My Mother is My Hero


Aku di lahirkan di sebuah desa pinggiran sukabumi, tepatnya di daerah perkebunan the goalpara. Ibu ku mempunyai 9 orang anak, ketika kaka pertama dan kedua menikah, ayah meninggal dunia. Otomatis ibu menghidupi tujuh orang anak yang sebagian besar masih kecil. Aku saja baru berumur dua tahun saat itu, dan jarak kami tidak jauh ada yang satu tahun paling jauh dua tahun.

Ibu menghidupi kami dengan bekerja sebagai pemetik teh di perkebunan goalpara, yang tentunya hasilnya tidak seberapa. Sehingga hampir semua kakaku tidak bisa tamat SD, karena keterbatasan materi, dan mereka menikah di waktu usia muda. Tapi Alhamdulillah pernikahan mereka langgeng sampai saat ini.

Alhamdulillah aku bisa sekolah sampai dengan Madrsaha Aliyah setingkat SMA, sambil nyantri di Pondok Pesantren Darul Muta’alimin di Sukabumi, itu juga berkat perjuangan ibu, yang berjuang keras supaya aku bisa menyelesaikan pendidikan tingkat SMA itu. Dimana dikampung kami pada saat itu jarang orang tua yang ingin anaknya sekolah, kalau sudah dewasa biasanya mereka mengajak anaknya bertani, dan kalau sudah menghasilkan uang itu kebahagian mereka pada saat itu.

Aku tidak tahu apa yang ada dibenak ibu pada saat itu sehingga aku harus sekolah, tapi yang aku tahu sekarang adalah, begitu penting pendidikan bagi kita semua. Ibu seorang wanita desa rupanya sangat paham begitu pentingnya pendidikan bagi anaknya. Kalau Dia tidak bisa menyekolahkan ank-anak yang lain bukan berarti ia tidak paham tentang pentingnya pendidikan tapi lebih karena tidak punya dana yang ibu miliki.

Terimaksih Ibu, semoga Allah membalas jasa-jasamu. Dan terimakasih untuk isteriku yang menjadi ibu dari anak-anak ku. Juga untuk seluruh ibu di dunia, terimakasih semuanya.


 

Iklan

Jangan sok pintar


Jangan sok Pintar

Dalam hadits Bukhari di jelaskan sebagai berikut. Nabi Musa As di Tanya oleh kaumnya siapa yang pintar di dunia ini. Nabi Musa menjawab “ akulah yang pintar di dunia ini. Allah kemudian menegur Nabi Musa dengan mengatakan ada hamba yang lebih pintar. Ini adalah prolog pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Hidir As. Seperti yang dapat kit abaca dalam surat Al-Kahfi ayat 60 s/d 82.

60. dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya[885]: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

61. Maka tatkala mereka sampai ke Pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.

62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

63. Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, Maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”.

64. Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.

65. lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[886].

66. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”

67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku.

68. dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”

69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”.

70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”.

71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.

72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”.

73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”.

74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”.

78. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.

79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

80. dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

81. dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.

Ayat ini ingin menjelaskan kepada kita, manusia dilarang untuk membanggakan diri dengan ilmunya, karena ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna termasuk kepemilikan ilmu. Boleh jadi kita pintar pada ilmu tertentu, tapi belum tentu di bidang yang lain.

Oleh karena itu tawadhulah terhadap apa yang kita mampu, dan itulah bukti kemulian kita,

 

 

Mu’zijat Nabi Isa AS


Alhamdulillah setiap minggu malam senin, ba’da sholat isya diperumahan kami istiqomah mengkaji Al-qur’an. Pengajian ini sudah berlangsung hamper empat tahun. Adapun yang kami lakukan adalah membaca, membahas tajwid ( aturan membaca al-qur’an), dan terjemah.

Pada malam tadi ayat yang kami baca adalah surat Al-Maidah ayat 109, 110, dan 111.

109. (ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan Para Rasul lalu Allah bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)mu?”. Para Rasul menjawab: “tidak ada pengetahuan Kami (tentang itu); Sesungguhnya Engkau-lah yang mengetahui perkara yang ghaib”.

110. (ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.

111. dan (ingatlah), ketika aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)”.

Berdasarkan ayat 109 manusia mendapatkan hidayah atau tidak dari apa yang mereka dakwahkan, bukan urusan para Rasul karena terhadap hal yang demikian mereka tidak punya kemampuan. Para Rasul tidak tahu siapa yang mendapatkan hidayah dari dakwahnya tersebut, kewajiban mereka hanyalah menyampaikan apa yang Allah berikan kepada mereka berupa firman-firman/ ayat-ayat Allah.

Ayat 110 menjelaskan kepada kita tentang mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Isa As, yaitu :

1.      Nabi Isa As, mampu berbicara pada usia bayi

2.      Nabi Isa As, mampu menulis dan membaca firman-firman Allah yang terdahulu.

3.      Nabi Isa As, mampu membentuk burung dari tanah liat, kemudian bias hidup seperti burung sesungguhnya atas izin Allah SWT.

4.      Nabi Isa As, mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir atas izin Allah SWT.

5.      Nabi Isa As, mampu menghidupkan orang yang sudah mati atas izin Allah SWT.

6.      Nabi Isa As, diselamatkan dari pembunuhan oleh Allah dari orang-orang yang buta dari kebenaran yang di bawa beliau.

Ayat 111 menjelaskan kepada kita bahwa pengikut Nabi Isa As, dinamakan al-hawriyyun dan mereka menyatakan sebagai orang muslim.