Akhlak tercela


Materi Pokok
Dalam tatanan sosial Islam, jiwa manusia yang bersih penyakit dan dihiasi dengan akhlak yang baik menjadi dasar tegaknya masyarakat yang Islami. Kehidupan yang aman sejahtera dan penuh cinta tidak akan terwujud apabila jiwa manusia di dalamnya dipenuhi penyakit. Mereka saling membenci, saling menyakiti, tidak peduli pada lingkungan, dan membuat kerusakan. Dengan demikian, jiwa yang bersih menjadi dasar bagi terciptanya kehidupan manusia yang saling menyayangi.
Penyakit jiwa yang dan mengganggu kehidupan manusia harus dihindari, adapun di antara banyaknya penyakit jiwa yang harus kita hindari adalah:
A. Hasud
Hasud adalah membenci nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain dan menginginkan hilangnya nikmati itu, sekalipun dengan cara memberi kuasa kepada orang lain untuk menghilangkan nikmat itu karena sulitnya. Seseorang yang memiliki jiwa hasud tidak akan merasa senang sebelum dapat membalas dan menghancurkan orang yang dihasudnya, bahkan dia dapat menghilangkan nikmat yang menjadi penyebab hasud. Oleh karena itu, hasud akan menimbulkan perbuatan yang merusak masyarakat akan menimbulkan kehancuran dan perpecahan.
Keharuman hasud banyak disebut dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: “Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-NyaSesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Contoh hasud ada dalam surat Yusuf ayat 8-9 tentang kehasudan saudara Nabi Yusuf terhadap dirinya dan contoh lain adalah kisah anak Adam yang membunuh saudaranya karena hasud telah memakan hatinya.
B. Riya
Riya adalah perbuatan pura-pura. Orang yang melakukan riya tidak bertujuan mendapat ganjaran dari Allah. ia berbuat hanya sekedar untuk mendapat pujian dari orang lain. apa yang didapat dari perbuatannya itu lebih rendah dari yang semestinya dia dapatkan dari Allah.
Riya timbul karena kurangnya kesadaran akan ganjaran dan pahala besar yang dijanjikan Allah. ia berusaha menutupi keburukan/kesalahan yang dilakukannya, seperti:
– Untuk menghilangkan dirinya dari tuduhan tidak beragama atau tidak beribadah.
– Untuk menarik perhatian, penghormatan dan pujian masyarakat.
Agama memandang pelaku-pelaku riya tetap dinilai sebagai Muslim, hanya apa yang dilakukannya tidak diridhoi Allah.
Firman Allah:
ْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. an-Nisa’: 142).
C. Aniaya
Aniaya atau zalim artinya melakukan perbuatan yang perbuatan yang melewati batas terhadap jiwa, harta atau kehormatan orang lain. Barangsiapa yang membunuh seseorang, memukul, mencaci, melaknat, atau menyakitinya dengan sesuatu apapun termasuk perbuatan zalim. Seseorang yang menguasakan perbuatan zalimnya kepada orang lain, atau membantu orang lain berbuat zalim termasuk orang yang zalim pula.
Dalil mengenai haramnya zalim, balasan atau siksa Allah terhadap orang-orang zalim dan kisah orang-orang zalim banyak dikemukakan di dalam al-Qur’an dan hadits.
…..وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ.
Artinya: ….Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun”. (QS. al-Hajj: 71).
وَعَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقُوْ الظُّلْمَ فَاِنَ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ
Artinya: “Diterima dari Jabir ra bahwa Nabi SAW. bersabda: “Takutilah kezaliman itu sebab sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat”. (HR. Muslim).
Bentuk perbuatan zalim bermacam-macam diantaranya mengambil harta orang lain atau mencari alasan untuk mengambil harta orang lain tanpa hak, baik harta itu kecil maupun besar. Menciptakan aib bagi orang lain atau menuduhnya berbuat fahssya (berbuat dosa), menuduh fasik, menuduh berzina atau memandang buruk kenal bebas dari kejelekan dan tidak memperlihatkan perbuatan-perbuatan dosa, menyuruh orang lain berbuat dosa.
Memeras tenaga pekerja tanpa memberikan upah yang sesuai dengan haknya. Dan mengutamakan upah seorang pekerja dari yang lain padahal keduanya mempunyai pekerjaan yang sama.

D. Diskriminasi
Diskriminasi adalah bersikap membeda-bedakan atau memisahkan antara sesama manusia, baik karena perbedaan derajat, suku, bangsa, warna kulit, jenis kelamin, usia, golongan, ideologi dan sebagainya.
Sikap seperti ini sangat dilarang oleh agama, karena hal ini akan menjadikan manusia terkotak-kotak pada golongannya sendiri dan tidak mau bersatu untuk tolong menolong.
وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ . مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Artinya: “Dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (QS. ar-Rum: 31-32).
Diskriminasi memunculkan sikap apatis yang menumbuhkan kehancuran tatanan masyarakat, bisa dibayangkan kehancuran yang akan timbul jika ada segolongan orang yang tidak mau membebaskan diri dari sikap apatis dan kesukuan
E. Menghindari Akhlak Tercela
“Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai waktu subuh dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada bukul-bukulnya dan dari kejahatan orang dengki apabila dia dengki”. (QS. al-Falaq: 1-5).
Jika penyakit hati berusaha merasuki hendak dia berdo’a dan berusaha menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat membuatnya memiliki sifat-sifat kotor tersebut dengan cara merelakan segala ketentuan Allah dan dengan menyesali diri hingga dapat menyenangi kebaikan diri sendiri, merasa takut pada pertemuan dengan Allah dan pertanyaan-pertanyaan Allah kepadanya. Memiliki keinginan besar untuk menyelamatkan jiwa dari siksaan Allah, senantiasa zikir kepada Allah, merendah kepada Allah dengan ikhlas dan bear sehingga hatinya penuh dengan nur Illahi dan dadanya lega menerima kebaikan setiap hamba Allah. Jika tidak mampu, hijrahlah dari tempat yang penuh perbuatan jelek dan dari sahabat yang membangkitkan sebab-sebab timbulnya penyakit itu di dalam jiwanya. Allah lah yang mengurus hidayah dan taufik.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s