HIBURAN HATI


Sekuat manapun jiwa, fikiran dan fisik seorang manusia, ada waktunya akan goyah juga oleh ujian hidup. Manusia tetap lemah, ia memerlukan istirahat dan ketenangan. Bukan hanya istirahat badan, tetapi istirahat jiwa dan fikiran. Bayangkan jika badan dibanting terus menerus ‘digempur’ dengan kerja keras, apa jadinya ?

Begitu jugalah manusia kalau dihentak oleh ujian hidup tanpa adanya hiburan. Jiwa resah dan pikiran bisa kusut. Seseorang akan jadi tidak tenang, dapat dengan mudah terpercik keresahan dan kemarahan. Hal ini justru akan bisa mengundang perpecahan antar manusia. Manusia melakukan berbagai cara untuk menghibur dirinya. Tetapi kerap ditemui bahwa hiburan yang ditemui adalah hiburan yang bersifat semu dan palsu.

Kita perlu mengetahui arti hiburan sejati. Jika tidak, hati bukan semakin senang tetapi semakin susah. Akibatnya terjadilah kekosongan, ketegangan dan kebosanan jiwa. Inilah yang banyak dialami oleh manusia zaman moden ini -hiburan semakin pesat dan maju, tetapi orang yang ‘sakit jiwa’ ternyata semakin bertambah pula.

Hiburan sejati bertumpu di hati. Inilah hiburan yang hakiki. Ia sesuai dengan fitrah manusia tanpa menimbulkan efek samping yang negatif. Hiburan sejati menjadi obat bagi diri sendiri. Kesembuhannya awet dan berkepanjangan. Sifatnya menenangkan dan membahagiakan dan mengacu pada kenyataan yang ada. Sekiranya ada masalah, hiburan sejati akan menyelesaikannya bukan malah menambah masalah.

Sebaliknya hiburan palsu berdiri pada nafsu. Ia bertentangan dengan fitrah manusia. Sifatnya bukan saja tidak menyelesaikan masalah tetapi akan menambah masalah yang sudah ada. Efek sampingnya (negatif) sangat banyak. Ia melalaikan dan mempesona untuk sementara. Namun seketika itu pula, kesusahan akan datang kembali. Ia berlandaskan pada fantasi, angan-angan dan khayalan.

Kita mesti dapat membedakan antara hiburan dengan perkara yang melalaikan. Misalnya sejam kita menghibur diri dengan hiburan yang melalaikan, kita akan lupa pada masalah yang sedang kita hadapi saat itu tetapi setelah itu, yakni setelah kembali ke alam realita, masalah akan datang kembali. Malah kadangkala lebih parah dari sebelumnya. Betapa banyak manusia yang masih gelisah walaupun sering menghibur diri dengan apa yang dikatakan ‘hiburan’ termasuk para penghibur.

Di dunia sekarang ini, para penghiburlah justru manusia yang paling tidak terhibur. Tanpa perlu membuat kajian dan penyelidikan pun, kita dapat menyebutkan nama para penghibur-khususnya artis-artis Barat-yang terlibat dengan obat-obatan, krisis rumahtangga, AIDS, sakit jiwa dan bahkan bunuh diri. Aneh, seharusnya penghibur adalah orang yang paling terhibur karena merekalah yang menghiburkan orang lain dengan lakonan, nyanyian lawak jenaka dan tariannya tetapi rupa-rupanya mereka terkadang penderita sakit jiwa !

Hiburan sejati berangkat dari hati yang tenang. Syarat bagi ketenangan hati ialah kebutuhan asasinya terpenuhi. Kebutuhan asasi bagi hati ialah iman. Firman Allah : ” Ketahuilah olehmu bahwa dengan mengingat Allah itu hati menjadi tenang.” (Ar Ra’d:28) Orang yang beriman akan mendapat kepuasan dengan hiburan yang bertumpu pada hati. Artinya, jika hati benar-benar disuburkan dengan iman, ia akan terhibur dari dalam.

Manusia yang benar-benar beriman dan kemudian menjadi orang yang bertaqwa (amin), cukup dengan hiburan yang datang dari dalam hatinya sendiri. Hiburan yang datang dari dalam ini, kalau diumpamakan air telaga, ia adalah air yang berasal dari mata air, bukan tertumpah dari luar. Air mata air lebih jernih, suci dan enak dari air yang lain. Begitulah hiburan yang datang dari hati, ia lebih membahagiakan, lebih kekal dan lebih indah dari hiburan-hiburan yang berasal dari luar.

Oleh itu orang yang beriman akan mendapat hiburan dengan :

1. Berhubung dengan Allah
2. Bergaul dengan manusia
3. Berinteraksi dengan alam ciptaan Allah
4. Melaksanakan perintah Allah
5. Menerima segala ketentuan dari Allah

1. Berhubungan dengan Allah
Hanya dengan sembahyang misalnya, hati orang bertaqwa sudah terhibur. Sabda Rasulullah SAW : ” Sejuk mataku di dunia dengan solat.” Kadang-kadang dengan mendengar azan, hati sudah terhibur. Rasulullah SAW pernah bersabda : ” Wahai Bilal tenangkan kami dengan azanmu. ” hati para mutaqqin terhibur dengan sembahyang karena mereka terasa seolah-olah sedang berisik-bisik, bermesra, mengadu dan merintih dengan kekasih hatinya. Ah, siapa yang tidak terhibur kalau sudah bertemu kekasih?

2. Melaksanakan perintah Allah
Apabila melaksanakan perintah Allah, mereka terhibur karena merasakan perintah itu datang dari kekasihnya. Kalau yang menyuruh kekasih, apa lagi yang ingin disusahkan? Kalau sudah cinta, lautan api pun sanggup dilayari. Mereka merasa nyaman dengan ibadah. Orang yang tidak tahu menyangka mereka menderita, tetapi mereka sebenarnya bahagia. Contohnya, bukankah perintah hijrah itu sangat melelahkan, tetapi sejarah telah membuktikan betapa gembiranya hati sahabat Abu Bakar bila diajak berhijrah oleh Rasulullah SAW.

3. Bergaul dengan manusia
Orang yang telah mendapat hiburan sejati, tenang sikapnya. Oleh itu bila bergaul dengan manusia, mereka terhibur dan menghiburkan. Pancaran kasih sayang pada wajah, sikap dan tutur katanya menyenangkan. Bagi orang beriman, kasih sayang dalam pergaulan memberi hiburan yang sangat bernilai. Dia menyayangi dan rasa disayangi. Orang yang mendapat hiburan sejati tidak emosional atau cepat marah. Bahkanjika terusik pun dia mampu tertawa dan tersenyum. Begitulah yang berlakupada diri para Rasul, Nabi, Waliyullah dan orang-orang soleh. Mereka boleh bersabar dengan pelbagai ragam dan kerenah manusia. Bila bersalah, mudah meminta maaf ; bila orang bersalah mudah pula memaafkan. Dia banyak memberi, sedikit menerima.Sebaliknya, manusia yang tidak mendapat hiburan sejati menjadi seorang pemarah, pendendam, emosional, murung dan kesepian. Mereka tidak terhibur dan tidak dapat menghibur. Dalam pergaulan, mereka selalu menyakiti orang lain karena merasa mendapat ‘hiburan’ dengan melepaskan keresahan yang terpendam dalam hatinya. Ini akan menambahkan masalah karena orang yang merasa disakiti akan berusaha membalas. Dari sudut psikologi, orang yang suka menyakiti tidak tahan kalau dia disakiti.

4. Menerima ketentuan hidup dari Allah
Orang mukmin juga rasa terhibur dengan warna kehidupan yang dicorakkan oleh Allah. Hatinya senantiasa berprasangka baik kepada Allah, sehingga membuatnya tidak pernah resah. Diberi nikmat dan rasa terhibur, lalu syukur. Diberi kesusahan, mereka terhibur lalu sabar. Bila sakit, terasa keampunan. Hanya badan yang sakit, tetapi hati tetap kuat dan sehat. Bila sehat, terasa disirami rahmat. Bila Allah uji mereka dengan kegagalan, kemiskinan dan penderitaan, hati tetap berjaya, kaya dan bahagia. Mereka yakin firman Allah : ” Celupan Allah, manakah yang lebih baik celupannya dari Allah. ” ( Al Baqarah : 38 )

5. Melihat ciptaan Allah
Orang yang beriman juga akan terhibur hanya dengan melihat alam ciptaan Allah. Timbul rasa tenang, gembira dan bahagia melihat pantai-pantai yang bersih, bukit bukau yang menghijau, laut yang berombak, langit yang biru dan air sungai mengalir jernih. Melihat, mendengar dan berfikir tentang keindahan-keindahan itu sudah cukup bagi merasai keindahan Penciptanya. Mereka inilah yang dapat menikmati maksud sabda Rasulullah SAW : ” Sesungguhnya Allah itu indah. Dia sukakan keindahan. ” ( Riwayat Muslim, At Tarmidzi, At Thabrani )

Sebaliknya bagi mereka yang tidak beriman atau lemah imannya, memerlukan hiburan sampingan yang sangat banyak. Walaupun sudah bermacam-macam jenis hiburan yang dinikmati tetapi hidup rasanya masih menjemukan. Mereka tidak pernah puas karena apa yang dinikmati hanyalah hiburan palsu – yakni umpama air laut yang semakin diminum, semakin haus. Maka berpindahlah mereka dari satu lagu ke lagu lainnya, dari satu tarian ke tarian yang lain, dari satu film ke film berikutnya, dari satu model baju ke model baju lainnya. Mereka terhibur seketika tetapi kemudian resah kembali. Jika iman telah disuburkan dalam hati, manusia tidak memerlukan lagi hiburan-hiburan lain yang banyak seperti sekarang ini. Sudah cukuplah berhibur dengan membaca Al Quran, mendengarkan nasyid, lagu-lagu tanpa muzik yang melalaikan, shalawat dan ibadah-ibadah yang lain. Semua itu sudah cukup memuaskan hati. Hal ini samalah ibarat orang yang sudah kenyang memakan makanan yang pokok, nasi atau roti, maka apa perlunya lagi ‘junk food’ yang tidak berzi dan mengenyangkan itu ?

Namun ini tidak berarti orang beriman menolak langsung hiburan-hiburan dari luar mentah-mentah. Bagi mereka, hiburan lain itu boleh saja sebagai tambahan asalkan sesuai dengan syariat. Kedudukan hiburan lain bagi orang beriman umpama sambal atau pada hidangan utama. Memakan nasi dengan sambal dan ulam akan menambah selera. Alunan ayat suci Al Quran, nasyid yang mengagungkan Allah, selawat yang memuji Nabi dan orang-orang soleh, lagu yang menyuburkan semangat jihad, puisi yang menumbuhkan rasa kehambaan kepada Tuhan, pasti akan semakin menyuburkan lagi iman-sumber hiburan utama di dalam hati orang yang beriman.

Inilah garis pemisah antara hiburan sejati yang dinikmati oleh orang beriman dengan hiburan palsu yang melalaikan orang yang tidak beriman. Inilah hakikat yang masih belum meluas di mata masyarakat. Masih banyak yang menganggap jika Islam dihayati dan diamalkan, akan murunglah kehidupan. Tidak ada cerianya lagi karena kata mereka, Islam menolak hiburan.

Tapi kini sudah terjawab bahwa Allah SWT telah menyediakan satu hiburan yang sejati kepada para hambaNya. Hiburan yang dapat dirasakan di dunia lagi sebelum hambaNya itu menikmati hiburan yang hakiki di syurga yang abadi. Sesungguhnya, tidak ada hiburan tanpa iman! Amien!

Sumber Google.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s