Pembinaan Keluarga

Badrudin[1]

A.    Surat Lukman ayat 18 dan 19

Ÿ  

18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

 

B.     Pembinaan Keluarga

Keluarga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Keluarga dalam arti sempit disebut keluarga batih yang menurut (KBBI) yakni keluarga yang hanya terdiri dari suami, isteri dan anak.[2] Adapun dalam kamus berbahasa arab kata keluarga berasal dari kata                             artinya keluarga.[3]

Selanjutnya pada kata pembinaan yang dalam (KBBI) yakni usaha, tindakan dan kegiatan yang dialakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.[4]

Keluarga, atau katakanlah unit terkecil dari keluarga adalah suami dan isteri, atau ayah, ibu dan anak, yang bernaung dibawah satu rumah tangga. Unit ini memerlukan pimpinan, dan dalam pandangan Al-Qur’an yang wajar meminpin adalah bapak.[5]

  1. Asbabun Nuzul Surat Luqman

Asbabun nuzul surat ini adalah bahwa orang- orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, tentang kisah luqman beserta anaknya, dan ketaatannya kepada kedua ibu bapaknya, maka turunlah surat ini.[6]

Kaitan surat Luqman dengan surat sebelumnya :

  1. Sesungguhnya di dalam surat yang lalu Allah SWT, telah berfirman :


 

58. dan Sesungguhnya telah Kami buat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.”( Arum : 58 )

            Kemudian di dalam surat Luqman ini Allah SWT, mengisyaratkan pula hal tersebut melalui pembukaannya. Dan di dalam surat ini Allah telah berfirman :


 

7. dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami Dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah Dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih.( Luqman : 7 )

            2. Dalam surat Arum Allah berfirman  :


 

27. dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( Arum : 27)

            Sedangkan di dalam surat Luqman Allah SWT telah berfirman :


 

28. tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat.(Luqman : 28

            Pengertian yang terkandung di dalam kedua ayat tersebut, menunjukkan bahwa pembangkitan itu amatlah mudah bagi-Nya.

            4. Sesungguhnya di dalam surat yang telah lalu Allah SWT, menyebutkan kisah kedua kerajaan besar yang saling menyerang dia antara keduanya karena demi memperebutkan masalah duniawi. Maka dalam surat luqman ini Allah menyebutkan tentang kisah seorang hamba sahaya yang menjauhi keduniaan  dan tentang wsiatnya kepada anaknya supaya bersabar dan cinta damai, yang hal ini jelas mempunyai pengertian yang bertentangan dengan peperangan.[7]

            D. Kandungan Ayat

            Nasihat Luqman kali ini berkaitan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesame manusia. Materi pelajaran akidah, beliau selingi dengan materi pelajaran akhlak bukan saja agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga umtuk mengisyaratkan bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak adapat dipisahkan.[8]

            Dan sesudah Luqman mewasiati anaknya dengan berbagai hal, kemudian ia mengingatkan anaknya akan hal-hal lainya, yaitu sebagaimana disebutkan oleh firman-Nya :

            Janganlah kamu memalingkan mukamu terhadap orang-orang yang kamu berbicara dengannya, karena sombong dan meremehkannya. Akan tetapi hadapilah dia dengan muka yang berseri-seri dan gembira, tanpa rasa sombong dan tinggi diri.

            Ini sesuai dengan hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Malik melalui Ibnu Syihab bersumberkan dari Anas Ibnu Malik “ Janganlah kalian saling membenci, jangan pula saling bermusuhan, dan janganlah kalian saling mendengki, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim mengsingkan saudaranya lebih dari tiga hari”.[9]

            Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh dan menyombongkan diri, karena se3sungguhnya hal itu adalah cara jalan orang-orang yang angkara murka dan sombong, yaitu mereka yang gemar melakukan kekejaman di muka bumi dan suka berbuat zalim terhadap orang lain.  Akan tetapi berjalanlah dengan sikap sederhana karena sesungguhnya cara jalan yang demikian mencerminkan rasa rendah diri, sehingga pelakunya akan sampai kepada semua kebaikan.

            Yahya ibnu Jabir At-Tai,y telah meriwayatkan sebuah asar melalui Gudaif ibnul Harits yang telah menceritakan,” pada suatu hari aku duduk di majlis Abdullah ibnu Amr ibnu Ash, kemudian aku mendengar ia mengatakan,”sesungguhnya kuburan itu berkata kepada seorang hamba apabila ia dikubur didalamnya, “ hai anak Adam, apakah gerangan yang membuatmu lalai kepadaku?. Tidakkah kamu mengetahui bahwa aku adalah rumah tewrasing? Dan tidakkah kau tahu bahwa aku rumah haq? Hai anak Adam apakah gerangan yang membuat kamu lalai kepadaku? Sesungguhnya kamu dahulu berjalan di sekitarku dengan sikap yamg angkuh dan sombong!.

            Dan berjalanlah dengan sikap sederhana, yakni tidak terlalu lambat dan juga tidak terlalu cepat, akan tetapi berjalanlah dengan wajar tanpa dibuat-buat dan juga tanpa pamer menonjolkan sikap rendah diri atau sikap tawadhu.

            Siti Aisyah ra. Telah meriwayatkan, bahwa ia melihat seorang laki-laki yang hamper mati karena terlalu merendahkan diri. Lalu ia berkata apakah gerangan yang telah terjadi pada dirinya?. Maka ia menjawab, bahwa ia adalah termsuk ahli qurra (ahli fiqih yang alim tentang kitabullah). Maka siti Aisyah menjawab, umar adalah pemimpin ahli qurra, dan adalah ia apabila berjalan langkahnya cepat, dan apabila berkata suaranya keras dan berpengaruh, dan apabila memukul, maka sakitnya bukan main.

            Kurangilah tingkat kekerasan suaramu, dan perpendek cara bicaramu, janganlah kamu mengangkat suaramu bilamana tidak diperlukan sekali. Karena sesungguhnya sikap demikian itu lebih berwibawa bagi yang melakukanya, dan lebih mudah diterima oleh jiwa pendengarnya serta lebih gampang untuk dimengerti.

E.Pentingnya Pendidikan Akhlak

1. Pengertian Pendidikan

Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dengan kata lain pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan hidup.[10]

Berdasarkan pengertian di atas menunjukkan bahwa pendidikan itu mempunyai beberapa karakteristik khusus, menurut Mudyahardjo membaginya kepada empat hal yaitu:

              a.       Masa pendidikan. Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan.

       b.       Lingkungan pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan hidup, baik yang khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya.

       c.       Bentuk kegiatan. Terentang dari bentuk-bentuk yang misterius atau tak disengaja sampai dengan terprogram. Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup. Pendidikan berlangsung dalam beranaka ragam bentuk, pola, dan lembaga. Pendidikan dapat terjadi sembarang,kapan, dan di mana pun dalam hidup. Pendidikan lebih berorientasi pada peserta didik.

       d.       Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas, dan sama dengan tujuan hidup.[11]

       2.Pengertian Akhlak

     Kata pokok (dasar) akhlak adalah khalaqo, khaliqun dan makhluqun, kata sifatnya adalah akhlakun. Menurut Imam Hamid al-Ghazali yang dikutip oleh DR. Ali Abdul Halim Mahmud mengatakan bahwa kata al-khalq adalah bentuk lahirnya, sedangkan al-khuluq adalah bentuk batinnya. Hal itu karena manusia tersusun dari fisik yang dapat dilihat dengan mata kepala, dan ruh / jiwa yang ditangkap oleh mata batin. Ruh / jiwa yang ditangkap oleh mata batin itu lebih tinggi nilainya dari fisik yang ditangkap dengan penglihatan mata.[12]

Jadi akhlak (al-khuluq) pengertiannya adalah suatu sifat yang terpatri dalam jiwa, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memikirkan dan merenung terlebih dahulu. Jika sifat yang tertanam itu darinya terlahir perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut rasio dan syariat, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang baik. Sedangkan jika yang terlahir adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang buruk.[13]

Demikian juga sama pengertian akhlak menurut Muhammad bin Ali asy-Syariif al-Jurjani yang juga dikutip oleh DR. Ali Abdul Halim Mahmud, beliau mendifinisikan:

“Akhlak adalah istilah bagi semua sifat yang tertanam kuat dalam diri, yang darinya terlahir perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa perlu berpikir dan merenung. Jika dari sifat tersebut terlahir perbuatan-perbuatan yang indah menurut akal dan syariat, dengan mudah, maka sifat tersebut dinamakan dengan akhlak yang baik. Sedangkan jika terlahir perbuatan-perbuatan buruk, maka sifat tersebut dinamakan akhlak yang buruk.”[14]

 

Menurut difinisi di atas, akhlak mencakup sifat baik maupun buruk, namun kita dapati kebanyakan ulama’ akhlak menggunakan kata akhlak untuk sifat yang baik saja. Menurut mereka, akhlak adalah sifat-sifat baik yang tertanam pada jiwa dan memancar perilaku yang baik dalam kehidupan.[15]

Jadi akhlak bukanlah sekedar perilaku manusia yang bersifat bawaan lahir, tapi merupakan salah satu dari dimensi kehidupan seorang muslim yang mencakup aqidah, Ibadah, akhlak dan syari’ah. Karena itu, akhlak Islami cakupannya sangat luas, yakni ethos, ethis, moral dan estetika. Keterangan lebih jelas tentang hal itu akan dijabarkan sebagai berikut:

a.     Ethos, yang mengatur hubungan seseorang dengan khaliqnya, al-Ma’bud, bil haq serta kelengkapan uluhiyah dan rububiyah, seperti terhadap Rasul-Rasul Allah, kitab-kitab Nya, dan sebagainya.

b.    Ethis, yang mengatur sikap seseorang terhadap dirinya dan terhadap sesamanya dalam kegiatan kehidupan sehari-harinya.

c.     Moral, yang mengatur hubungannya dengan sesamanya, tapi berlainan jenis dan atau yang menyangkut kehormatan tiap pribadi.

d.    Estetika, rasa keindahan yang mendorong seseorang untuk meningkatkan keadaan dirinya serta lingkungannya, agar lebih indah dan menuju kesempurnaan.[16]

 

Namun seringkali kata “akhlak” dalam bahasa arab diartikan dengan “moral”. Maka dalam pembahasan ini peneliti sering menggunakan istilah akhlak untuk memudahkan istilah dalam tulisan ini. Contoh dalam buku aslinya Abdullah Nasih Ulwan mengartikan “akhlak” dalam bahasa Indonesia dengan “moral”.

3.Pengertian Pendidikan Akhlak

Pendidikan Akhlak (Moral) adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa hingga ia menjadi mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan. Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan- keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar.

Jika sejak masa kanak-kanaknya, anak tumbuh berkembang dengan berpijak pada iman kepada Allah dan terdidik untuk takut, ingat, bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri padaNya, ia akan memiliki potensi dan respons secara instingtif di dalam menerima setiap keutamaaan dan kemuliaan, di samping terbiasa melakuakan akhlak mulia. Sebab benteng pertahanan religius yang berakar pada hati sanubarinya, kebiasaan mengingat Allah yang telah dihayati dalam dirinya dan instropeksi diri yang telah menguasai seluruh pikiran dan perasaannya, telah memisahkan anak dari sifat- sifat negatif, kebiasaan-kebiasaan dosa dan tradisi-tradisi jahiliyah yang rusak. Bahkan penerimaannya terhadap setiap kebaikan akan menjadi salah satu kebiasaan dan kesenangannya terhadap keutamaan, dan kemuliaan akan menjadi akhlak dan sifat yang paling menonjol.[17]

4.Pentingnya Pendidikan Akhlak

Islam sebagai agama samawi sangat memperhatikan akhlak, oleh karena itu Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4

 

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti (berakhlak) yang agung.”

 

Bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia sebagaimana sabda beliau:

 

Artinya: “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad).

 

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim).

 

Dalam hadits lain Anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam:“Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

Artinya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi dan Ahmad).

 

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi mereka gambaran-gambaran yang diidentifikasi adalah orang-orang dewasa yang simpatik, orang-orang terkenal dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri. Syamsu Yusuf menyatakan bahwa “Perkembangan moral (akhlak) seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya”.[18]

Dari pernyataan di atas dapat dimengerti bahwa perkembangan akhlak anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitarnya, terutama keluarganya yang setiap hari berinteraksi dengan anak. Boleh jadi baik dan buruknya perkembangan akhlak anak tergantung pada baik dan buruk akhlak keluarganya.

5. Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Akhlak

Karena itu Rasulullah berpesan kepada para orangtua untuk memberikan perhatian dan pendidikan yang intensif sebagaimana sabda beliau yang berbunyi:

 

Artinya: “Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat apabila mereka telah berusia tujuh tahun, dan apabila mereka telah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka (apabila tidak mau melakukan shalat) dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim).

Dalam perkembangan sosialnya, ia mula-mula hanya menaruh perhatian kepada kepentingan dan perasaannya saja. Pada usia sekolah, ia berangsur-angsur menaruh perhatian kepada orang lain. Ia dapat mengikat tali persahabatan dengan teman lain, ia mulai dapat mempengaruhi kelakuan orang lain dan senantiasa memperluas lingkaran persahabatananya. Perhatiannya masih banyak terhadap orang-orang yang dekat padanya dalam keluarga.[19]

Tidak aneh jika Islam sangat memperhatikan pendidikan anak-anak dari aspek akhlak ini dan mengeluarkan petunjuk yang sangat berharga di dalam melahirkan anak dengan kebiasaan-kebiasaan yang mulia. Berikut ini sebagian wasiat dan petunjuk Rasul dalam upaya mendidik anak dari aspek akhlak[20] adalah sabda Rasulullah SAW:

Artinya: Namun barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1376 dan Muslim no. 1745)

 

Begitu juga dari Ibnu Abbas ra. Bahwa Rasulullah SAW. bersabda yang artinya:

 

“Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan akhlak yang baik” (HR. Ibnu Majah)

 

Demikian juga hadits dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah SAW. bahwa beliau bersabda yang artinya: “Di antara hak orang tua terhadap anaknya adalah mendidiknya dengan akhlak yang baik dan memberinya nama yang baik” (HR. Baihaqi)

Berdasarkan hadits-hadits pedagogis ini dapat disimpulkan bahwa para pendidik, terutama ayah dan ibu, mempunyai tanggung-jawab sangat besar dalam mendidik anak-anak dengan kebaikan dan dasar-dasar moral (akhlak).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Mahasiswa Pasca Sarjana PTIQ jurusan Manajemen Pendidikan Islam 2012 – 2013

[2] Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988) Cet. 1, h. 413.

[3] Munawir AF, Kamus Al-Bisri: Indonesia-Arab-Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1999), Cet. 1, h. 140.

[4] Tim Penyusun Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,…h. 117.

[5] Shihab, Qurais. Wawasan Al-Qur’an. Bandung : Penerbit Mizan tahun 1996 cet 1 hal 210

[6] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 130

[7] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 132

 

[8] Shihab, Qurais . Tafsir Al-misbah : Jakarta: Penerbit, Lentera Hati. Tahun 2011. Vol 10 hal 311

[9] Al-Maragi, Mustafa. Tafsir Al-maragi :Semarang : Penerbit, CV Toha Putra Semarang. Tahun 1992. Cet ke 2 terj Bahrun Abu Bakr,Lc dkk jilid 21 hal 160

 

 

[10] Redja Mudyahardjo, Pengantar Pendidikan (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2001), h. 3

[11] Ibid.

 

[12] Ali Abdul Halim Mahmud , Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004), h. 28

[13] Ibid.

[14] Ibid., h. 32

 

[15] Abdullah bin Qasim Al-Wasyli, Menyelami Samudera 20 Prinsip Hasan Al-Banna, tarj., Kamal Fauzi. Ahmad Zubaidi dan Jasiman, (Solo: Era Intermedia, 2005), h. 55

[16] Abdullah Salim, Akhlak Islam (Membina Rumah Tangga dan Masyarakat), (Jakarta: Media Da’wah, 1986), h. 11

[17] Abdullah Nasih Ulwan, Loc. Cit.

 

[19] Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: PT Bumi Aksara ,2008), h. 114

[20] Abdullah Nasih Ulwan, Op.Cit., h. 177

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s