yang beredar di masyarakat sekarang ini, Sinamo (2005)  menyederhanakannya menjadi empat pilar teori utama. Keempat pilar inilah yang sesungguhnya bertanggung jawab menopang semua jenis dan sistem keberhasilan yang berkelanjutan (sustainable success system) pada semua tingkatan. Keempat elemen itu lalu dikonstruksikan dalam sebuah konsep besar yang disebutnya sebagai Catur Dharma Mahardika (bahasa Sansekerta) yang berarti Empat Darma Keberhasilan Utama, yaitu:

 

  1. Mencetak prestasi dengan motivasi superior.
  2. Membangun masa depan dengan kepemimpinan visioner.
  3. Menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif.
  4. Meningkatkan mutu dengan keunggulan insani.

 

Keempat darma ini kemudian dirumuskan menjadi delapan aspek etos kerja sebagai berikut:

 

  1. Kerja adalah rahmat. Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.
  2. Kerja adalah amanah. Kerja merupakan titipan berharga yang dipercayakan pada kita sehingga secara moral kita harus bekerja dengan benar dan penuh tanggung jawab. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
  3. Kerja adalah panggilan. Kerja merupakan suatu darma yang sesuai dengan panggilan jiwa sehingga kita mampu bekerja dengan penuh integritas. Jadi, jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, “I’m doing my best!”. Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.
  4. Kerja adalah aktualisasi. Pekerjaan adalah sarana bagi kita untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi, sehingga kita akan bekerja keras dengan penuh semangat. Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa “ada”. Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk termenung tanpa pekerjaan.
  5. Kerja adalah ibadah. Bekerja merupakan bentuk bakti dan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga melalui pekerjaan manusia mengarahkan dirinya pada tujuan agung Sang Pencipta dalam pengabdian. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
  6. Kerja adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan perasaan senang seperti halnya melakukan hobi. Sinamo mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel. Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.
  7. Kerja adalah kehormatan. Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita. Sinamo mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
  8. Kerja adalah pelayanan. Manusia bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saja tetapi untuk melayani, sehingga harus bekerja dengan sempurna dan penuh kerendahan hati. Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercusuar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.

 

Anoraga (2009) juga memaparkan secara eksplisit beberapa sikap yang seharusnya mendasari seseorang dalam memberi nilai pada kerja, yang disimpulkan sebagai berikut:

 

1.   Bekerja adalah hakikat kehidupan manusia.

 

2.   Bekerja adalah suatu berkat Tuhan.

 

3.   Bekerja merupakan sumber penghasilan yang halal dan tidak amoral.

 

4.   Bekerja merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan berbakti.

 

5.   Bekerja merupakan sarana pelayanan dan perwujudan kasih

 

Dalam tulisannya, Kusnan (2004) menyimpulkan pemahaman bahwa etos kerja mencerminkan suatu sikap yang memiliki dua alternatif, positif dan negatif. Suatu individu atau kelompok masyarakat dapat dikatakan memiliki etos kerja yang tinggi apabila menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:

 

1.   Mempunyai penilaian yang sangat positif terhadap hasil kerja manusia,

 

2.   Menempatkan pandangan tentang kerja, sebagai suatu hal yang amat luhur bagi eksistensi manusia,

 

3.   Kerja yang dirasakan sebagai aktivitas yang bermakna bagi kehidupan manusia,

 

4.   Kerja dihayati sebagai suatu proses yang membutuhkan ketekunan dan sekaligus sarana yang penting dalam mewujudkan cita-cita,

 

5.   Kerja dilakukan sebagai bentuk ibadah.

 

Bagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki etos kerja yang rendah, maka akan ditunjukkan ciri-ciri yang sebaliknya (Kusnan, 2004), yaitu :

 

1.   Kerja dirasakan sebagai suatu hal yang membebani diri,

 

2.   Kurang dan bahkan tidak menghargai hasil kerja manusia,

 

3.   Kerja dipandang sebagai suatu penghambat dalam memperoleh kesenangan,

 

4.   Kerja dilakukan sebagai bentuk keterpaksaan,

 

5.   Kerja dihayati hanya sebagai bentuk rutinitas hidup.

 

Dari berbagai aspek yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang memiliki etos kerja tinggi akan terus berusaha untuk memperbaiki dirinya, sehingga nilai pekerjaannya bukan hanya bersifat produktif materialistik tapi juga melibatkan kepuasaan spiritualitas dan emosional.

 

 

 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Etos Kerja

 

 

 

Etos (etika) kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

 

  1. Agama

 

Dasar pengkajian kembali makna etos kerja di Eropa diawali oleh buah pikiran Max Weber.Salah satu unsur dasar dari kebudayaan modern, yaitu rasionalitas (rationality) menurut Weber (1958) lahir dari etika Protestan. Pada dasarnya agama merupakan suatu sistem nilai. Sistem nilai ini tentunya akan mempengaruhi atau menentukan pola hidup para penganutnya. Cara berpikir, bersikap dan bertindak seseorang pastilah diwarnai oleh ajaran agama yang dianutnya jika ia sungguh-sungguh dalam kehidupan beragama. Dengan demikian, kalau ajaran agama itu mengandung nilai-nilai yang dapat memacu pembangunan, jelaslah bahwa agama akan turut menentukan jalannya pembangunan atau modernisasi.

 

Weber memperlihatkan bahwa doktrin predestinasi dalam protestanisme mampu melahirkan etos berpikir rasional, berdisiplin tinggi, bekerja tekun sistematik, berorientasi sukses (material), tidak mengumbar kesenangan –namun hemat dan bersahaja (asketik), dan suka menabung serta berinvestasi, yang akhirnya menjadi titik tolak berkembangnya kapitalisme di dunia modern.

 

Sejak Weber menelurkan karya tulis The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1958), berbagai studi tentang etos kerja berbasis agama sudah banyak dilakukan dengan hasil yang secara umum mengkonfirmasikan adanya korelasi positif antara sebuah sistem kepercayaan tertentu dengan kemajuan ekonomi, kemakmuran, dan modernitas (Sinamo, 2005).

 

  1. Budaya

 

Luthans (2006) mengatakan bahwa sikap mental, tekad, disiplin dan semangat kerja masyarakat juga disebut sebagai etos budaya. Kemudian etos budaya ini secara operasional juga disebut sebagai etos kerja. Kualitas etos kerja ditentukan oleh sistem orientasi nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya maju akan memiliki etos kerja yang tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang konservatif akan memiliki etos kerja yang rendah, bahkan bisa sama sekali tidak memiliki etos kerja.

 

  1. Sosial politik

 

Menurut Siagian (1995), tinggi atau rendahnya etos kerja suatu masyarakat dipengaruhi juga oleh ada atau tidaknya struktur politik yang mendorong masyarakat untuk bekerja keras dan dapat menikmati hasil kerja keras mereka dengan penuh.

 

  1. Kondisi lingkungan (geografis)

 

Siagian(1995)  juga menemukan adanya indikasi bahwa etos kerja dapat muncul dikarenakan faktor kondisi geografis. Lingkungan alam yang mendukung mempengaruhi manusia yang berada di dalamnya melakukan usaha untuk dapat mengelola dan mengambil manfaat, dan bahkan dapat mengundang pendatang untuk turut mencari penghidupan di lingkungan tersebut.

 

  1. Pendidikan

 

Etos kerja tidak dapat dipisahkan dengan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia akan membuat seseorang mempunyai etos kerja keras. Meningkatnya kualitas penduduk dapat tercapai apabila ada pendidikan yang merata dan bermutu, disertai dengan peningkatan dan perluasan pendidikan, keahlian dan keterampilan, sehingga semakin meningkat pula aktivitas dan produktivitas masyarakat sebagai pelaku ekonomi (Bertens, 1994).

 

  1. Motivasi intrinsik individu

 

Anoraga (2009) mengatakan bahwa individu memiliki etos kerja yang tinggi adalah individu yang bermotivasi tinggi. Etos kerja merupakan suatu pandangan dan sikap, yang tentunya didasari oleh nilai-nilai yang diyakini seseorang. Keyakinan ini menjadi suatu motivasi kerja, yang mempengaruhi juga etos kerja seseorang.

 

Menurut Herzberg (dalam Siagian, 1995), motivasi yang sesungguhnya bukan bersumber dari luar diri, tetapi yang tertanam (terinternalisasi) dalam diri sendiri, yang sering disebut dengan motivasi intrinsik. Ia membagi faktor pendorong manusia untuk melakukan kerja ke dalam dua faktor yaitu faktor hygiene dan faktor motivator. Faktor hygiene merupakan faktor dalam kerja yang hanya akan berpengaruh bila ia tidak ada, yang akan menyebabkan ketidakpuasan. Ketidakhadiran faktor ini dapat mencegah timbulnya motivasi, tetapi ia tidak menyebabkan munculnya motivasi. Faktor ini disebut juga faktor ekstrinsik, yang termasuk diantaranya yaitu gaji, status, keamanan kerja, kondisi kerja, kebijaksanaan organisasi, hubungan dengan rekan kerja, dan supervisi. Ketika sebuah organisasi menargetkan kinerja yang lebih tinggi, tentunya organisasi tersebut perlu memastikan terlebih dahulu bahwa faktor hygiene tidak menjadi penghalang dalam upaya menghadirkan motivasi ekstrinsik.

 

Faktor yang kedua adalah faktor motivator sesungguhnya, yang mana ketiadaannya bukan berarti ketidakpuasan, tetapi kehadirannya menimbulkan rasa puas sebagai manusia. Faktor ini disebut juga faktor intrinsik dalam pekerjaan yang meliputi pencapaian sukses (achievement), pengakuan (recognition), kemungkinan untuk meningkat dalam karier (advancement), tanggungjawab (responsibility), kemungkinan berkembang (growth possibilities), dan pekerjaan itu sendiri (the work itself). Hal-hal ini sangat diperlukan dalam meningkatkan performa kerja dan menggerakkan pegawai hingga mencapai performa yang tertinggi.

 

Dengan memahami apa itu etos kerja, serta aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menerapkan etos kerja serta faktor-faktor yang mempengaruhinya diharapkan sebuah organisasi (termasuk organisasi Kementerian Keuangan) akan meningkat produktifitas dan profesionalitas kerjanya.

 

Indonesia sangat membutuhkan peningkatan etos kerja di semua lini organisasi pemerintahan dan swasta, sehingga di masa depan dapat terwujud bangsa Indonesia yang maju dan disegani masyarakat internasional.

 

 

 

****

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Bacaan :

 

 

 

Lubis, Satria Hadi. 2011. Bahan Ajar Etika Profesi PNS. STAN, Tangsel.

 

 

 

Bertens, K. 1994. Etika.Gramedia, Jakarta.

 

 

 

Sinamo, Jansen. 2005. Delapan Etos Kerja Profesional: Navigator Anda Menuju Sukses. Grafika Mardi Yuana, Bogor.

 

 

 

Anoraga, Pandji. 2009. Manajemen Bisnis. Rineka Cipta, Jakarta.

 

 

 

Kusnan, Ahmad. 2004. Analisis Sikap, Iklim Organisasi, Etos Kerja dan Disiplin Kerja dalam menentukan Efektifitas Kinerja Organisasi di Garnisun Tetap III Surabaya. Tesis. Universitas Airlangga, Surabaya.

 

 

 

Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi. Andi, Yogyakarta.

 

 

 

Siagian, Prof. Dr. Sondang P.1995. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Rineka Cipta, Jakarta.

 

 

 

http://www.stan.ac.id/kategori/index/9/page/aspek-aspek-etos-kerja-dan-faktor-faktor-yang-mempengaruhinya 

Makanan yang halal


Dalam hadits arbain imam Nawawi menukil sebuah hadits yang layak kita renungkan. Rasulullah telah bersabda bahwa yang ada seseorang yang berdo’a kepada Allah dalam keadaan yang sangat memelas, pakaiannya kusut, rambutnya kusut, begitu khusunya ia berdo’a kepada Allah. Tapi jangan pernah berharap do’anya diterima kalau dalam dirinya ada daging yang tumbuh dari barang haram.
Rasulullah juga telah bersabda bahwa harta yang kita dapatkan pada saat ini, Allah akan tanyakan darimana harta itu kita dapatkan, dengan cara apa kita dapatkan harta itu, dan dipergunakan untuk apa harta itu.
ketiga-tiga harus halal atau baik, jangan sampai salah satunya haram, maka akan haramlah semuanya. Oleh sebab itu, tidak kita tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengambil harta dengan cara yang tidak baik. Karena pada akhirnya harta itu akan menjadi beban kita.

KI dan KD PAI


Rumusan KI dan KD

PAI SMAN 8 KOTA TANGERANG

 

Kelas X

 

Kompetensi Inti

Kompetensi Dasar Penyempurnaan 03 Mei 2013 (Hotel Allson)

1.      Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya

 

1.1  Menghayati nilai-nilai keimanan kepada Malaikat-malaikat Allah SWT

1.2  Berpegang teguh kepada Al-Quran, Hadits dan Ijtihad sebagai pedoman hidup

1.3  Meyakini kebenaran hukum Islam

1.4  Berpakaian sesuai dengan ketentuan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari

2.      Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

 

2.1  Menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Maidah (5): 8, dan Q.S. At-Taubah (9): 119 dan hadits terkait

2.2  Menunjukkan perilaku hormat dan patuh kepada orangtua dan guru sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Isra (17): 23 dan hadits terkait

2.3  Menunjukkan perilaku kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan), dan persaudaraan (ukhuwah) sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Anfal (8): 72; Q.S. Al-Hujurat (49): 12 dan 10 serta hadits yang terkait

2.4  Menunjukkan perilaku menghindarkan diri dari pergaulan bebas dan perbuatan zina sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. Al-Isra’ (17): 32, dan Q.S. An-Nur (24):  2, serta hadits yang terkait

2.5  Menunjukkan sikap semangat menuntut ilmu dan menyampaikannya kepada sesama sebagai implementasi dari pemahaman Q.S. At-Taubah (9): 122 dan hadits terkait

2.6  Menunjukkan sikap keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakkal dan perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

2.7  Menunjukkan sikap tangguh dan semangat menegakkan kebenaran sebagai implementasi dari pemahaman strategi dakwah Nabi di Mekah

2.8  Menunjukkan sikap semangat ukhuwah sebagai implementasi dari pemahaman strategi dakwah Nabi di Madinah

3.      Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

3.1         Menganalisis  Q.S. Al-Anfal (8) : 72); Q.S. Al-Hujurat (49) : 12; dan QS Al-Hujurat (49) : 10; serta hadits tentang kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan), dan persaudaraan (ukhuwah)

3.2         Memahami manfaat dan hikmah kontrol diri (mujahadah an-nafs), prasangka baik (husnuzzhan) dan persaudaraan (ukhuwah), dan menerapkannya dalam kehidupan

3.3         Menganalisis  Q.S. Al-Isra’ (17) : 32, dan Q.S. An-Nur (24) : 2, serta hadits tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.

3.4         Memahami manfaat dan hikmah larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.

3.5         Memahami makna Asmaul Husna: al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir;

3.6         Memahami makna beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT

3.7         Memahami Q.S. At-Taubah (9): 122 dan hadits terkait tentang semangat menuntut ilmu, menerapkan dan menyampaikannya kepada sesama;

3.8         Memahami kedudukan Alquran, Hadits, dan Ijtihad sebagai sumber hukum Islam

3.9         Memahami pengelolaan wakaf

3.10.1.  Memahami substansi dan strategi dakwah Rasullullah saw. di Mekah

3.10.2.  Memahami substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah

4        Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.

4.1.1   Membaca Q.S. Al-Anfal (8): 72); Q.S. Al-Hujurat (49): 12; dan Q.S. Al-Hujurat (49) : 10, sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.

4.1.2   Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Al-Anfal (8) : 72); Q.S. Al-Hujurat (49) : 12; QS Al-Hujurat (49) : 10 dengan lancar.

4.2.1   Membaca Q.S. Al-Isra’ (17): 32, dan Q.S. An-Nur (24): 2 sesuai dengan kaidah tajwid dan makhrajul huruf.

4.2.2   Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Al-Isra’ (17) : 32, dan Q.S. An-Nur (24): 2 dengan lancar.

4.3         Berperilaku yang mencontohkan keluhuran budi, kokoh pendirian, pemberi rasa aman, tawakal dan perilaku adil sebagai implementasi dari pemahaman makna Asmaul Husna al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami’, al-‘Adl, dan al-Akhiir

4.4         Berperilaku yang mencerminkan kesadaran beriman kepada malaikat-malaikat Allah SWT

4.5         Menceritakan tokoh-tokoh teladan dalam semangat mencari ilmu

4.6         Menyajikan macam-macam sumber hukum Islam

4.7.1   Menyajikan dalil tentang ketentuan wakaf

4.7.2   Menyajikan pengelolaan wakaf

4.8.1   Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasullullah SAW di Mekah

4.8.2   Mendeskripsikan substansi dan strategi dakwah Rasulullah SAW di Madinah