IMAN KEPADA ALLAH (LANJUTAN)


Sesungguhnya keimanan yang tinggi serta ibadah tasbih dan dzikir kepada Allah saja tidak cukup. Tapi masih harus disertai dengan ketaatan dan menjalankan perintah Allah. Jika kita tidak taat dan tidak mau menjalankan perintah Allah, maka kita termasuk golongan orang yang kafir.

Sebagai contoh: Iblis. Keimanan Iblis sangat tinggi. Dia sangat yakin akan keberadaan dan keesaan Allah karena dia pernah berdialog langsung dengan Allah. Dia juga rajin bertasbih dan berdzikir kepada Allah bersama kumpulan para Malaikat. Namun karena dia tidak mau menjalankan satu perintah Allah, yaitu sujud kepada Adam, maka Iblis menjadi orang yang kafir dan dikutuk oleh Allah:

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [Al Baqarah:34]

Keengganan Iblis menjalankan perintah Allah karena dalam diri Iblis ada kesombongan. Dia merasa lebih baik daripada Adam:

“Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”.” [Al Hijr:33-35]

Akibatnya Iblis menjadi makhluk yang terkutuk.

Jika Iblis yang hanya menolak satu perintah Allah saja menjadi kafir dan terkutuk, berapa banyak ummat Islam yang menolak mentaati banyak perintah Allah dengan sengaja dan berusaha menghalangi ummat Islam lainnya menjalankan perintah/hukum Allah?

Dalam surat Al Maa-idah kita diperintahkan untuk menjalankan hukum Allah yang ada di kitab Sucinya seperti Qishash:

Al Maa-idah:

[5.44] Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

[5.45] Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim.

Mengapa orang-orang Yahudi dimurkai Allah? Karena mereka tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah.

Ummat Nasrani juga dinyatakan sesat dalam surat Al Fatihah karena mereka tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah:

”Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [Al Maa-idah:46-47]

Kemudian ketika Allah menurunkan Al Qur’an, adakah kita akan memutuskan perkara menurut Al Qur’an, atau kita mengikuti hawa nafsu manusia?

Ada yang tertarik dengan ideologi Komunis/Sosialis kemudian membuat paham ”Islam Kiri.” Padahal Islam sebagai agama yang sempurna sudah mengajarkan kita untuk membantu dan menolong fakir miskin tanpa membatasi kemampuan seseorang untuk bekerja atau berproduksi. Meski Komunisme telah gagal di Uni Soviet di mana mayoritas rakyat tetap miskin dan sering antre makanan sementara para pejabatnya justru hidup mewah di dacha-dacha mereka, namun tetap ada sebagian ummat Islam yang mengikuti paham Komunis/Sosialis.

Ada lagi yang tertarik dengan paham Liberalisme/Kapitalisme Amerika Serikat hingga akhirnya melabeli Islam dengan ”Liberal” menjadi Islam Liberal. Padahal paham Liberal/Kapitalisme akhirnya mengakibatkan para pemilik modal meraup untung sebesar-besarnya dan menindas buruh/karyawan mereka dengan menekan upah mereka sekecil mungkin. Para pemilik uang juga dengan bebas mengambil kekayaan alam negara-negara di seluruh dunia seperti minyak, gas, emas, tembaga, dan sebagainya untuk sebesar-besarnya masuk ke kantong pribadi mereka.

Padahal dalam Al Qur’an kita dilarang untuk mengikuti hawa nafsu manusia:

”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” [Al Maa-idah:48-49]

Hukum manakah yang lebih baik? Hukum buatan Allah atau buatan makluk Allah yaitu Manusia? Iblis terkutuk karena merasa lebih baik daripada Adam. Adakah kita merasa bahwa hukum buatan manusia lebih baik daripada hukum Allah?

„Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” [Al Maa-idah:50]

Agar ummat Islam dapat menjalankan Hukum Allah, Allah melarang orang-orang yang beriman mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani untuk menjadi pemimpin. Ini masuk akal. Siapa sih di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mau menjalankan Hukum Allah? Siapa di antara orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mau menjalankan Syariat Islam atau berjuang untuk mendirikan Negara Islam? Tidak ada bukan? Justru mereka berusaha menghalangi penegakkan syariat Islam atau pendirian Negara Islam sekuat mungkin. Mereka hanya boleh jadi pemimpin kelompok mereka sendiri:

„Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al Maa-idah:51]

Ummat Islam meski mayoritas saat ini tidak bisa menjalankan hukum Allah. Para penentang hukum Allah berpendapat bahwa negara kita ini kan majemuk/plural. Jadi tidak bisa hukum Islam dijalankan. Padahal zaman Nabi orang-orang kafir, Yahudi, dan Nasrani juga sudah ada. Toh mereka tetap bisa menjalankan hukum Islam:

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi.” [Al Maa-idah:52-53]

Karena itulah Allah memerintahkan ummat Islam untuk bersatu dengan orang-orang yang beriman. Karena hanya mereka inilah yang mau menjalankan hukum Allah:

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).

Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” [Al Maa-idah:54-56]

Ada pun orang-orang yang mengejek Islam dengan berbagai perkataan jelek seperti ekstrim, teroris, kuno, dan sebagainya, haram bagi kita untuk mengangkatnya sebagai pemimpin:

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [Al Maa-idah:57]

Sekali lagi ummat Islam hendaknya tidak berpuas diri. Shalat, puasa, zakat, haji, serta zikir saja tidak cukup. Tapi kita harus menjalankan semua perintah Allah karena ini adalah perwujudan dari rukun Islam pertama, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadah tersebut bukan hanya sekedar di bibir saja, tapi mensyaratkan ketaatan kita pada segala perintah Allah sebagai Tuhan kita dan Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Kita tidak bisa beriman kepada sebagian ayat dan kafir pada sebagian ayat lainnya karena menganggap ada ayat Al Qur’an yang sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang:

”Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” [Al Baqarah:85]

Semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini

http://media-islam.or.id/2008/02/26/mentaati-dan-menjalankan-perintah-allah/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s