Mengajar menyenangkan dengan 3K


Mengajar adalah mentranfer ilmu dari satu orang kepada orang lain. Rutinitas ini adalah adalah pekerjaan guru sehari-hari. Sehingga kalau kita tidak pandai memaksimalkan diri terkadang bisa membuat jenuh, tidak jarang kalau guru sudah puluhan tahun mengajar, produktifitasnya menurun, walaupun tidak sedikit yang semakin tua semakin bagus mengajarnya.
Ada juga anggapan dikarenakan mengajar sudah menjadi hal yang biasa, ada diantara guru kurang mempersiapkannya secara maksimal, sehingga tujuan yang ingin di capai kurang berhasil dengan baik. Pikirin ini harus di buang jauh-jauh dikarenakan anak yang kita hadapi setiap tahunnya berbeda, mereka mempunyai talent yang sangat berbeda satu dengan yang lainya. Oleh karena itu satu metode, atau satu model pembelajaran tidak bisa digunakan untuk terus menerus, disini diperlukan guru yang inovatif, kreatif dan variatif.
Supaya mengajar tidak menjenuhkan maka seorang guru harus mengetahui 3K, yaitu :
K yang pertama adalah kuasai materi / bahan yang kita ajarkan kepada peserta didik . Disini membaca lagi bahan-bahan atau reperensi menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawr-tawar lagi. Di bawah ini saya tuliskan cara membaca yang baik menurut bobbi de porter dalam bukunya quantum learning.

Keadaan mental dan fisik Anda merupakan kunci-kunci penting untuk menjadi pembaca istimewa. Luangkan waktu beberapa saat sebelum sesi membaca untuk menyesuaikan keadaan fisik dan mental Anda. Ini disebut “mempesiapkan diri”, dan ini dapat menggandakan kecepatan membaca Anda secara langsung. Cobalah kebiasaan yang sederhana ini sebelum memulai.
a. Minimalkan Gangguan
Mulailah dengan mencari tempat yang tenang dan damai untuk membaca.

b. Duduklah dengan sikap tegak

Adalah kenyataan bahwa kursi para presiden perusahaan yang sangat berkuasa rusak bagian tepi depannya pertama kali. Ratakan telapak kaki Anda diatas lantai dan bkalah buku Anda di atas meja atau bangku dihadapan Anda.
c. Luangkan waktu beberapa saat untuk menenangkan pikiran Anda
Tutuplah mata Anda, tarik napas panjang, dan biarkan diri Anda relaks sambil membayangkan suatu tempat yang tenang. Pusatkan pikiran Anda pada tempat itu. Sambil tetap memejamkan mata, biarkan mata Anda bergerak keatas di balik pelupuk mata Anda yang tertutup selama beberapa saat sambil Anda melihat, mendengar, dan merasakan tempat itu. Ketika Anda membuka mata, sadarilah betapa santainya keadaan Anda. Lihatlah keatas, kemudian gerakkan mata Anda kearah buku dan mulailah membaca.
d. Gunakanlah jari Anda atau alat penunjuk lainnya
Karena mata Anda secara alamiah mengikuti benda yang bergerak, maka akan membantu bila ada penunjuk yang dapat diikuti saat mata bergerak ke bagian bawah halaman.
e. Melihat sekilas lebih dahulu bacaan Anda
Sebelum membaca, lihatlah sekilas bahan bacaan Anda. Periksalah daftar isi, judul-judul bab, huruf-huruf yang dicetak tebal atau dicetak miring, grafik dan gambar-gambar, dan segalanya yang tampak menonjol. Dengan sediit persiapan ini, Anda akan tahu apa yang dapat diharapkan dan pikiran Anda akan mendapatkan gagasan-gagasan baik dari gagasan-gagasan yang akan diberikan
K yang kedua adalah kuasai teknologi, seorang guru pada saat sekarang ini suka tidak suka harus menguasai teknologi. Zaman yang menglobal ini membuat ilmu pengetahuan sangat mudah di akses sehingga sering terjadi dalam penguasan teknologi peserta didik kita lebih menguasai ketimbang guru, oleh karena itu seorang guru harus menguasai teknologi pada saat sekarang ini.
Inilah manfaat guru jika menguasai Teknologi :
• Perluasan Kesempatan Pendidikan
• Meningkatkan Efisiensi
• Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
• Meningkatkan Kualitas Pengajaran
• Formulasi dan Fasilitasi Keterampilan
• Mempertahankan “Lifelong Learning” (Belajar Seumur Hidup)
• Meningkatkan Perencanaan dan Manajemen Kebijakan
• Memajukan Hubungan Masyaraka
K yang ketiga adalah kuasai kelas, seorang guru apabila tidak ingin jenuh dalam mengajar maka ia harus mengusai kelas, sehingga dia bersemangat masuk kelas dan kehadirannya sangat ditunggu-tunggu oeh peserta didiknya.

Untuk dapat menguasai situasi kelas yang baik bukanlah suatu hal yang mudah bagi seorang guru. Perlu berbagai cara dan metode yang harus dilaksanakan. Bahkan ada yang telah menggunakan metode Personal Communication sampai Team Communication. Tetapi ada juga yang menggunakan metode Personal Approach, yaitu metode yang mengadakan pendektan diri pada anak didiknya melalui sikap interaksi langsung antarindividu dan mereka juga harus mengevaluasi dirinya untuk melakukan aktivitas yang sesuai dengan apa yang diinginkan anak didiknya. Hal itu akan berjalan baik tergantung pada interaksi yang dilakukannya.
Namun ada satu metode sederhana yang bisa dilakukan pendidik atau guru dalam menguasai situasi kelas, yaitu Metode Tiga S. Metode Tiga S meliputi:

Pertama, S berarti Serius. Seorang pendidik atau guru harus mampu menciptakan gaya atau suasana dalam ruangan kelas belajarnya yang dapat menimbulkan perhatian anak didiknya untuk serius memperhatikan dan menerima pelajaran yang disampaikannya secara baik. Keseriusan disini bukanlah membuat anak didiknya tegang dan bertambah ribut, seperti takut melihat wajah gurunya. Tetapi keseriusan di sini membuat anak didiknya energik dan bersemangat. Karena itu, semampunya guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman, segar, mengenakkan, dan fresh untuk anak didiknya dalam proses belajar mengajar dengan tidak mengabaikan keseriusan itu. Suasana belajar seperti itu bisa diciptakan oleh guru dengan sikapnya seperti perhatian terhadap setiap anak didiknya, murah senyum yang menunjukkan keramahannya, tidak mudah marah, menghormati anak didiknya, menghargai setiap anak didiknya, sabar, dan bersuara lemah lembut dan berirama yang teratur dalam menyampaikan materi pelajaran yang merupakan modal utama yang mahal untuk kesuksesan dalam pentransferan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya. Selain itu guru harus mampu menghindarkan dirinya dari hal-hal berikut ini yang menyebabkan keharmonisan situasi kelas menjadi terganggu. Hal-hal tersebut yaitu, guru mudah marah atau lekas marah, suka membentak-bentak, suka menghina atau mencerca anak didiknya, mengatakannya bodoh selalu, merendahkan martabat diri anak didiknya, mengkritik anak didiknya terlalu berlebihan melebihi batas standar norma yang berlaku dalam pembelajaran dan guru suka sekali membeberkan kesalahan-kesalahan anak didiknya melampaui batas. Ha-hal yang baik-baik harus betul-betul disadari oleh guru dan guru tersebut dapat menerapkannya serta terus berusaha menghindari hal-hal jelek tersebut dalam pembelajaran demi menciptakan situasi kelas yang akan disenangi anak didiknya. Hal-hal yang tersebut di atas merupakan cerminan dari kepribadian guru yang matang dalam pembelajaran dan tidak ruginya kalau guru memilikinya.
Kedua, S yang berarti Santai. Santai di sini bukanlah berarti guru memberikan kebebasan pada anak didiknya untuk melakukan kegiatan dalam proses belajar mengajar sesantai-santainya sehingga melupakan tujuan yang telah dirumuskan atau melanggar batas norma yang telah ditetapkan. Bukan berarti guru memberikan kebebasan pada anak didiknya untuk melanggar hak asasi manusia. Bukan itu. Santai di sini maksudnya adalah guru mampu membuat anak didiknya menjadi santai dan rileks, tidak takut dan tegang dalam menerima pelajaran yang disampaikan guru tersebut. Hal itu bisa ditunjukkan oleh seorang guru kepada anak didiknya dengan menunjukkan gaya yang tidak mengekang, tetapi dengan gaya guru yang santai dan bersahaja, bersahabat, interaktif, simpatik, dan komunikatif. Bisa juga santai di sini berarti guru harus mampu menyelingi kegiatan belajar mengajarnya dengan seloroh atau humor (sense of humor). Humor ini bisa diciptakan seorang guru lewat permainan kata-kata atau kata plesetan, dan dari gerak tubuh guru yang menciptakan kelucuan. Menciptakan humor tidak semua guru mampu melakukannnya. Tetapi kalau guru mau mencoba, bisa saja humor tersebut dimilikinya. Bisa dia belajar melalui buku-buku humor atau belajar sendiri menciptakan humor dan bisa melalui teman sejawat. Menciptakan humor bagi seorang guru dalam menyelingi pelajaran yang disampaikan sangatlah perlu. Karena humor dapat dimanfaatkan sebagai penetralisasi ketegangan urat syaraf berpikir anak didiknya menjadi segar dan normal seperti sediakala. Jika urat syaraf berpikir anak didiknya normal, segar, dan fresh maka akan terciptalah keinginan anak didiknya yang bersemangat dalam menerima pelajaran yang disampaikan guru tersebut.
Ketiga, S yang berarti Selesai. Rentetan ini adalah rentetan terakhir dari Metode Tiga S yang sederhana ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam pentransferan ilmu pengetahuan yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar akan menuju pada suatu stasiun pencapaian terakhirnya, yaitu selesai. Selesai di sini merupakan hasil yang harus diperoleh dari proses belajar mengajar yang dilakukannya. Tentu hasil belajar mengajar ini diperolehnya sesuai dengan apa yang diinginkan atau diharapkan oleh tujuan pembelajaran yang disampaikan oleh guru tersebut.

Akhirnya, Metode Tiga S ini memiliki proses penerapannya secara berkesinambungan antara bagian yang satu dengan bagiannya yang lain. Mereka itu saling berkaitan dengan tidak bisa dipisah-pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Maka dari itu sekiranya ada guru yang ingin menerapkan Metode Tiga S dalam lingkungan belajar mengajar demi menciptakan situasi kelas yang nyaman untuk anak didiknya maka guru itu harus mampu menerapkan Metode Tiga S secara berurutan dari awal sampai akhirnya dan jangan sampai menghilangkan salah satu bagian komponen Metode Tiga S itu. Di samping itu, dengan adanya Metode Tiga S yang sederhana ini mudah-mudahan dapat membuka cakrawala berpikir guru agar lebih giat dan aktif untuk mencari dan menemukan metode dan teknik menguasai situasi kelas yang lebih baik dari Metode Tiga S ini demi sebuah tujuan, yaitu memajukan pendidikan yang lebih baik di masa yang akan datang.
Jadi seorang guru akan senantiasa senang berada dikelas apabila ia kehadirannya ditunggu-tunggu oleh peserta didik, dan peserta didik hanya menunggu guru yang mengusai materi, menguasai teknologi dan yang bisa menguasai kelas. Kalau sudah seperti ini kelas bukan lagi bagian dari neraka baik bagi peserta didik maupun bagi guru.
Mari kita terus belajar untuk tercipta generasi yang cemerlang, generasi cerdas, generasi melek tenologi dan tentunya generasi yang berakhlakul karimah, bernahagilah kita menjadi guru Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s