Keberanian (melaksanakan hokum Allah) berbuah kebahagian


Terdapat kisah yang sangat luar biasa terjadi di zaman khalifah Umar ibnu Al-khatab, sebagai berikut. Seorang pemuda hendak melakukan perjalanan jauh, maka disiapkanlah bekal dan kendaraan berupa unta (ma’lum pada saat itu belum ada mercy atau bmw, haha). Setelah siap diapun pergi, samapailah disebuah tempat dimana ada lading yang banyak rumputnya, dia berhenti disitu istirahat sambil untanya makan rumput yang menghijau.
Rupanya rasa ngantuk menyeranng luar biasa sehingga dia tertidur, dalam keadaan tertidur itulah untanya lepas dan masuk keladang orang lain yang dijaga oleh seorang kakek. Untanya makan semua yang ada diladang itu, dan sikakek tidak bisa menghalaunya karena tenaganya tidak kuat. Akhirnya sikakek tersebut membunuh unta itu karena takut akan memakan semua hasil ladangnya.
Ketika sipemuda bangun dia kaget karena untanya telah terbunuh, dan disitu hanya ada seorang kakek. Dia bertanya kek siapa yang membunuh unta saya, si kakek menjawab jujur , saya yang membunuhnay karena unta anda memamakan hsil lading saya. Tapi sipemuda keburu marah, dia pukul sikakek sampai jatuh dan meninggal. Ada perasaan menyesal luar biasa yang dirasakan pemuda itu, dalam keadaan itu datanglah dua orang pemuda yang ternyata adalah anak sikakek tersebut. Mereka bertanya siapa yang membunuh ayah kami, sepemuda itu menjawabm sayalah yang membunuhnya, tapi tidak sengaja , pemuda itu jujur menjawab.
Maka kem udian dua pemuda ini membawa sipemuda pengembara itu kedepan khalifah umar untuk ditegakkan keadilan.serelah khalifah mendengar pengakuan dari kedua belah pihak, khalifah memutuskan untuk melakukan hokum qisas(bunuh di bunuh lagi ) kepada pemuda tersebut. Pemuda itu menerimanya tapi dia minta izin untuk pamit kepada keluarga dan untuk menyelesaikan hutang pi hutang dengan tetangganya. Kata khalifah tidak bisa kecuali ada yang menjaminmu. Pemuda itu mengatakan saya tidak kenal dengan orang disini khalifah, saya orang baru, dalam keadaan seperti itu seorang saya mengacungkan tangannya, dia katakana sayalah jaminannya wahai khlaifah, orang itu bernamanya Abu Dzar Al-ghifari.
Akhirnya pergilah pemuda itu untuk pamit sama keluarga dan membayar hutang-hutangnya. Pada saat hari ditentukan untuk dilakukan qisas, pemuda tersebut belum datang, para sahabat sangan khawatir, dengan nasib Abu Dzar yang menjamin pemuda tersebut. Tapi persis pada waktu yang ditentukan pada saat orang sudah khawatir, pemuda itu tidak akan datang, tiba-tiba datanglah kuda dengan lari yang sangat kencang, yang ternyata pemuda itu memenuhi janjinya, dia datang tepat pada waktu ditentukan.
Khalifahpun berbicara sebelum kita melakukan hukuman ini aku ingin bertanya pada pemuda yang akan kita hokum ini. Wahai pemuda kalaupun engkau tidak datang atau lari dari hukuman ini, maka engkau sudah ada yang menjamin tapi mengapa engkau tidak melakukakannya. Pemuda itu menjawab, wahai khalifah bemar apa yang engkau ucapkan itu, tapi aku tidak melakukanya, karena aku takut tercatat dalam sejarah ada orang muslim yang mengingkari janinya, dan mengorban muslim yang lainnya demi kepentingannya sendiri.
Khalifahpun bertanya pada Abu Dzar, wahai Abu Dzar kenalkah engkau dengan pemuda ini, Abu Dzar menjawab tidak khalifah, tapi mengapa engkau mau menjaminnya, padahal taruhannya adalah jiwa engkau. Abu Dzar menjawab karena aku yakin bahwa orang muslim tidak akan mengorbankan saudaranya, buat kepentingan dirinya sendiri. Tiba-tiba dua orang pemuda yang minta keadilan itu berkata wahai khlifah setelah kami mendengar pengakuan terdakwa dan Abu Dzar, maka kami memaafkan terdakwa. Khalifah bertanya memngapa engkau lakukan itu, pemuda menjawa, aku takut tercatat dalam sejarah ada orang muslim yang tidak mau memaafkan kesalah muslim yang lainnya.

Dunia segera Hancur


Dunia Segera Hancur

Judul di atas adalah judul sebuah buku karya syeh Abdurahman At-Turki yang menjelaskan tentang fase-fase terjadi kiamat.

”kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang empat perkara, yaitu tentang usianya untuk apa dihabiskannya, tentang jasadnya untuk apa ia rapuhkan, tentang ilmunya untuk apa ia gunakan, dan tentang hartanya darimana ia memperoeh dan kemana ia membelanjakannya” (HR Muslim)

“sesungguhnya kebaikan generasi pertama umat ini adalah dengan zuhud dan yakin, dan kehancuran generasi belakangan adalah dngan bakhil dan angan-angan ( HR Ibnu Abi Dunya dan Thabroni dari Ibnu Amru)

“apakah kalian takut kepada kefakiran? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-NYA sungguh dunia akan terbuka bagi kalian, sehingga hati kalian tidak bengkok kecuali oleh dunia itu ( HR Ibnu Majah )

Inilah sepuluh tahapan hari kiamat itu:

  1. Kematian
  2. Alam kubur
  3. Menetapnya ruh dialam barzah
  4. Kehancuran alam ini secara totalitas
  5. Pengembalian makhluk setelah kepunahanya
  6. Keluar dari kuburan untuk menghadapi hari kebangkitan dan pengumpulan
  7. Hisab
  8. Timbangan (mizan)
  9. Sirath dibentangkan
  10. Jembatan